
Happy reading
.
.
Pagi harinya Alya sudah sudah baikan, karena sedang halangan ia tidak bangun pagi-pagi malah jadi telat bangun. Dengan cepat ia masuk ke kamar mandi dan segera turun kebawah, ia belum menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.
"Maaf sayang Mama telat bangun" kata Alya, disana ia melihat Manda yang sudah menyajikan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Melihat Mamanya sudah datang Alfan mendorong kedepan piring yang berisi masakan Manda.
"Ma, Alfan mau makan roti aja" ujar Alfan pada Alya, Alya tersenyum lalu mengambil kan roti dan mengoleskan selai coklat kesukaan Alfan, Alfan memang lebih sering makan roti dari pada nasi saat sarapan, karena ia seorang model jadi dia harus menjadi makanan.
"Arkan juga Mama" seru Arkan sedikit merengek pada Alya, ia juga mendorong piring kedepan.
"Terus siapa yang makan masakan tante Manda kalau kalian mau makan roti semua" kata Alya pada putranya yang masih mengoleskan selai coklat pada roti kedua untuk Alfan.
"Mau nya roti selai coklat Mama" rengek Arkan berdiri dari duduknya dan duduk di kursi di sisi Alya.
"Yasudah duduk dulu" kata Alya pasrah membuatkan roti buat Arkan juga, ia melihat suaminya dan putranya nya lain diam "Makan mas nanti tekat loh" ucap Alya, Gara sebenarnya ingin makan masakan sang istri saja tapi ia tak enak pada Manda yang sudah repot membuat sarapan.
Argan mengambil roti dan mengoleskan selai kacang kesukaannya lalu memakannya, begitupun dengan Afkan, Arsan dan Rangga mereka mengambil roti dan mengoleskan selai kesukaan mereka sendiri.
Melihat itu Manda merasa kesal sendiri, dibawah sana tangan terkepal erat tapi ia tetap mempertahankan senyumnya.
"Mas dimakan ya" kata Manda lembut pada Gara, Gara menghela nafas lalu mengangguk kaku dan memakan masakan Manda.
***
Alya merasa heran, kenapa putra-putra nya cepat sekali pulang hari? Dan mereka selalu berada di sini Alya kemana pun Alya pergi, padahal Alya masih di rumah seakan-akan dirinya ada yang mengincar nya saja yang selalu diikuti oleh mereka.
"Al boleh tolong buatkan susu buat mbak ya" pinta Manda pada Alya yang duduk di kelilingi oleh keenam putra nya. Keenam nya menoleh pada Manda, menatapnya tajam dengan aura mencekam membuat Manda dengan susah payah menelan ludah sendiri.
Alya tidak menyadari hal itu, ia tersenyum "Tunggu ya mbak" ucap Alya, saat ia hendak berdiri tangannya di tahan oleh Arkan.
"Mama sudah banyak melakukan pekerjaan hari ini, Mama pasti capek kan? Mama istirahat saja" ujar Rangga, Alya mengangkat alis nya bingung.
"Mama gak capek kok, tunggu sebentar ya Mama mau buatkan tante Manda susu" Arkan menggeleng dan tetap memegang tangan Alya.
"Tante Manda kan sudah besar, bisa buat susu sendiri, kenapa harus menyuruh Mama yang buatkan" ujar Alfan pada Manda.
"Tante kan lagi hamil sayang" kata Manda lembut mencoba untuk mengambil hati Alfan.
"Gak usah panggil Alfan sayang kita bukan siapa-siapa, Mama bukan pembantu jadi tante jangan seenaknya menyuruh Mama apapun itu" lanjut Alfan kesal dengan nafas memburu.
"Hey sayang jangan begitu, tante Manda itu lebih tua dari kalian gak boleh menaikkan suara sayang" nasehat Alya mengusap lembut pipi Alfan.
"Alfan gak suka Mama di suruh suruh sama tante Manda Mama" kata Alfan, ia langsung masuk kedekapan Alya "Gak mau" suara nya terendam di dekapan sang Mama.
Alya menenangkan putra nya dan merasa tidak enak pada Manda "Tidak apa Al, mbak bisa membuat nya sendiri" kata Manda lalu berlari di tempat duduk berjalan menuju dapur.
"Hiks hiks ..." Alya menunduk melihat putra bungsu nya yang sudah menangis "Hei kenapa menagis sih sayang, Alfan kenapa hem?" tanya Alya lembut.
"Cengeng dia ma" ujar Rangga di hadiah kan sebuah pukulan dari Alfan nya sendiri.
"Iya sayang, sebelum Papa dapat rumah untuk tante Manda maka tante Manda akan tinggal untuk sementara" jelas Alya, Alfan mengangguk ia menghapus air matanya dengan kasar lalu mengecup kedua pipi Alya
"Gue gak mau keluar dari rumah ini, gue harus cari cara agar tetap tinggal di rumah ini sekalipun harus menyingkirkan mereka" gumam Manda menatap lurus Air yang di masaknya.
"Tapi yang pertama gue harus mengambil hati anak-anak itu deh, di lihat dari tadi pagi mereka lebih berkuasa di hati mas Gara. Jika aku bisa mendapatkan hati mereka otomatis mas Gara pun dengan mudah aku dapatkan"
"Akhh kau memang sangat pintar Manda" puji nya pada dirinya sendiri.
***
"POKOKNYA ALFAN GAK MAU TAU, TANTE MANDA HARU PERGI DARI RUMAH KITA PAPA" teriak Alfan marah dengan mata yang berkaca-kaca menatap Gara yang berada di depannya. Alfan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Manda memperlakukan ya Mama nya layaknya seorang pembantu dan Alya tidak menyadari itu, terdengar bodoh memang, karena memang pada dasarnya Alya orang nya itu sangat senang membantu orang yang sedang kesusahan jadinya ia hanya biasa saja, tapi tidak dengan putranya itu.
"Alfan suaranya" ujar Argan dengan wajah datar nya memperingati sang adik.
Gara menghela nafas "Asisten Papa sedang mencarikan rumah yang cocok untuk tante Manda, jadi kamu sabar ya sayang" ucap nya memberi pengertian pada sang anak.
"Kenapa begitu lama? Langsung cari dan ambil kenapa harus cari yang cocok dulu? Cocok tidak cocok biarkan saja dia tinggal disana" protes Alfan.
"Alfan gan suka liat tante Manda seakan-akan dia yang paling berkuasa di rumah, Alfan gak suka liat tante Manda menyuruh Mama ini dan itu. ALFAN GAK SUKA"
"ALFAN" teriak Gara membuat mereka semua tersentak kaget, ini pertama kalinya Papa nya berteriak seperti itu padanya.
Mereka semua dengan cepat merubah keterkejutannya dengan wajah datar "Maaf Papa kelepasan, Papa cuma gak mau kamu gak sopan pada yang lebih tua sayang" jelas Gara lembut.
"Papa bisa kelepasan pada kami, tapi jika Papa kelepasan seperti itu pada Mama jangan harap Papa bisa bertemu dengan Mama lagi" tekan Argan dingin menatap tajam Papa nya, biarkanlah ia di cap tidak sopan. Dia tidak suka perubahan Papa nya setelah mengenal wanita itu.
"Maafkan Papa ok" sesal Gara
"Papa yang salah" lanjut Gara
"Memang Papa yang salah" timpal Arkan ketus
"Argan tidak mau hanya karena perempuan itu hubungan kita berubah Pa, Papa yang membawa nya masuk ke rumah dan Papa sendiri yang harus mengeluarkan nya dari rumah juga" ucap Argan, tanpa menatap Gara. Ia menatap adiknya Alfan yang berada di pelukan Afkan.
Arsan yang sendari tadi diam hanya menatap mereka semua dengan datar "Arsan tidak mau bicara banyak, Arsan hanya akan bertindak jika perempuan itu keterlaluan, Papa tau kan apa yang akan Arsan lakukan" kata Arsan.
"Ya Papa tau, sekarang ayo kita pulang saja. Mama pasti sudah khawatir mencari kalian" ucap Gara mengajak mereka untuk pulang, karena mereka semua sekarang berada di kantor Gara lebih tepatnya di ruangan Gara.
"Ayo"
"Ingat, lupakan soal masalah tadi buat seakan akan itu tidak pernah terjadi. Kalau tidak Mama akan kepikiran dan itu tidak baik untuk kesehatan nya" ucap Afkan.
"Ya kami tau" balas Rangga
Tbc.
Like dan komen ...
see u next part
^^^Mawar Jk^^^