
Happy reading
.
Seorang wanita dan juga ke lima anak nya sedang duduk santai di ruang tengah, ke-lima anak itu terlihat sangat tenang menonton sebuah siaran tv yang di sukai anak-anak.
Mereka adalah Alya sendiri dan juga ke lima putranya, lima 'A'.
Mereka sangat fokus melihat seorang anak yang di ajak bermain oleh ayahnya di sebuah taman bermain, entah mengapa mereka sedikit iri dengan anak tersebut.
"Mama apa Alfan juga punya Papa?" tanya Alfan kecil pada Alya.
Deg.
Alya yang tadinya menonton masak-masak di handphone nya lantas mendongak dan menatap putra bungsu nya itu.
"Alfan punya Papa kok, kalian punya Papa." kata Alya mengulas senyum nya.
"Telus Papa mana Mama?" tanya Arkan kecil dengan cadel yang masih belum bisa menyebut 'R', saat itu umur mereka baru menginjak 4 tahun-an.
"Papa sekarang lagi kerja, cari uang untuk kalian, nanti kalau Papa sudah pulang Papa pasti bawa banyak mainan untuk kalian, kalian suka mainin bukan?"
"Yaa!" seru Arkan dan Alfan bersamaan.
"Nanti Papa juga bisa mengajak kalian jalan-jalan seperti yang di tv itu."
"Wahh, benarkah Mama?" tanya Alfan takjub.
"Iya."
"Jadi kapan Papa pulang Mama?" tanya Arkan lagi, Alya mengelus kepala sang anak dengan lembut "Nanti, kalian sabar aja ya sayang." Alfan dan Arkan mengangguk lalu kembali menonton.
Alya menatap putra seduh, tanpa Alya sadari ketiga putranya yang lain terus memperhatikan gerak-gerik nya.
"Tapi kenapa lama sekali Mama? Dan kenapa Papa tidak pulang meskipun hanya satu kali saja? Apa Papa sudah tidak menyayangi kita?" tanya Afkan membuat Alya menahan isak tangis nya.
"Sayang. Hiks hiks...." Alya sudah tidak tahan menahan tangisnya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Alfan berdiri untuk menghapus air mata sang Mama, Alya segera memeluk putranya itu.
"Maaf Mama." ujar Afkan ikut berdiri dan memeluk Mama nya "Maaf Mama, Afkan janji gak akan bertanya soal Papa lagi, Afkan janji! Afkan gak suka liat Mama menagis" kata Afkan kecil.
Alya semakin terisak dan memeluk putranya dengan erat "Itu bukan salah kamu, itu bukan salah kalian. Ini salah Mama, maafkan Mama nak."
"Enggak, ini bukan salah Mama, tapi ini salah Papa!" bantah Arsan, matanya mengkilat marah memancarkan kebencian, ia sungguh tidak suka melihat Mama nya menitihkan air seperti itu!
Aku akan melindungi Mama dari orang jahat di luar sana.
Mereka berlima memeluk Alya bersama-sama "Kalian jangan tinggalkan Mama ya sayang." kata Alya.
"Enggak akan!" seru Argan.
"Memang nya kita akan kemana Mama, sampai-sampai mau meninggalkan Mama di sini." ujar Alfan polos.
Alya tersenyum lalu mengusap wajah Alfan, ia mengecup kelima putranya secara bergantian lalu kembali memeluk nya.
"Udah, Mama udah gak nangis lagi." Alya mengurai pelukan nya lalu menghapus jejak air matanya, ia tersenyum manis pada putra-putra nya.
"Sekarang kita makan buah ya sayang, tunggu sebentar Mama ambilkan di dalam." meskipun saat itu Alya masih kekurangan keuangan, tapi ia selalu menyediakan makanan sehat dan bernutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan putra-putra nya.
Agar nantinya putra-putra nya bisa menjadi orang hebat di masa depan, membanggakan keluarga nya.
Ia selalu mengutamakan kesehatan adik dan putra-putra nya, dia tidak ingin melihat seorang yang di sayangi nya kekurangan, Ia terus berusaha kerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Tbc.
40 like, besok aku doubel up untuk kalian.