
Happy reading
Alya sudah dipindahkan di ruang inap bersama Alfan, mereka semua berkumpul disana menunggu anak dan itu itu siuman.
Tok tok tok
Aira berdiri untuk melihat siapa yang yang datang "Nyonya Ini ada pesanan nyonya Diana, saya di suruh untuk membawa nya kesini" ucap wanita itu pada Aira.
"Ibu Diana ada didalam, saya terima ya" Aira mengambil paper bag itu dari wanita yang ada di depannya "Kalau begitu saya permisi nyonya" pamit wanita pergi, Aira pun masuk tak lupa ia menutup pintu nya.
"Bu, ini tadi perempuan yang bawa katanya pesanan ibu" ucap Aira mendekati Diana yang duduk di sofa, lalu Diana menyimpan paper bag itu di atas meja.
"Iya, ini pakaian ganti untuk anak-anak" jawab Diana mengambil paper bag itu memeriksa nya.
"Sayang, ini ada pakaian baru buat kalian. Kalian ganti baju dulu ya" kata Diana pada ke empat cucu nya, Arsan sudah ganti baju tadi bersama Gara gara hujan-hujanan sedangkan yang lain belum.
"Ayo sayang ganti baju dulu ya" lanjut Diana.
Argan lebih dulu berdiri mengambil satu set pakaian yang sudah Diana keluarkan tadi, di susul oleh Rangga dan lainnya.
"Kok Alfan belum siuman juga ya pa" ucap Diana menatap seduh cucu nya yang masih berbaring lemah di atas brankar.
"Kita sabar aja ma, sebentar lagi Alfan pasti sadar" ujar Fahmi mengelus punggung istri nya.
"Sayang aku keluar pergi beli makanan dulu ya, kak Gara sama anak-anak pasti belum makan" kata Raka pelan pada Aira.
"Yaampu sayang, aku lupa! Yaudah kamu pergi beli gih sekalian buat Ibu sama Ayah" ucap Aira, Raka mengangguk lalu keluar dari sana.
Tak lama kemudian Argan sudah selesai mengganti pakaian di di susul oleh saudara yang lain. Terdengar lenguhan dari Alfan membuka mereka semua lantas menatap nya.
Mereka langsung berdiri menghampiri Alfan yang sudah membuka matanya secara perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk di pengelihatannya.
"Alfan sayang" Aira mengelus kepala Alfan.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak" ucap Diana memegang tangan Alfan.
"Alfan kenapa?" tanya Alfan yang tidak mengerti ada dengan nya.
"Kamu tadi pingsan sayang, sudah tidak perlu di pikirkan istirahat aja biar kamu enggak lemas lagi" jawab Diana.
"Benarkah kata Oma, kamu istirahat aja" kata Arkan, Alfan mengangguk pasrah karena memang dia sangat lemas.
Seakan teringat dengan sesuatu, Alfan yang tadi nya menutup matanya kembali membuka matanya "Mama! Mama dimana?" tanya Alfan histeris langsung bangun membuat yang lain sedikit terkejut.
Gara memegang tangan Gara yang menghampiri nya "Pa, Mama dimana pa?" tanah Alfan menggoyangkan tangan Gara yang di pegang nya.
"Mama ada di samping kamu Alfan" jawab Gara, Alfan langsung berbalik dan melihat Mama nya yang terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus.
"Mama" lirih Alfan, ia ingin turun dari brankar nya tapi segera di tahan oleh Gara. Alfan memberontak saat Gara kembali menidurkan nya di brankar.
"Alfan mau sama Mama pa, lepas" teriak Alfan yang terus memberontak seraya menatap Alya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, kamu boleh sama Mama tapi setelah kamu makan" Alfan diam mengatur nafasnya yang tidak beraturan, Gara mengambil makanan yang tadi di berikan oleh suster untuk pasien.
"Assalamualaikum" salam Raka datang membawa beberapa kantor yang berisi makanan.
"Say dari beli makanan" ucap Raka menyimpan makanan yang ia beli di atas meja.
"Sayang ayo sini makan" ajak Diana pada Argan, Afkan, Arsan, Arkan dan Rangga. Kelima nya menurut tanpa menyahut, mereka semua turun duduk di karpet bulu yang ada disan.
"Makan sayang" ucap Diana setelah membuka semua makanan itu mempersilahkan kelima anak itu untuk makan.
Gara menyuapi Alfan dengan talenta, Alfan pun menerima suapan Gara dengan tenang mata nya terus tertuju pada Alya masih belum siuman juga sampai sekarang.
“Kapan Mama akan sadar pa?” tanya Alfan setelah makannya ia habiskan.
“Tidak akan lama lagi, ayo minun dulu” Gara memberikan minum pada Alfan.
“Papa juga makan” ucap Arkan, ia dan saudara nya udah selesai. Ia menarik tangan Gara untuk duduk dan memberikan nya makanan yang tidak ia sentuh tadi, mereka menyimpan nya untuk Papa nya karena tau kalau Papa nya juga belum makan.
Diana dan Fahmi tersenyum melihat itu, Gara lantas berdoa dan mulai memakan makanan nya. Mereka kembali hening hingga suara lenguhan Alya membuat mereka yang tadi nya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing langsung menghampiri brankar Alya, bahkan Gara yang tadi nya makan langsung meninggalkan makannya dan berlari menghampiri nya.
Alfan pun yang tadi nya berbaring langsung bangun menghampiri Alya, Argan dengan sigap merangkul adinya agar tidak terjatuh karena tubuhnya yang masih lemas.
“Kak Alya”
“Mama”
“Sayang”
Pelan tapi pasti, Alya membuka matanya menatap mereka semua yang mengerumuninya “Sayang” panggil Gara karena Alya belum bersuara dan hanya menatap mereka dengan diam.
“Ma, ada yang sakit?” tanya Arkan, lagi dan lagi Alya hanya dia tidak menyahut.
“Mama..” rengek Alfan takut terjadi apa-apa dengan Mama nya, matanya kembali berkaca-kaca siap jatuh. Afkan dengan cepat memeriksa denyut nadi Alya karena juga khawatir.
“Panggil kan doket cepat!” ucap Diana, Raka langsung berlari keluar memanggil dokter. Mereka semua lupa jika ada tombol khusus yang dimana jika ia tekan tidak akan lama lagi sang dokter akan datang.Tapi karena panik mereka semua melupakannya.
Rangga memberikan ruang untuk Alfan memeriksa Alya, Alfan terlihat begitu profesional memerika keadaan Mama nya “Ma, berbicaralah” bisik Alfan di telingan Alya, entah mengapa Alya tiba-tiba kehilangan kata-kata nya.
Setelah mendengar bisikan dari Alfan Alya seakan baru kembali sadar “Mama tidak apa-apa sayang” ucap Alya membuat mereka sedikit mengehela nafas, Alya bisa merespn nya dengan baik.
Dokter datang bersama Raka, "Permisi, saya akan memeriksa pasien" mereka langsung mundur memberi ruang ada sang dokter untuk memeriksa keadaan Alya.
"Alhamdulillah, kondisi pasien sudah jauh lebih baik. Kami akan memantau kembali kondisinya untuk beberapa hari ini" jelas dokter itu.
"Tapi tadi waktu Kakak saya sadar, dia tidak merespon kami itu kenapa ya dokter?" tanya Aira.
"Itu biasa terjadi, anda tidak perlu khawatir dengan itu. Pasien sekarang sudah dalam kondisi baik tapi tolong jangan membuat pasien banyak pilihan hingga stress"
"Baik dokter"
"Kalau begitu saya permisi" sang dokter pamit undur diri.
"Mama benar-benar gak ada yang sakit?" tanya Alfan.
"Enggak ada sayang, Mama sekarang sudah baik-baik saya" ucap Alya mengulas senyum manisnya, meskipun ia masih sedikit pucat.
"Owh iya aku ingin bertanya" ucap Alya lagi. Gara mendekat dan menggenggam tangan istrinya.
"Mau tanya apa sayang, hem?" tanya Gara.
"Apa aku benar-benar hamil mas?" pertanyaan Alya membuat yang lain terdiam, mereka tidak tau akan menjawab apa, takut membuat Alya drop apa saja ia baru saja siuman.
"Sayang-" Gara tidak melanjutkan ucapannya, hal itu membuat Alya penasaran "Kenapa? aku benar-benar hamil atau tidak?" tanya Alya lagi mendesak Gara untuk menjawab nya.
"Kenapa kalian tidak menjawab nya, Aira?" kini Alya bertanya pada sang Adik. Aira langsung menyembunyikan wajahnya di dekapan Raka, ia tidak sanggup melihat kakaknya seperti itu.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Alya lagi.
Tbc.