
BRUKK!!
BRAKK!!
Hanya dua kali tendangan keras dari Daniel berhasil menghancurkan pintu itu, Daniel kembali berlari mengejar pria itu yang sudah berlari ke jalan aspal.
"****." Umpat pria itu karena Daniel berhasil membuka pintu.
BUGH!!
Seseorang menendang belakang tubuh pria itu , sehingga pria itu langsung tersungkur di aspal. Daniel terkejut melihat bos nya sudah berada disana.
Iya, Aarav lah yang menendang pria itu, dia melompati batang pohon yang berada dipinggir jalan dan melayangkan tendangannya ke punggung anak buah Anthony itu.
*kemampuan bos sangat mengerikan* batin Daniel, dia bahkan sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki Aarav yang berlari di belakangnya.
Aarav mencengkram baju pria itu dan memukul pipinya dengan keras. "Katakan dimana bosmu?" Geram Aarav emosi.
"A-aku tidak akan mengatakannya." Ucap pria itu.
BUGH!!
BUGH!!
dua pukulan keras dari Aarav layangkan ke perut pria itu sehingga orang tersebut memuntahkan darah dari mulut nya.
"Bawa dia ke villa!" Perintah Aarav melemparkan pria itu kepada Daniel.
"Baik bos!" Jawab Daniel.
Tidak lama Shen dan Lukas pun tiba disana dengan membawa mobil, dan beberapa anak buah the devil's juga.
Aarav dan Daniel masuk kedalam mobil yang berisikan Shen dan Lukas di dalamnya sedangkan pria tadi di bawa oleh mobil anak buah the devil's yang berada di belakang.
"Anthony tidak ada disana bos, kami sudah mengecek ruangan itu. Orang di dalam sana mengatakan jika Anthony hanya mengirim anak buahnya kesana malam ini." Seru Lukas.
"Pria itu pasti sudah tahu jika kita mencarinya malam ini!" Timpal Daniel.
"Aku akan membuat anak buahnya itu mengatakan keberadaan pria itu ..... Lukas, asah belatihku lebih tajam,." Seringai dibibir Aarav terlihat sangat menakutkan bagi ketiga pria itu.
"Baik bos," Jawab Lukas bergidik ngeri.
***
SRETT!!!
"AHH!!!!" Teriak seorang pria kesakitan.
SRETT!!!
Darah di kepala pria itu menyucur deras mengalir ke tubuhnya yang sudah tak memakai apapun kecuali hanya menggunakan ****** ******** saja.
Aarav menyiksa habis-habisan pria itu.
Salah satu ****** dada pria itu sudah lepas, sayatan-sayatan halus sudah hampir memenuhi tubuh atletis pria itu.
Para anak buah the devil's, sungguh merasa takut dan ngilu melihat mode psychopath bos mereka itu, bahkan Daniel dan Lukas beberapa kali memalingkan wajah mereka ketika melihat kesadisan bosnya itu.
Setiap orang yang berada di posisi itu pasti akan lebih rela memilih mati daripada disiksa begitu sadis dengan cara mengerikan itu.
Hanya Shen satu-satunya orang yang tampak menikmati menonton aksi mengerikan itu.
"Kau masih ingin menutup mulutmu?" Tanya Aarav dingin.
"A-ak-aku s-su-sungguh ti-tidak tahu." Jawab pria itu lemah dan terbata-bata.
Mata pria itu sudah bengkak karena pukulan keras dari Aarav, wajahnya pun juga sudah menjadi buruk rupa akibat pukulan dan sayatan dari belati tajam milik Aarav.
"Baiklah, walaupun kau tidak mengatakannya, aku tetap akan menemukan pria itu." Jawab Aarav dingin.
"Shen,, lepaskan celana yang menutupi aset pria ini!" Perintah Aarav menatap dingin pria mengenaskan itu.
"Baik bos!" Jawab Shen berjalan mendekat.
"A-APA YANG AKAN KAU LAKUKAN!!" Teriak pria itu ketakutan dan memberontak dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Semua anak buah the devil's yang berada disana, termasuk Daniel dan Lukas tampak langsung memejamkan mata dan menundukkan kepala serta memegang benda pusaka mereka yang ditutupi oleh celananya.
*Bos sangat sadis dan benar-benar sangat mengerikan* batin mereka merinding mendengar teriakan pria itu.
"RED LIGHT DISTRICT!!" Teriak pria itu ketika ujung belati Aarav menyentuh kulit bagian bawahnya.
Aarav menghentikan tangannya dan melihat kearah pria itu. "Tepatnya dia berada dimana?" Tanya Aarav dingin.
"Dia bersembunyi di dalam Bar Wynand Fockink miliknya, disana terdapat ruang rahasia yang berada di lantai bawah. Pintu masuk ruangan itu berada di ruangan penari striptis yang terletak di belakang kaca toilet." Jelas pria itu akhirnya.
"Good. Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi sehingga aku tidak perlu repot-repot melukis tubuhmu." Seringai Aarav.
"K-kau akan melepaskanku kan?" Tanya pria itu.
Aarav menyeringai mendengarnya. "Iya, tentu saja aku akan melepaskanmu dan sekarang kau ku serahkan pada asistenku." Ucap Aarav pergi dari ruangan yang penuh darah itu.
"A-apa??" Ucap pria itu karena dia tahu bahwa itu tandanya dia tidak akan selamat dari tangan para iblis ini.
BERSAMBUNG.