
Shen, Daniel dan Lukas. Ketiga pria itu saling berkelahi lebih tepatnya Shen dan Daniel mengeroyok Lukas yang wajahnya sudah babak belur dibanding dengan mereka berdua.
Tidak lama tiga orang penjaga mendatangi mereka. "Siapa kalian?" Ucap salah satu penjaga itu.
Lukas segera berlari dan bersembunyi dibalik ketiga penjaga itu, berpura-pura ketakutan. "Pak, tolong saya.. Dua bajingan itu ingin membunuhku." Shen memegang salah satu tangan penjaga.
"Kemari kau pengecut... Jangan bersembunyi, urusan kita belum selesai." Seru Daniel.
"Pergi! Jangan membuat keributan disini." Tegas penjaga itu.
"Berikan orang itu, maka kami akan pergi." Sahut Shen menunjuk Lukas yang bersembunyi dibelakang tubuh penjaga itu.
Penjaga itu pun melemparkan Lukas kepada Shen dan Daniel. "Cepat pergi!" Tegas penjaga itu.
"Tolong saya pak." Lukas memohon ketika Shen dan Daniel menyeretnya pergi.
Para penjaga itu tidak menghiraukannya.
"Lepaskan.. Kalian benar-benar bedebah sialan." Kesal Lukas Setelah mereka sudah jauh dari kawasan villa.
Lukas mengeluarkan semua umpatan dan sumpah serapah nya dari mulutnya, betapa kesalnya dia dengan kedua sahabatnya. Kenapa tidak, wajahnya sudah babak belur akibat kedua pria itu.
"Kami juga terluka, bukan hanya kau saja." Daniel menunjuk sudut bibirnya yang memar.
Lukas kembali mengumpat lantaran luka kedua pria itu benar-benar tidak sebanding dengan lukanya, dimana lukanya lebih parah dari keduanya. "Sialan, kalian lihat luka ku jauh lebih parah dari kalian brengsek." Lukas menunjuk seluruh mukanya.
"Kalau begitu salahkan bos karena ini rencananya." Sahut Shen.
"Tapi tidak perlu juga kalian berdua mengeroyokku," Kesalnya.
"Itu supaya rencana kita berhasil,, " Sahut Daniel.
"Kau.... "
"Diamlah.. Kau berisik sekali seperti seorang wanita saja." Ucap Shen memotong ucapan Lukas yang tak henti berbicara itu.
Mereka bertiga kembali ke tempat helikopter semalam dan beristirahat disana. Sembari menunggu pesan perintah dari bosnya.
***
Saat ini Aarav bersama istrinya sedang duduk di meja makan dan tentunya juga ada tuan Kingston disana, yang sedang menatap tajam pria disamping cucunya.
Aarav juga tak kalah tajam menatap pria tua itu. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena telah menyembunyikan istrinya. Arabella merasa sedikit canggung dengan aura mencengkram itu.
Arabella mencoba mencairkan suasana dengan mengajak mereka menyantap sarapan yang sudah disiapkan diatas meja makan.
"Aku ingin kau menyuapiku sweety." Ucap Aarav manja kepada Arabella.
Arabella melihat heran kearah suaminya itu karena tiba-tiba bersikap manja.
"Sweety, please... Aku sudah lama tak bertemu denganmu karena seseorang." Ucap Aarav sengaja menyindir Duke Kingston.
Duke yang sedang meminum minumannya tersedak ketika mendengar ucapan Aarav itu. "Kakek. Kau tidak apa-apa?" Kata Arabella.
"Dia tidak akan kenapa-kenapa sweetie.. Umurnya juga terlihat masih panjang." Seru Aarav yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya, Aarav langsung menundukkan kepalanya.
"Huftttt... " Arabella menghembuskan nafasnya dan menyodorkan sendok yang berisi makanan kepada Aarav.
Aarav pun tersenyum puas dan memakannya seraya mmelihat sinis kearah Duke untuk memamerkan kemenangan nya. Pria tua itu sedikit kesal dengan cucu menantunya itu.
Selesai sarapan ketiga orang itu duduk di beranda belakang karena Arabella ingin menikmati pemandangan bukit yang tampak indah dari sana.
"Aku akan membawamu dan bayi kita pulang besok!" ucap Aarav mengelus pipi istrinya yang bersandar di bahunya.
"Sayang ... Kau tidak ingin bersama kakek lebih lama lagi." Ucap Duke memohon.
"Tidak!!" Sahut Aarav sebelum istrinya menjawab.
Arabella menggelengkan kepalanya dengan sifat suaminya itu. Lalu ia memegang tangan kakeknya. "Aku akan menemani kakek lagi lain kali." Jawab Arabella dengan lembut.
"Baiklah sayang... Kakek akan menemui disana nanti." Sahut Kingston.
"Tapi aku tidak akan membiarkanmu menginap di mansion kami, beli rumah sendiri jika ingin bermalam disana." Ketus Aarav yang sepertinya masih menyimpan dendam karena pria tua itu memisahkannya dengan sang istri tercintanya.
"Honeyy... " Arabella melihat Aarav dengan kesal.
"Sorry sweety... Tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan kakek tua itu tidur di mansion kita karena aku masih trauma dia menculikmu dariku." Sahut Aarav.
"Itu salahmu sendiri yang tidak becus menjaga cucuku." Timpal Duke.
"Hei kakek tua, kau sendiri juga baru menemukan cucumu sekarang. Dulu dimana kau saat dia dalam kesusahan." Sahut Aarav yang tidak mau kalah.
"Kauu..."
"STOP!!" Ucap Arabella jengah dan menghentikan perdebatan kedua pria itu.
"Bisakah kalian berdamai saja? honey dia kakekku dan secara tidak langsung dia juga menjadi kakekmu. Begitu pula dengan kakek, dia suamiku dan cucu menantumu. Kenapa kalian justru terlihat seperti musuh." Kesal Arabella kepada kedua pria itu.
Aarav dan Duke pun tinggal terdiam mendengar ceceran dan omelan dari wanita cantik itu.
"Baiklah sayang, kakek tidak akan berdebat lagi dengannya." Ucap Duke.
"Sorry Sweety, jangan marah lagi okay? Kasian bayi kita di dalam perutmu." Sahut Aarav mengusap punggung istrinya.
BERSAMBUNG.