
...Happy reading...
.......
.......
Alya baru saja pulang dari perusahaan nya, hari ini ia hanya pergi mengecek dan juga melihat lihat sebelum ia benar-benar menjadi CEO di sana. Alya sangat takjub, perusahaan itu meningkat dengan pesat bahkan perusahaan nya sudah di tambah beberapa bangunan lagi
"Anak anak mungkin sudah pulang" gumam ya lalu pergi dari sana dengan mobil nya, cukup beberapa menit saja Alya sudah sampai di toko nya
"Mama baru pulang?" tanya Afkan yang menunggu Alya di luar "Iya sayang maaf ya Mama telat, ko Afkan diluar? yang lain mana?" tanya Alya "Afkan tungguin Mama dan yang lain ada di dalam ko, ayo ma" Afkan mengajak Alya untuk segera masuk, tapi sebelum itu ia mengambil makanan yang sudah tadi ia masak sebelum ke kantor, mungkin sudah dingin makanya ia menyuruh karyawan nya untuk memanaskan nya sebelum ia ke sini tadi
"Assalamualaikum anak anak Mama" salam Alya memasuki ruangan pribadi nya yang ada di toko kue nya "Waalaikumsalam Mama" jawab mereka serempak
Alya tersenyum lalu duduk di karpet "Ini makanlah, maaf ya Mama telat" ucap Alya "Enggak ko, kita juga baru baru aja pulang nya" ucap Argan "Ya bang Argan benar ma" timpal Alfan
"Yaudah ayo makan kalian pasti sudah lapar" Alya mengisikan piring keenam putra nya dengan makanan yang ia sudah siapkan untuk mereka
"Makasih Mama" ucap mereka setelah Alya mengisikan piring mereka "Sama sama sayangnya Mama, makan yang banyak ya" mereka mengangguk mantap lalu melahap makanan nya hingga tak tersisa
"Sudah?" tanya Alya "Iya ma" jawab mereka
"Baiklah, Mama titip toko dulu ya, Mama mau ke tante Aira dulu" pamit Alya, mereka yang sedang duduk dengan kaki yang di luruskan pun menoleh "Tante Aira kenapa?" tanya Arkan dengan nada khawatir
"Tante kalian gak papa ko, tante Aira ngidam mau di beliin rujak sama Mama yang ada di ujung gang tempat kerja nya" jelas Alya
"Jauh banget ma" kata Rangga "Gak papa Mama pergi ya assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Ting
Pintu toko kembali terbuka menampakkan seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian formal nya "Permisi apa pemilik toko ada?" tanya nya pada salah satu karyawan
"Maaf pak, ibu baru saja keluar tadi" ucap nya, sedangkan lima 'A' dan Rangga yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya "Apa dia mengenal Mama?" itulah kira kira pikiran mereka, Argan mendekati pria tersebut "Permisi om, om ada keperluan apa ya sama Mama saya" tanya Argan sopan, siapa tahu ada hal penting yang ingin dia bicarakan kan Argan bisa memberitahukan Mama nya nanti
"Mama?" beo pria itu menatap Argan "Ya" ujar Argan datar "Ternyata sudah punya ada toh" batin Hendri, ia menatap Argan begitu lekat sedangkan Argan nya sendiri hanya menampakkan wajah datarnya
"Ada yang mau om sampaikan? biar Argan yang sampaikan saat Mama sudah pulang" ucap Argan lagi "Tidak ada, lain kali om kesini lagi kalau Mama kamu ada" ucap pria tersebut, Argan mengangkat sebelah alisnya
"Kenapa Bang?" tanya Alfan menghampiri mereka bersama yang lain "Kalian temannya Argan ya" ucap pria itu "Bukan teman tapi saudara" ralat Alfan membuat pria itu lagi lagi menatap mereka semua secara lekat
"Kami kembar lima" lanjut Arkan seakan tahu pikiran pria yang ada dihadapannya "B..baiklah perkenalkan nama om Hendri, om temannya Mama kalian" ujar Hendri, yeah pria itu adalah Hendri
"Nama kalian siapa kalau om boleh tau" tanya Hendri "Saya Alfan om" ujar Alfan
"Saya Arkan om"
"Saya Afkan
"Arsan" ucap Arsan singkat, entahlah ia tidak suka dengan Hendri itu apalagi saat dia memperkenalkan diri nya sebagai teman Mama nya tadi Arsan hanya menatap Hendri dengan datar
"Baiklah boy salam kenal"
"Om Hendri ko rada mirip sama Rangga ya" bisik Alfan pada Arsan yang ada di samping nya. Meskipun Alfan berbisik tapi Rangga dapat mendengar nya dengan baik, Rangga menatap wajah Hendri dan benar saja mereka ada kemiripan tapi kenapa bisa? entahlah Rangga juga tidak tahu
Rangga mengangkat bahu acuh menepis jauh jauh pikiran nya itu. "Jadi tidak ada yang ingin om sampaikan?" tanya Argan, Hendri tersenyum hendak mengelus kepala Argan tapi Argan mundur satu langkah sehingga Hendri tidak dapat menggapai nya
"Maaf om, saya tidak suka kalau ada yang memegang kepala saya" ucap Argan "Ah baiklah" "Kalian bilang aja sama Mama kalian kalau om tadi berkunjung" pesan Hendri "kalau begitu om pamit ya" Hendri menatap Rangga sejenak, sedang sang empunya hanya diam seribu bahasa dan setelah itu Hendri benar benar pergi dari sana
"Ayo" ajak Argan dan berjalan menuju ruang pribadi Alya, yang lainnya pun ikut dari belakang
"Ada yang mau ke Gana?" tanya Arkan memecah keheningan diantara mereka "Lo mau pergi?" tanya Rangga "Ya gue ada latihan tambahan" jawab Arkan
"Gue juga ada latihan tambahan" ujar Rangga, Arkan menganggukkan kepalanya "Yang lain?" tanya Arkan lagi, yang lain pun menggelengkan kepalanya
"Baiklah gue sama Rangga ke Gana dulu, ayo" Arkan dan Rangga punya pergi meninggalkan mereka yang lagi lagi hening, karena gabut Alfan pun memainkan tab punya Alya yang ada di meja kerja nya. Karena Afkan juga gabut ia bergabung bersama Alfan sedangkan Argan dan Arsan hanya diam, entah apa yang mereka pikirkan
Disisi lain Hendri terus memikirkan salah satu anak yang tadinya mereka bertemu di toko nya Alya "Kenapa anak itu mirip denganku waktu masih seumuran dengannya" gumam nya seraya membandingkan dirinya waktu kecil dengan Rangga
"Dari mata, bibir, hidung, alis..." Hendri mengingat ingat wajah Rangga "Risa" gumam nya, ia mengingatkan hari itu, hari dimana Risa meminta dirinya untuk mempertanggung jawabkan kehamilan nya dan Hendri tidak ingin bertanggung jawab karena dulu saat ia melakukannya ia memakai pengaman sehingga ia tidak percaya dengan apa yang dulu Risa katakan
"Apa jangan-jangan..."
"Tapi gak mungkin"
"Tapi bagaimana kalau anak itu beneran anakku?....tapi waktu itu gue pake akhhh..." Hendri menjambak rambut nya sendiri, masalah seperti ini saja membuat diri nya sakit kepala saja
"Gue harus memastikan nya dulu, ia benar" ucap nya mantap dan mengambil hp nya dari balik jas nya
"Halo" Hendri menelpon tangan kanan nya untuk mencari tahu tentang Risa dan juga Rangga. Setelah semuanya terungkap baru dia akan bertindak lagi, ia berharap ini hanya kebetulan tapi kalau ini nyatanya bagaimana?
"Saya tunggu sampai besok" ucap Hendri dan mematikan telpon nya
"Ah sudahlah besok juga akan terungkap, sekarang mendingan ke kantor saja" gumamnya kembali dan kembali melajukan mobilnya membelah kota
Bersambung.
Like Komen dan Vote nya jangan lupa yaaa
sampai jumpa di part selanjutnya 😘👋
^^^Mawar Jk^^^