Love at First Sight

Love at First Sight
bab 5 : Darah tinggi



Zidane siang itu akan pergi ke kota tidak sengaja melihat Aliya sedang naik motor di lampu merah. Aliya berhenti tepat di depan mobil Zidane.


"Perasaan aku kenal sama ni cewek, ohh yang kebetulan ketemu. Kenapa aku sering ketemu dia. Di lihat-lihat dia cantik, lucu, unik, beda sama cewek lain, boleh juga ni cewek. Tapi bodohnya ketika aku bilang dia jodoh aku kenapa dia biasa aja, seharusnya bangga dong, dia itu cewek pertama yang aku bilang dia jodohku. hmm heran, tapi menarik juga." Kata Zidane di dalam mobil.


Lampu berubah menjadi warna hijau, tanda sudah harus melaju. Zidane yang ada di belakang Aliya, sengaja menlakson dengan keras. Tiinn tinn tinn. Aliya masih saja cuek.


Tin... tiinn... tiiinnn....


"Ettsss buset mobil itu kenapa sih, rese banget. Ini jalanan umum, emangnya punya kakeknya apa." Aliya yang melirik dari kaca spion motornya sambil ngedumel.


Tiiinnn.. tiiinnn... tinnn


Aliya pun merasa jengkel, dan ia pun mengurangi kecepatannya. Zidane yang ada di dalam mobil tersebut hanya tertawa melihat Aliya.


Lalu Zidane memepetkan mobilnya ke motor Aliya. Aliya pun mulai darah tinggi. Sampai Aliya berhenti dan Zidane pun ikut berhenti tepat di depan Aliya.


"sabar Aliya , tahan.." dalam hatinya sambil mengelus dadanya.


Aliya mengetok kaca mobil, niat untuk tidak marah-marah itu tidak jadi ketika ia tau yang membawa mobil itu Zidane.


Aliya : "buka mas."


Zidane : "iya mba ada apa?"


Aliya : "kamu ?"


Zidane : "eh kamu lagi, mungkin ini bukan kebetulan tapi jodoh!"


Aliya : "maaf ya mas, kalau masnya naik mobil seperti itu mengganggu kendaraan lain. sebaiknya mas hati-hati. emangnya ini jalan punya kakek mas?"


Zidane : "oh, ya wajar orang ganteng lewat mah bebas"


Aliya : "mas jangan sombong, mentang mentang masnya ganteng dan kaya terus mas bisa semena-mena."


Zidane : "secara tidak langsung kamu bilang aku ganteng kan?"


Aliya : "apaan sih! gak guna kalau ganteng tapi hatinya busuk Kaya mas"


Zidane : "hahaha, tau dari mana kamu tentang hati aku. Oiya kita belum kenalan, nama kamu siapa ?"


Aliya : "maaf ya mas, saya bukan cewek murahan !"


Zidane : "berarti mahal dong? berapa kalau gitu ?"


Aliya : "jangan kurang ajar ya mas."


Zidane : "eh tunggu, namaku Zidane. Semoga kita bertemu lagi ya."


"udah tau." dalam hati Aliya.


"Cewek itu dasar keras kepala, diajak kenalan ga mau. Jarang lho aku ngajak kenalan, harusnya dia bangga." kata Zidane.


Aliya yang sudah sampai kampus, masih merasa kesal dengan Zidane. Bagaimana tidak, Zidane mengatakan sesuatu yang meremehkan wanita.


Aliya : "huft , sial banget sih aku. kenapa coba ketemu dia lagi. cowok rese."


Uli : "kenapa sih, datang-datang marah-marah"


Aliya : 'itu itu, cowok yang kamu ngefans"


Uli : "siapa ? Zidane"


Aliya : "siapa lagi,"


Uli : "ya ampun kamu ketemu lagi. Dimana ?"


Aliya : "ga penting sih, cuman aku kesel aja dia ngeremehin aku. emangnya aku cewe apaan."


Uli : "tadi kalau gitu kita berangkat bareng Al"


Aliya : "ih masih aja belain dia. ini lho temen kamu bukan dia."


Uli : "enggak enggak Al, hehe."


Aliya : "benci aku!"


Uli : "ssssttt.. jangan bilang benci, nanti jadi cinta lho "


Aliya :"amit amit, kamu aja Ul"


Tiba-tiba dosen pun masuk ke ruang kelas. Mereka langsung berhenti berbicara. Semua mahasiswa dan mahasiswi serantak diam semua, karena yang masuk adalah Dosen killer.


Dosen : "tugasnya sudah selesai?"


Murid : "sudah pak"


Dosen : "oke terimakasih."


Jam sudah berlalu, waktu pulang pun tiba. Aliya dan Uli lega, karena tugas mereka selesai. Mereka selalu mampir ke tempat warmindo sebelum pulang ke rumah masing-masing. Saling bertukar cerita