
"Senang akhirnya kita dapat menjalankan kerjasama ini Mr. Grey." Ucap Rodson ketika mereka sudah mencapai kesepakatan.
"Saya juga puas dengan visi misi perusahaan anda tuan Rodson," Sahut Aarav.
"Terimakasih Mr. Grey." Ucap Rodson.
"Nona Zoe, tolong nanti jangan pergi dulu dan ikut keruangan saya, karena ada berkas penting yang akan saya berikan dan menjelaskan isinya." Kata Shen.
Zoe menelan salivanya. "Baik tuan." Jawab Zoe.
*oh my.... DAMN!!* Batinnya.
Lalu mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Aarav kembali ke ruangannya dan Tuan Rodson beserta bawahannya kecuali Zoe, mereka sudah pergi kembali ke perusahaan.
"Masuklah," Ucap Shen membukakan pintu ruangannya.
Zoe melangkah masuk kedalam ruangan tersebut, detak jantungnya sudah tidak karuan lagi. Ingin sekali rasanya dia berlari keluar namun karena urusan pekerjaan membuat dia tak bisa melakukannya.
Grep!! Shen memegang tangan Zoe sehingga wanita itu reflek melihat kearah pria di belakangnya itu.
Shen menatap lekat netra indah itu. Zoe langsung mengalihkan tatapannya dan mencoba melepaskan tangan pria itu namun tidak bisa dan justru Shen menarik tangan tersebut mendekat padanya dan tangannya satu lagi menahan punggung wanita itu.
Zoe membelalakkan kedua bola matanya karena terkejut. "A-ada apa tuan?" Tanya Zoe gugup.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu... Ada apa denganmu nona, kenapa kau terlihat sangat gugup ketika melihatku?" Tanya Shen menyeringai.
"A-aku tidak mengerti maksudmu?" Ucap Zoe gugup dan memalingkan wajahnya namun Shen menahannya dengan memegang dagunya.
"Aku ingin bertanggung jawab." Ucap Shen akhirnya.
"Hah??" Bingung Zoe.
"Aku telah merenggut milikmu dan aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu Zoe." Lanjut Shen.
Zoe sungguh tidak menyangka mendengar ucapan dari pria itu. "Tidak, itu bukan salahmu Shen.... Justru aku yang telah memaksamu malam itu karena obat sialan itu. Jadi kau tidak perlu meminta maaf apalagi sampai bertanggung jawab." Jelas Zoe.
Shen menatap netra Zoe dan mengelus wajahnya dengan lembut. "Kau melakukan itu karena kau tidak sadar Zoe, sedangkan aku malam itu sangat sadar dengan perbuatanku." Ucap Shen pelan.
Zoe sedikit terbuai dengan elusan tangan kekar Shen di pipinya. "Tapi kau tidak perlu sampai bertanggung jawab Shen... Kau juga jangan merasa terbebani!" Lirih Zoe.
"Aku tidak merasa terbebani Zoe dan aku serius ingin menikah denganmu." Kata Shen terus ingin menikahi wanita itu.
"Hanya karena malam itu kau ingin menikahi ku? Itu benar-benar tidak perlu Shen." Sahut Zoe.
"Iya, karena kejadian malam itu aku ingin menikahimu. Sebab setelah malam itu aku selalu terpikir olehmu Zoe bahkan aku selalu bermimpi kita melakukan hal itu lagi dan itu membuat aku ingin melakukan hal itu lagi denganmu Zoe, jadi dengan cara menikah kita bisa melakukannya setiap saat." Jelas Shen mengeluarkan isi kepalanya yang sebenarnya.
Zoe terperangah mendengar kata-kata pria itu yang begitu jujurnya. *Apa harus sejujur itu* batin Zoe.
"Jika kau tidak menjawab aku anggap kau setuju." Ucap Shen karena Zoe tidak mengatakan apapun.
Zoe masih mencerna ucapan pria itu dan dia tampak masih terpaku menatap pria tampan di depannya.
Entah kenapa Zoe menikmati ciuman dari pria itu, Zoe mengalungkan tangannya di leher Shen dan membalas pangutannya. Shen semakin menarik Zoe sehingga tubuh mereka saling menempel dengan baju sebagai penghalangnya.
Shen mengangkat tubuh Zoe sehingga Zoe otomatis melingkarkan kakinya di pinggang pria itu. Shen mendudukkan Zoe di atas sofa dan wanita itu duduk diatas pangkuannya.
"Hmphh... " Lenguh Zoe di sela-sela ciumannya.
Gairah Shen semakin terbakar mendengar lenguhan indah dari wanita itu. Tangannya meremas dada Zoe dibalik baju kerjanya. Zoe bergerak di atas tubuh pria itu karena sentuhan dan remasan Shen membuatnya menggeliat.
Shen membuka satu persatu kancing baju kemeja Zoe dan merebahkan tubuh wanita itu di atas sofa lebarnya, lalu dia langsung mengesap rakus serta dalam benda kenyal dan padat tersebut.
"Ahh... Hmphh.. " Desah Zoe ketika mulut pria itu bermain dengan lihainya, lidah Shen menjiat dan mengesap secara bergantian benda kenyal tersebut.
Drttt!!! Drttt!! Drtt!!!
Ponsel milik Shen berdering dibalik celananya. Namun pria itu tidak menghiraukan nya dan tampak masih asik bermain di dada wanita itu.
Namun deringan tersebut tidak kunjung berhenti, Shen mengumpat dalam hatinya karena kegiatannya terganggu, Shen harus dengan terpaksa menghentikan kegiatan panas tersebut. Shen menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Zoe seketika langsung tersadar, dan dia tersipu malu. "Tunggu sebentar baby." Ucap Shen mengecup bibir Zoe.
Wajah Zoe semakin memerah mendengar Shen memanggilnya dengan panggilan sayang, *Oh my god, apa dia serius akan menikahiku?* batin Zoe memegang wajahnya yang panas dan merah merona.
Lalu dia beranjak duduk dan kembali merapikan kemejanya yang berantakan karena ulah tangan Shen tadi.
"Hmm, baik bos!" Jawab Shen lalu panggilan itu terputus dan dia kembali berjalan kearah Zoe yang duduk di atas sofa.
"Nona Arabella mengundangmu untuk makan malam, nanti aku akan membawamu." Ucap Shen.
"Tidak perlu, kirimkan saja alamatnya aku akan pergi sendiri saja." Jawab Zoe pelan.
"Tidak! Kau akan pergi bersama denganku." Kekeh Shen.
"Tapi.... " Shen langsung menyambar bibir Zoe ketika wanita itu ingin melayangkan perotesnya.
"Kembalilah, aku akan menjemputmu nanti." Kata Shen mengusap lembut bibir basah Zoe.
Zoe pun hanya bisa menganggukan kepalanya dan pasrah dengan pria itu. "Dimana berkasnya?" Tanya Zoe teringat akan berkas yang dikatakan oleh Shen diruangan rapat tadi.
"Di apartemenku, nanti kau ambil disana saja." Jawab Shen menyeringai.
"Lalu kenapa kau menyuruhku kemari?" Zoe mengerutkan keningnya.
"Karena aku merindukanmu!" Jawab Shen yang membuat wajah Zoe seketika merah merona kembali.
Shen tertawa lirih dan mencubit gemas pipi Zoe yang memerah itu. "Kau imut sekali baby." Kata Shen tersenyum.
*Bagaimana aku bisa mengabaikan wanita cantik ini dulu* batin Shen yang sekarang hatinya sedang berbunga-bunga kepada Zoe.
BERSAMBUNG.