My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 97



Happy reading


Gara tidak ikut bersama anak-anaknya di ruangan komputer nya, ia tetap duduk di sofa ruang tengah dengan sebuah tab. Gara sedang memeriksa email yang masuk ia hanya perlu memeriksa semuanya dan menyerahkan lagi pada asistennya.


Di dalam ruangan itu Argan, Afkan dan Arkan berdiri di belakang Arsan yang berhadapan dengan komputer itu. Mereka terus mental layar pada komputer itu dengan Arsan yang terus mengetik dan mencari sesuatu.


"Wah mereka bersembunyi jauh juga" ujar Arkan saat melihat Arsan dengan mudah mendapatkan lokasi Manda dan Dila sekarang.


Informasi yang anak buah Gara berikan membuat Arsan lebih mudah lagi mendeteksi keberadaan mereka berdua keempat anak itu menyeringai secara bersamaan.


"Ayo kit kesana!" seru Arkan.


"Sudah lama kita tidak mengeluarkan tenaga kita" ucap Afkan.


"Yeah, seperti akan seru" timpal Argan.


"Mari bermain" ujar Arsan.


Keempat nya keluar dari sana setelah memindahkan data-data yang mereka temukan tadi di tab milik Afkan.


"Papa" panggil Arkan menghapiri Gara yang masih terlihat sibuk dengan tab nya.


"Hm, apakah kalian sudah menemukannya?" tanya Gara tanpa melihat putra-putra nya.


"Ya" jawab Arsan.


"Baiklah, kita berangkat sekarang?" tanya Gara pada mereka.


"Tentu saja" jawab Regan mewakili.


Ayah dan anak itu naik di lantai tiga yang ternyata sudah ada helikopter di atas sana "Kita akan menggunakan ini, ayo masuk" ucap Gara.


Mata Arkan berbinar melihat helikopter itu, dengan semangat ia yang pertama mendekat "Apakah Arkan bisa duduk di depan?" tanya Arkan pada Gara dengan mata berbinar.


"Tentu boy" jawab Gara membuat Arkan memekik kegirangan, ia naik di depan bersama dengan seorang yang akan membawa mereka terbang ke lokasi Manda dan Dila.


Mereka sudah siap semua, sang pilot pun mulai menyalakan mesin. Angin langsung berhembus kencang dan helikopter itu pun mulai terbang.


Mereka semua mendarat dengan selamat hingga pada lapangan yang lumayan luas yang ada di sana, mereka semua turun dari helikopter "Ayah lain kali kita harus naik helikopter lagi!" seru Arkan.


Gara mengelus rambut putra lalu mengangguk "Yes!" saudara nya yang lain tersenyum tipis melihat itu.


"Ayo naik ke mobil, kita akan langsung ke sana" titah Gara.


Mobil yang mereka tumpangi melesat dari sana, memasuki perkampungan dengan jalannya yang tidak mulus karena banyak bebatuan di sana. Hingga mereka sampai di sebuah rumah yang terlihat sederhana.


Gara dan putra-putra nya turun dari mobil dan berdiri di depan rumah itu itu. Mereka masuk ke sana dan ternyata ada banyak penjaga.


"Arsan berhenti" kata Gara saat Arsan langsung menerobos para penjaga itu.


"Berhenti di sana anak kecil!" teriak para penjaga itu pada Arsan yang sudah masuk ke dalam rumah.


Di dalam sana Arsan kembali di tahan oleh anak buah Dila "Berhenti di sana!" ucap nya.


"Jangan menghalangi ku atau kalian akan menyesal" ujar Arsan tersenyum miring, bukan nya takut ia malah menantang pria dewasa itu.


"Saya suka keberanian mu anak muda" ujar salah satu dari mereka dan melayang kan pukulan nya pada Arsan. Dan dengan mudah Arsan menghindari nya.


"Hanya itu?" tanya Arsan meremehkan mereka.


"Sial*n" mereka semua emosi dan melawan Arsan bersama-sama, Arsan tersenyum tipis sebelum melawan mereka.


Di luar sana Gara dan yang lain melawan para penjaga, Afkan mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya ia membidik penjaga itu.


Bruk


Satu penjaga yang melawan Arkan tidak sadarkan diri di susul dengan para penjaga lainnya yang terjatuh di tanah "Buang-buang waktu saja" ujar Afkan memasukkan kembali pistol nya di dalam saku jaketnya.


"Wahh kapan Abang membuat nya?" tanya Arkan pada Afkan.


"Bukan saat nya menanyakan itu Arkan" ujar Afkan berlalu masuk ke dalam rumah itu, Arkan memajukan bib*rnya cemberut.


Di dalam sana Dila yang baru bangun dari tidurnya, Dila mengerutkan keningnya mendengar suara bisingnya di luar sana Dila pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu.


Setelah selesai Dila pun keluar dari kamarnya "Kenapa sih berisik banget dari tadi" ucap Dila menggerutuk.


Dila berjalan menuju ruang tamu di mana suara bising itu terdengar, sampai nya di sana mata Dila terbelalak melihat Gara, Argan, Afkan Arsan dan Arkan tersenyum miring menatap nya.


Dila mundur satu langkah saat melihat anak buah sudah jatuh tak berdaya di lantai "Sial kenapa mereka cepat sekali menemukan ku, Manda sedang keluar lagi sekarang" batin Dila.


Warna bola matanya Arsan langsung berubah saat melihat Dila "Pembalasan" suara bisikan itu kembali terdengar di telinga Arsan.


Dila lantas berlari kedalam menuju pintu belakang rumah itu, Dila terus berlari dan berhenti karena tiba-tiba Arkan dan Argan sudah berada di hadapannya. Dila berbalik dan melihat Afkan dan Arsan berdiri menyeringai membuat Dila sedikit merinding melihat nya.


"Si*lan" decak Dila karena dia sudah di kepung.


"Kau sudah tidak bisa lari lagi" ujar Gara tersenyum miring.


"Si*lan kau Gara!" teriak Dila marah.


"Kau yang sialan! ck sebaiknya kau tidak cerewet dan tutup saja mulut mu itu sebelum aku menjahitnya" ujar Arkan.


"Ck bocah" decak Dila memutar bola matanya malas.


"Aku ingin bermain tante" ujar Arsan mendekati Dila, Dila menatap was-was pada Arsan ia kenal dengan anak ini yang tidak bermain-main dengan ucapan nya.


Arsan mengeluarkan pisau lipat kesayangan dari saku saku celananya, ia tersenyum miring dan sudah berdiri tetap di hadapan Dila "Saatnya bermain" ujar nya sebelum menggoreskan pisau itu pada tangan Dila.


"Akhh" ringis Dila memegang tangan nya sudah mengeluarkan darah.


Bruk


Mereka menoleh mendengar suara benda jatuh. Di saja Manda berdiri terpaku melihat mereka, di bawah sana satu kantong plastik terjauh dengan buah apel yang keluar dari sana.


Manda mundur dua langkah menatap mereka was-was ia memegang perut nya karena terasa sedikit kram "Hai tante Manda" sapa Arkan tersenyum manis, tapi itu tidak terlihat manis oleh Manda tapi senyum itu terlihat sangat menyeramkan.


"K-kalian" setelah mengatakan itu Manda berbalik berlari meninggalkan mereka, Gara dan yang lain hanya membiarkan nya kemana juga Manda bisa berlari dengan keadaan hamil besar seperti itu.


"Woy Manda berani banget lo ninggalin gue!" teriak Dila memanggil Manda yang sudah ada di luar pagar.


Manda ingin menyeberang tapi ia langsung terkejut saat melihat seorang pemuda yang membawa motor nya dengan kecepatan tinggi.


Pip pip


Suara klakson mobil anak pemuda itu "Aaaa" bukannya menghindar Manda malah berteriak, kakinya terasa berat untuk pergi ke pinggir dan lanjut motor pemuda membuat sangat cepat.


Bugh


Brak


Manda tertabrak dan tergeletak dengan darah di sekujur tubuhnya, pemuda pemilik motor itu pun juga terluka dan tidak sadarkan diri.


"Tolong anakku" lirih Manda sebelum kesadaran nya habis.


"Astaga" gumam Dila melihat itu.


Afkan menembak Dila dengan ponsel rancangan nya membuat Dila tidak sadarkan diri dan terjatuh di tanah, Seorang yang kenapa oleh tembakan nya maka ia kan tidak sadarkan diri selama beberapa jam, Afkan menyiapkan untuk berjaga-jaga saja dan ternyata itu sangat berguna. Dulu ia hanya iseng-iseng saat membuatnya, Gara dan yang lain keluar melihat Manda dan pemuda desa itu.


"Bawa mereka sekarang di rumah sakit terdekat" titah Gara pada anak buahnya. Mereka membawa Manda dan pemuda desa itu kedalam mobil.


"Biarkan saja Manda begitu!" protes Arkan.


"Perempuan itu memang bersalah tapi anak yang di kandung nya tidak bersalah sama sekali Arkan" ujar Argan membuat Arkan berdecak kesal.


"Ayo, kita akan pulang" Afkan menarik tangan Arkan untuk menyusul Ayah dan saudara nya yang lain.


"Kau nanti bisa puas membalas semua nya pada Dila nanti" bisik Argan melihat Arkan dengan muka di tekuk.


Tbc.