My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 93



Happy reading


Satu jam lebih lamanya mereka sudah menunggu, tapi tidak-tidak tanda dokter ataupun suster yang yang keluar dari IGD itu. Gara dan anak-anaknya masih menunggu dengan sabar di luar sana, hingga pintu IGD terbuka.


Mereka sama-sama berdiri menghampiri dokter yang keluar "Bagaimana keadaan Mama saya dokter?" tanya Alfan cepat.


"Iya, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Gara.


Dokter itu tampak menghela nafas "Sebelum nya saya meminta maaf pak" kata dokter itu membuat mereka langsung berfikir negatif.


"Ada apa dokter?" tanya Gara pelan.


"Saya turut berdukacita atas-"


Brakk


"Jangan bicara sembarangan!"


Ucapan sang dokter terpotong karena Arsan menendang kursi yang ada di belakangnya, ia tidak siap mendengarkan kelanjutan nya lagi "Apa maksud dokter?!" ucap Gara mencoba tenaga.


"Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Gara lagi.


"Saya akan jelaskan, istri anda baik-baik saja tapi tidak dengan janinnya, pendarahan hebat membuat nyonya keguguran saya terpaksa mengangkat janinnya agar sang ibu bisa selamat" jelas sang dokter.


Deg.


"Setelah ini kami akan memindahkan pasien ke ruang inap, permisi " dokter itu pun pamit pergi.


"Enggak, enggak mungkin" kata Gara, menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dokter katakan, air matanya sudah mulai berjatuhan menyandarkan punggungnya di tembok.


"Anakku" lirih Gara menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya, kenapa begitu begitu berat cobaan yang kau berikan tuhan.


Afkan membatu di tempat, ternyata dugaannya benar awalnya ia tidak percaya tapi sekarang kenyataan seakan menghantam nya "Ini salah gue" ucap nya, Afkan berkokok karena tidak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri.


Brak


Alfan pingsan, ia tidak bisa menerima semua ini masalah datang bertubi tubi membuat nya tidak bisa menerima hal itu hingga ia pingsan. Rangga yang ada dekat nya pun lantas meraih Alfan "Alfan bangun, pa Papa Alfan pa" panggil Rangga pada Gara yang masih di posisi awal nya.


Gara yang sadar pun berdiri melihat putra bungsu nya yang sudah tidak sadarkan diri "Alfan" Gara mengangkat Alfan "Suster tolong anak saya" kata Gara pada suster yang lewat.


"Yaallah pak" sang suster langsung membantu Gara membantu Alfan untuk di periksa.


"Bang" panggil Arkan serak pada Argan yang masih terdiam hingga air matanya mulai berjatuhan.


"Ini gak hiks bener kan bang hiks?" tanya menatap lurus kedepan, Argan merangkul adik nya agar menyalurkan kekuatan nya meskipun ia juga sangat terpukul dengan berita ini tapi ia sebagai anak sulung harus tetap tegar. Sekali-kali Argan mengusap pipinya yang terkena air matanya, ia menahan isakan nya agar adik tidak tambah menagis.


"Ini salah gue" kata Afkan, Argan, Arsan, Arkan dan Rangga lantas menatap Afkan.


"Gue sudah duga hal itu, tapi gue tidak menerima nya dan terus berfikir positif waktu itu. Tapi, tapi ternyata hal itu benar" jelas Afkan dengan mata berkaca-kaca, tapi Afkan langsung mengusap kedua matanya.


"Ini salah gue" ucapnya menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya lalu menagis disana, Rangga pun ikut menagis di buatnya padahal ia sendari tadi sudah menahan agar tidak terisak.


Arsan langsung pergi dari sana, ia sudah tidak tahan. Emosi nya benar-benar bercampur aduk, sedih dan marah, ingin menagis dan ingin marah tadi tambah saat mendengar tangisan saudaranya membuat nya tambah tidak tahan.


"ARGHHH" teriak nya keras lalu menjatuhkan diri di tanah "Kenapa Mama gue yang selalu dalam keadaan seperti itu? Kenapa? Kenapa bukan orang lain saja atau gue saja, tapi jangan Mama gue!" teriak nya di taman yang sepi itu.


"Kenapa tuhan!" teriak nya lagi. Terdengar suara gerumuh guntur di susul oleh kilatan petir di langit yang sudah mulai menggelapkan.


Suara rintik rintik hujan pun mulai terdengar hingga hujan turun dengan derasnya mengguyur Arsan yang masih di posisi awal nya yang berlutut di tanah.


Hujan seakan akan menggambarkan kesedihan nya saat ini, air mata Arsan pun luruh terjatuh, tapi tidak kelihatan karena hujan yang begitu deras mengguyur tubuhnya itu, ia mengangkat wajahnya hingga air hujan menerpa wajah tampan nya lalu Arsan nampak mengulang senyum simpul nya.


Disisi lain Argan dan saudara nya lain, setelah lebih tenang Argan baru sadar kalau Alfan dan Papa nya tidak ada "Papa sama Alfan di mana?" tanya nya.


"Alfan pingsan bang, Papa bawa Alfan untuk di periksa tapi belum kembali" jelas Rangga, panjang umur setelah di bicarakan Gara datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Alfan pa?" tanya Rangga.


"Alfan baik-baik saja, ia hanya sedikit syok karena berita itu dan belum sadar sampai sekarang" jelas Gara. Ia melihat Arkan yang masih sesegukan di tempat duduk dengan Argan yang masih merangkul nya.


Gara mendekat dan menepuk pundak putra nya "Tenanglah" ucap Gara mengelus surai hitam putranya. Gara beralih pada Afkan yang masih duduk di lantai, lalu Gara membantu putranya itu duduk di kursi.


"Tenangkan diri kalian sebelum bertemu dengan Mama, kita jangan memberitahu hal ini sama Mama takut Mama kalian juga syok, kita akan tunggu sampai waktu yang tepat" ujar Gara pada ketiga putranya, tunggu Arsan dimana.


"Arsan di mana?" tanya Gara yang tidak melihat keberadaan Arsan.


"Arsan tadi keluar, gak tau kemana" jawab Argan, Gara mengangguk dan berdiri dari duduknya.


"Papa akan mencari Arsan, sebentar lagi Mama akan di pindahkan di ruang inap kalian jangan kemana-mana dulu" ujar Gara pada ketiga nya, sebelum pergi Gara kembali mengusap rambut Afkan, Arkan, Argan dan Rangga.


"Iya pa"


"Dimana anak itu pergi saat hujan seperti ini?" tanya Gara yang sudah berada di luar teras rumah sakit.


"Pak saya boleh pinjam payung nya sebentar?" tanya Gara para pria yang baru datang memakai payung.


"Boleh pak" bapak itu dengan senang hati meminjamkan payung pada Gara. "Makasih ya pak" setelah mengucapkan terima kasih Gara pergi ke taman mencari Arsan.


Hingga Gara melihat seorang anak laki-laki yang duduk di bangku taman dengan kepala menunduk seakan akan tidak terganggu dengan hujan yang di ikuti dengan petir.


Gara mendekat lalu memayungi anak laki-laki itu "Arsan" panggil Gara anak laki-laki itu yang memang Arsan, Arsan menoleh mendongakkan kepalanya melihat sang Papa sejenak lalu kembali menundukkan kepalanya.


Gara ikut duduk di putranya, tak peduli jika pakaian nya akan basah "Masuk yuk, kita tunggu Mama siuman" ajak Gara.


Arsan masih menundukkan kepalanya "Arsan tidak sanggup melihat Mama" ucap nya pelan membuat hati Gara perih, kejadian ini membuat putra-putra trauma. Ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjaga keluarga nya, tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk istri dan anak-anaknya. Bahkan anak yang selama ini ia nantikan keberadaan nya bersama sang istri pun meninggalkan nya tanpa ia ketahui keberadaan sedikit pun.


Hal itu yang sangat membuat Gara terpukul, ia belum mengetahui tentang anak nya itu tapi saat ia mengetahui anaknya sudah tiada, hari ayah mana yang tidak hancur. Apalagi jika sang istri mengetahui ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana syok nya Alya mengetahui kebenaran ini.


Tapi Gara mencoba untuk ikhlas dan tenang agar anak-anak nya yang lain pun juga tenang "Tidak apa-apa, ada Papa disini" kata Gara memeluk Arsan, ah sudah baru kali ini ia memeluk putranya yang pendiam ini.


Lama kelamaan di pelukan Gara membuat Arsan tidak bisa lagi menahan isakan nya, ia mulai menangis dan terisak membuat Gara tambah mengeratkan pelukannya seraya membisikkan kata-kata penenang untuk sang putra. Hati nya begitu sesak melihat keluar seperti itu, tuhan benar-benar tak henti-hentinya menguji keluarga mereka.


Tbc.