
...****************...
"Bos kami sudah menemukan Anthony, pria itu tampak beberapa kali pergi ke bar yang berada di dekat perbatasan," Kata Lukas.
"Apa malam ini dia akan kesana?" Tanya Aarav.
"I-itu tidak dapat dipastikan bos, karena Anthony pergi kesana dihari yang tidak di menentu." Jawab Lukas ragu.
"Kalau begitu malam ini kita menyusup kesana." Seru Aarav.
Aarav mulai mengatakan rencananya untuk aksi mereka malam nanti, Shen, Daniel dan Lukas mendengarkan dengan saksama rencana bos mereka itu.
"Kalian mengerti?" Tanya Aarav menatap tajam ketiga anak buahnya.
"Iya bos." Jawab mereka bersamaan.
...****************...
Malamnya mereka menuju ke bar itu, dan saat di depan pintu masuk, mereka dihadang oleh penjaga bar yang bertubuh kekar. "Kenapa?" Tanya Lukas.
"Kalian pengunjung baru?" Tanya penjaga itu dengan wajah sangarnya.
"Kenapa memangnya? Apa pengunjung baru tidak boleh masuk?" Tanya Lukas.
"Jika kalian ingin masuk kedalam maka kalian wajib membawa wanita." Jawab penjaga itu.
Aarav mengerutkan dahinya, tangannya mengepal kuat mendengar ucapan pria itu. "Maksudmu apa? Kenapa kami harus membawa wanita kemari?" Kata Aarav dingin.
"Memang sudah peraturannya seperti itu disini." Jawab penjaga itu dan menunjuk pintu masuk lainnya dimana para pengunjung disana masuk dengan membawa para wanita.
Aarav mengeraskan rahangnya, lalu mereka pun pergi dari bar itu dan kembali kedalam mobil."SIALL!!" kesal Aarav.
"Maaf bos, aku tidak tahu jika ada peraturan seperti itu disini." Seru Lukas.
"Cepat cari wanita yang bisa diajak bekerjasama, masuk kedalam sana." Seru Aarav.
"Baik bos." Jawab Shen.
Satu jam kemudian mereka menemukan wanita yang akan mereka bawa kedalam bar, Shen, Daniel dan Lukas beserta wanita pendamping mereka terlihat sangat takut dengan ekspresi dan suasana hati Aarav yang sangat buruk saat ini.
"Jangan menyentuhku!" Bentak Aarav ketika pendamping wanita itu ingin menggandeng tangannya.
Wanita itu terkejut takut dan langsung melepaskan tangannya.
"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya." Bisik Shen kesal.
"M-maaf tuan, saya lupa." Jawab wanita itu.
Tergoda ketika melihat Aarav yang memiliki ketampanan dan kegagahan tubuhnya yang bisa langsung membuat wanita bergairah melihatnya.
Ia pun memberanikan diri untuk menggoda dengan menyentuh Aarav, sayangnya bukannya tergoda, Aarav justru marah dan membentaknya.
*Menakutkan sekali pria ini.* batinnya.
Sedangkan para wanita pendamping Shen, Lukas dan Daniel menggandeng ketiga pria tampan itu. *Kenapa pria ini tidak tertarik denganku? Apa dia seorang gay?*batinnya.
Mereka akhirnya berhasil masuk kedalam bar besar itu, mereka duduk dimeja besar yang berada di sudut ruangan, supaya keberadaan tidak terlihat dan dapat memantau Anthony dari sudut itu.
"Kalian berpencarlah!" Perintah Aarav.
"Baik bos!" Jawab mereka pergi berpencar dengan membawa wanita pendamping untuk tidak dicurigai.
"Apa anda ingin minum tuan?" Tanya wanita itu dengan suara seksinya yang dibuat-buat.
"Diam!" Bentak Aarav dengan tatapan tajamnya.
"B-baik tuan." Jawabnya takut, dia tidak mempunyai nyali lagi untuk menggoda pria tampan disamping nya itu.
Mereka masih belum melihat kedatangan Anthony setelah selama tiga jam berada di dalam bar itu,"Apa kalian masih belum melihatnya?" Tanya Aarav dibalik earphonenya.
"Belum bos, " Jawab mereka bergantian.
Daniel berada di lantai atas, mata pria itu menyipit ketika melihat seseorang yang tidak asing baginya keluar dari sebuah ruangan yang memiliki pintu sangat besar.
"Bos, aku melihat salah satu anak buah Anthony di lantai atas, namun aku tidak melihat keberadaan Anthony." Seru Daniel mengikuti pria tersebut.
"Ikuti terus orang itu, jangan sampai lolos." Perintah Aarav segera berjalan cepat menuju tempat Daniel. Shen dan Lukas pun segera menyusul.
Daniel mengikuti langkah pria itu yang menuju kearah koridor belakang, namun karena merasa ada yang mengikutinya, pria itu segera berlari dengan cepat.
Daniel mengejar pria itu yang akan mengarah keluar dari bar melewati jalan rahasia yang ada di ujung koridor itu.
Pria itu membuka pintu koridor itu dan langsung menutupnya dan menguncinya dengan cepat sehingga membuat Daniel mengumpat karena pintu itu terkunci.
BERSAMBUNG.