Love at First Sight

Love at First Sight
Penyesalan Erina



"Kau benar-benar sudah gila Erina? Kau tahu betapa bahayanya membawa nona Arabella keluar tanpa seorang pengawal pun?" Geram Shen marah kepada Erina yang saat ini berada di markas the devil's.


Shen sengaja membawanya kesana untuk menyelamatkan adiknya itu dari kemurkaan Aarav dan dia sendiri yang akan menghukum adik nakalnya itu.


Erina hanya tertunduk sedih mendengar kemarahan kakaknya itu dan dia sangat merasa bersalah, dia tidak menyangka jika banyak orang yang menargetkan Arabella diluar sana. Apalagi Shen mengatakan jika ada musuh yang mengikuti mereka tadi, dia benar-benar tidak menyadari hal itu.


Erina merutuki kebodohan dan kecerobohannya itu, karena keegoisan diri-Nya membuat Arabella hampir dalam bahaya. "M-maafkan aku kak." Lirih Erina tertunduk.


Shen menghembuskan nafasnya kasar. "Dua hari ini kau sebaiknya tetap berada disini dulu, jika tidak bos Aarav pasti akan mengirimmu ke pulau." Seru Shen.


"Baik kak." Jawabnya sendu.


Shen memeluk adiknya itu dan mengecup kepalanya. "Jangan membuat masalah besar seperti ini lagi okay? Karena bukan hanya kamu yang akan kena hukum nya. Mengerti." Ucap Shen lembut, karena dia sangat menyayangi adik angkat yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


Erina menganggukkan kepalanya, lalu mereka keluar dari ruangan itu. Shen berjalan kearah Daniel dan Lukas yang tampak sedang duduk di sofa. Wajah Kedua pria itu tampak frustasi.


"Daniel, antar dia ke kamar atas." Perintah Shen menyuruh pria itu untuk mengantar Erina ke kamar atas yang memang khusus berada di mansion itu.


Lukas melihat malas kearah Erina yang berdiri disamping Shen. "Kau tidak salah Shen, membiarkan wanita belut ini tinggal disini?" Ketus Lukas yang terdengar seperti tidak terima Erina berada disana.


"Siapa maksudmu wanita belut hah?" Sahut Erina tidak terima disebut seperti itu.


"Kau. Kenapa emangnya?" Balas Lukas sinis.


"Kurang ajar kau ya." Kesal Erina.


Keduanya pun akhirnya saling beradu mulut.


"DIAM!!" Bentak Shen yang sebenarnya masih marah pada dirinya sendiri karena telah membuat Aarav kecewa.


Seketika keduanya pun terdiam. "Daniel, cepat antar dia." Perintah Shen.


Daniel pun segera bangun dan berjalan menuju lantai atas. "Ikutilah dia." Ucap Shen lembut kembali kepada Erina.


Erina pun mengangguk dan mengikuti langkah Daniel di belakangnya. Daniel membawa Erina ke kamar yang diperintahkan oleh Shen. "Masuklah, ini kamar mu." Seru Daniel membukakan pintu kamar itu.


"Terimakasih." Ucap Erina pelan karena dia masih merasa sedih dengan apa yang dia lakukan terhadap Arabella.


"Kau baru menyesalinya?" Ucap Daniel ketika Erina baru masuk kedalam kamar.


Daniel tampak memperhatikan Erina yang terlihat sangat sedih itu. Wanita itu terlihat sangat menyesal atas perbuatan nya.


"Seharusnya aku tidak melibatkan kakak ipar tadi." Ucap Erina dalam tangisannya.


"Sudahlah, lagian orang-orang itu juga sudah lenyap." Seru Daniel kemudian menutup pintu kamar itu dan membiarkan wanita itu menenangkan dirinya.


"Dimana Shen?" Tanya Daniel kepada Lukas.


"Dia baru saja menerima panggilan dari bos." Seru Lukas.


***


Arabella tampak sudah tertidur lelap, Aarav mencium wajah wanita itu. "I love you so much." Bisik Aarav.


Kemudian dia turun dari ranjang memakai ****** ******** dan mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.


"Thanks dad," Ucap Aarav kepada daddy nya-Arthur, karena anak buah bayangan Arthur lah yang menyelamatkan Arabella dan Erina dari mobil penjahat tadi.


"Tidak masalah son, dia baik-baik saja kan?" Tanya Arthur.


"Iya, semua berkat daddy." Jawab Aarav.


"Kau sungguh mencintainya?" Tanya Arthur.


"Iya dad, aku sungguh sangat mencintainya." Jawab Aarav yakin.


"Kalau begitu segera nikahi dia, jika kau tidak ingin kehilangan nya." Kata Arthur.


"Aku akan membawanya ke Chicago besok dad, dan akan segera menikahinya disana." Jawab Aarav.


"Good son, paksa dia jika dia tidak mau menikah nanti." Ucap Arthur memberikan tips kepada putranya itu.


"Dia memang tidak bisa menolak dad." Sahut Aarav, mereka berdua memang ayah dan anak yang suka memaksa.


BERSAMBUNG.