
Happy reading
.
.
Mereka sudah sampai di rumah yang Gara maksud, mobilnya sudah terparkir di depan sana "Alfan tidak ikut" kata Alfan saat Gara hendak keluar dari mobil.
"Yaudah kamu tunggu Papa di mobil saja" ucap Gara.
Manda ikut turun dan masuk "Ini kunci rumah nya" ucap Gara menyerahkan sebuah kunci pada Manda setelah mengambil koper nya.
"Makasih ya mas, tapi aku sedikit takut sendirian disini" kata Manda sedikit merengek pada Gara.
"Di daerah ini lumayan banyak orang, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya pergi" pamit Gara.
"Mas" Manda menahan tangan Gara untuk tidak meninggalkan nya "Gak mau" ucapnya seraya menggeleng, ia memeluk lengan Gara.
"Mas aku sedang hamil loh, masa mas tega ninggalin aku sendiri di sini" ujar Manda memelas, Gara mengerutkan keningnya bingung melihat Manda. Ia merasa seakan-akan ia membuang istrinya yang tengah hamil saja.
"Saya hanya kasihan pada bayi yang ada di kandungan kamu sekarang ini, dan sudah saya bilang kalau saya sudah mendapatkan rumah kamu baru pindah dari rumah saya sebelum saya bawa kamu ke rumah saya" jelas Gara membuat hati Manda entah mengapa ada sangat perih.
"Enggak mas" Manda menggelengkan kepalanya dan memeluk lengan Gara lebih erat lagi.
Di mobil Alfan geram saat melihat Manda menahan tangan Gara dan memeluk lengan nya itu. Dengan segera ia keluar dari mobil dan menyusul mereka "Lepas" Ia menghempaskan tangan Manda dari lengan Gara.
"Tanya apa-apa sih tante meluk Papa Alfan segala" ujar Alfan kesal dengan Manda.
Manda menunduk sedih "Alfan" Alfan menoleh pada Gara "Papa mau membela nya? Papa suka di peluk sama tante Manda? Iya begitu?" tanya Alfan berturut turut menatap tajam Gara.
"Bukan seperti itu, Papa cuma ngingetin kalau tante Manda itu sedang hamil kalau anaknya apa-apa karena kamu kasar bagaimana?" Alfan mendengus mendengar nya.
"Yaudah, sudah kan? Ayo pulang Mama pasti tungguin kita di rumah" tanpa menunggu balasan Gara ia menarik tangan Papa nya untuk pergi dari sana dan Gara pun pasrah di tarik seperti itu.
"Mas, mas Gara" panggil Manda.
"Masuk Papa" ujar Alfan, Gara yang tidak mau menambahkan masalah dan berdebat pun masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya pergi dari sana.
"Papa seharusnya jaga diri dong jadi laki-laki, untung Mama gak ada. Bagaimana kalau Mama ada dan melihat itu coba" omel Alfan pada Gara yang mengemudi seraya menyilang kan tangan nya di depan dada.
"Iya-iya maaf Papa salah" kata Gara mengalah.
"Iya, emang Papa yang salah" ucap Alfan dan memilih diam. Gara menghela nafas dan kembali fokus mengemudi.
Manda terdiam menatap mobil Gara hingga benar-benar tidak terlihat, menghela nafas sejenak dan membuka rumah yang akan menjadi tempat tinggal untuk sementara, ya sementara karena ia bertekad akan kembali ke rumah Alya.
"Lumayan sih" gumamnya menelusuri ruangan yang ada disana.
"Lebih baik istirahat aja dulu, besok kita baru lanjut membuat rencana nya" ucap nya dan masuk ke kamar.
***
"Bagaimana mas?" tanya Alya seraya menuangkan air untuk Gara.
"Gak gimana-gimana kok sayang" jawab Gara menerima air tersebut dan meneguknya hingga tandas.
"Sekarang giliran siapa yang cuci piring nya?" tanya Gara pada anak-anak nya.
"Giliran bang Argan, bang Arsan dan Arkan sendiri" jawab Arkan, mereka bertiga karena ada yang cuci, ada yang membilas dan ada yang melap bersih dan menaruhnya di tempat semula.
"Udah gak papa, kali ini biar Mama yang beresin" ucap Alya menuangkan juga air untuk anak-anak nya.
"Papa benar Mama, biar kami saja"
"Baiklah, makasih ya sayang"
"Ayo sayang" Gara menarik tangan Alya dan membawa keluar di ruang tengah kebiasaan mereka setelah makan malam akan berkumpul di sana.
"Mau ngemil gak mas?" tanya Alya yang menyender di dada Gara.
"Gak perlu sayang kamu disini aja" kata Gara memeluk pinggang Alya.
Alfan datang dan tiba-tiba duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya menggantikan Gara memeluk Alya dengan manja "Mama" cicit nya.
Gara menghela nafas, sepertinya putranya itu masih marah padanya. Gara mengelus kepala Alfan dan mengecup kening singkat "Masih kesal sama Papa hem" bisik Gara, Alfan tidak menjawab ia semakin mengeratkan pelukannya pada Alya.
"Alfan kenapa lagi Ma Pa" tanya Rangga datang dan duduk di sofa singel di samping Alya.
"Gak ada" bukan Gara dan Alya yang menjawab, melainkan Alfan nya sendiri.
"Kenapa sih sayang, sini cerita sama Mama" Alya mengangkat wajah Alfan dan menagkup nya.
Alfan menggeleng "Alfan cuma senang karena tante Manda akhirnya pergi dari rumah ini" ucap Alfan dan kembali memeluk sang Mama, Alya tersenyum mengelus kepala Alfan dengan sayang.
"Iya" jawab nya seadanya, Rangga mengangguk paham lalu fokus menonton.
"Mas bagaimana keadaan mbak Manda?" tanya Alya pelan takut mengganggu Alfan yang tidur di pangkuannya, kalau putra nya lain pamit ke kamar mengerjakan PR mereka.
"Baik kok sayang, cuma mas heran aja pas mas antar dia di rumah baru nya" ujar Gara yang memang tidak pernah menyembunyikan apapun dari istri tercintanya kalau masalah yang seperti itu.
"Emang mbak Manda kenapa mas?" tanya Alya.
"Gak tau kenapa juga sayang, tapi dia gak mau di ditinggalkan sendirian kita nya" tukas Gara, Alya pun nampak bingung memikirkan nya. Kepada mbak Manda tidak bilang padanya sebelum pergi?.
"Terus mas bilang apa?" tanya Alya, Gara mengelus kepala Alfan dengan lembut "Mas bilang kalau di daerah sana tuh rame jadi dia gak perlu takut, dan gak lama Alfan datang dan minta pulang" jawab nya jujur.
"Kasian ya mas mbak Manda nya, ia hamil besar tapi suaminya malah mengusir nya dari rumah, jahat banget jadi laki-laki ia pikir mudah apa kalau hamil tanpa suami" ujar Alya sedih.
Gara mengingat masa lalu, hati sakit mengingat itu "Maaf sayang" ucap Gara pada Alya "Maaf untuk apa mas?" tanya Alya.
"Pasti sangat sulit ya saat kamu mengandung anak kita tanpa di dampingi oleh keluarga" ucap Gara seduh, Alya tersenyum lalu tangannya berpindah mengelus rahang Gara.
"Kalau dibilang sulit ya... emang itu sudah menjadi kodratnya seorang wanita, tapi Alya sana sekali tidak pernah menyesalinya Alya malah sangat bersyukur karena hal itu Alya mendapatkan putra-putra seperti mereka" Alya memandang wajah Alfan yang sangat damai tidur di pangkuannya.
"Dan itu yang sangat mas sesali sayang, mas sudah merusak hidup kamu dan mas juga tidak ada di sisi kamu menjaga anak-anak kita. Mas tidak melihat anak kita tumbuh dan berkembang hingga mereka sebesar sekarang" ucap Gara.
Alya tersenyum lalu menghapus air mata suaminya "Sekarang mas bisa melihat mereka tumbuh dan berkembang, dan mas jangan menghilangkan kesempatan ini" kata Alya, Gara mengangguk lalu memeluk Alya "Mas Gara adalah Papa terbaik untuk anak-anak" bisik Alya membuat Gara semakin mengeratkan pelukannya
"Makasih sayang" bisik nya
Tbc.
Like dan komen!
see u next part....
Karena author mau ujian jadi author bakal gak up untuk beberapa hari kedepan, minta doanya nya ya semoga dilancarkan ujiannya 😊
^^^Mawar Jk^^^