
...****************...
Tampak seorang wanita cantik tengah duduk di sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga indah yang bermekaran, wanita itu terlihat sedang membaca buku mengenai parenting sembari mengelus-elus perutnya yang masih rata.
Dia cukup senang karena kehamilannya itu tidak begitu rewel karena Arabella belum mengalami fase mual dan muntah.
Sepuluh menit kemudian dia menutup buku itu dan merenung melihat kearah taman bunga, "Mommy merindukan daddy kalian sayang, apa yang sedang daddy kalian lakukan sekarang?" Gumamnya dengan tangan mengelus perut.
Selama berada disana, Arabella sama sekali tidak bisa menghubungi suaminya karena sang kakek mengatakan jika Aarav sekarang sedang mengurus perusahaannya yang sedang dalam masalah besar jadi tidak dapat diganggu untuk sementara waktu.
Dan Arabella tentu saja percaya kepada kakeknya itu, apalagi suaminya itu sudah meninggalkan pekerjaannya selama dua bulan penuh karena honeymoon mereka.
"Semoga daddy bisa menyelesaikan urusannya dan segera menemui kita sayang." Ucapnya.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri Arabella di taman. "Nona, sudah waktunya makan siang. Tuan besar sudah menunggu di meja makan." Ucap pelayan wanita itu ramah.
"Baiklah. Terimakasih." Jawab Arabella tersenyum.
Arabella menyantap makan siangnya bersama dengan sang kakeknya, Duke merasa sangat senang dapat menghabiskan waktu bersama dengan cucunya.
Sebenarnya Duke bisa saja membawa Arabella kepada Aarav namun kondisi disekitar pria itu masih belum aman untuk Arabella saat ini dan Duke tidak ingin mengambil resiko yang akan membahayakan cucu beserta cicitnya yang dikandung oleh wanita itu.
Dan mengenai kenapa Duke tidak membiarkan Arabella menelpon Aarav, itu dikarenakan dia sudah dapat memastikan jika pria itu pasti akan nekad melacak nomornya dan membawa Arabella kembali disaat para musuh nya masih berkeliaran diluar sana.
"Apa sudah ada kabar dari Aarav kek?" Tanya Arabella ketika mereka menyelesaikan makan siangnya.
"Anak buah kakek mengatakan jika dia masih sibuk mengurus bisnisnya sayang." Jawab Duke berbohong.
"Dia tidak akan melupakanku kan kek." Lirih Arabella.
"Tenang saja sayang, dia bukan tipe pria seperti itu. Kakek mengenal baik keluarga Grey." Jawab Duke.
Arabella menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. *maafkan kakek, karena harus berbohong padamu nak,* batin pria tua itu.
......................
Pagi harinya, Arabella terlihat asik mengobrol dengan sang kakeknya di bangku taman. Duke banyak menceritakan tentang masa kecil Gracia ibunya Arabella, dan Arabella senang mendengarnya.
"Sayang, boleh kakek minta tolong sesuatu padamu?" Tanya Duke.
"Apa boleh salah satu anak kalian nanti diberi marga Kingston?" Tanya Duke berhati-hati.
Arabella tampak terdiam mendengar permintaan kakeknya itu. "Maaf sayang jika permintaan kakek ini keterlaluan, kakek tidak akan memaksamu. Kakek hanya tidak ingin garis murni keturunan Kingston terputus begitu saja, karena hanya tinggal kau lah satu-satunya garis murni Kingston yang tersisa." Jelas Duke.
"Bukankah masih banyak kerabat di Kerajaan, kek?" Tanya Arabella.
"Mereka semua bukan keturunan garis murni, nak." Jawab Duke menatap ke depan.
Arabella melihat ekspresi kakeknya yang tiba-tiba berubah dan terlihat sedih, seperti menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan.
"Aku akan memikirkannya kek dan membicarakan hal ini kepada suamiku terlebih dulu." Jawab Arabella.
Duke melihat kearah Arabella dan tersenyum. "Terimakasih sayang," Seru Duke.
"Apa kau sudah mengalami fase mual dan muntah mu?" Tanya Duke.
"Masih belum kek, sepertinya mereka tidak ingin mommy nya tersiksa." Jawab Arabella tersenyum.
"Sepertinya benar, mereka pasti sangat menyanyangi mommy yang sangat cantik ini." Timpal Duke.
"Bagaimana dengan nenek, apa sewaktu hamil mommy dulu tidak mengalami morning sickness?" Tanya Arabella yang tiba-tiba sangat ingin mendengar banyak tentang cerita masa kecil ibunya.
"Kehamilan nenekmu waktu itu cukup rewel, bahkan nenekmu sering marah-marah pada kakek hanya karena masalah kecil saja. Sampai-sampai kakek pernah diusir dua hari dari rumah hanya karena kakek tidak menuruti keinginan nya!" Kata Duke terkekeh kecil, mengingat tingkah almarhum istrinya dulu.
"Memangnya apa keinginan nenek waktu itu?" Tanya Arabella.
"Nenekmu ingin menerbangkan helikopter, padahal dia sama sekali tidak pernah belajar bagaimana cara mengemudikannya, dan tentu saja kakek melarangnya. Hingga dia marah dan mengatakan kakek tidak memahaminya, lalu dia mengusir kakek dan membuat kakek tidur di perusahaan selama dua hari. Di hari ketiga, dia datang ke perusahaan dengan menangis-nangis dan mengatakan jika kakek meninggalkan nya dan tidak menginginkan nya lagi." Seru Duke tertawa kembali mengingat tingkah lucu istrinya dulu.
Arabella pun ikut tertawa lirih mendengarnya.
"Andai saja dia tahu sebesar apa rasa cinta dan sayang kakek padanya, saat kepergiannya dunia kakek benar-benar hancur dan runtuh, hidup kakek dihantui dengan rasa bersalah yang sangat dalam terhadap nenek dan ibumu bahkan sampai sekarang ini. Tak ada lagi kebahagiaan dalam hidup kakek hanya ada rasa hampa dan kesunyian. Sampai akhirnya perasaan bahagia itu datang kembali ketika kakek menemukanmu disini." Lirih Duke menatap sendu cucunya.
Arabella mengigit bibirnya menahan kesedihannya, lalu dia mengenggam tangan sang kakek dan mengusapnya tanda memberikan kekuatan untuk pria tua itu.
"Maafkan kakek nak, sekali lagi maafkan kakek, andai saja kakek tidak egois saat itu pasti mereka masih ada sekarang." Lirih Duke memeluk cucunya dan tangisnya yang tidak dapat dibendung lagi.
BERSAMBUNG.