
......................
Dering ponsel membangunkan Shen dari tidur lelapnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat jam di handphonenya, sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Kemana saja kau?" Tanya Aarav diseberang telepon yang tampan sedikit kesal dengan asistennya itu karena sedari tadi dia menghubungi tapi baru dijawab sekarang oleh Shen.
"Maaf bos, lima belas menit lagi aku tiba disana." Jawab Shen yang langsung terburu-buru turun dari ranjang.
"Kau langsung pergi ke perusahaan saja, karena aku sudah dalam perjalanan." Sahut Aarav langsung mematikan teleponnya.
"****!! Semoga sang Singa ini tidak akan akan menghajarku nanti." Umpat Shen langsung berlari kedalam kamar mandi.
Cuman butuh waktu sepuluh menit Shen sudah berpakaian rapi dengan setelan formalnya. Di saat keluar dari apartemen nya, Shen melihat kearah pintu unit milik Zoe.
Entah apa yang dipikirkannya, Shen tampak hendak menghampiri unit wanita itu namun dia mengurungkan niatnya dan berjalan masuk kedalam lift.
Lima belas menit kemudian Shen tiba di perusahaan, dia segera masuk kedalam lift khusus dan akan menghadap ke ruangan Aarav.
Ting!!
Pintu lift terbuka Shen melebarkan langkahnya dan masuk kedalam ruangan bos nya ketika mendapatkan sahutan dari dalam.
"Kenapa kau terlambat? Baru kali ini selama bekerja denganku, kau terlambat bahkan dua jam lebih." Tanya Aarav mulai menginterogasi Shen yang berdiri di depan mejanya.
"M-maaf bos,, A-aku sibuk semalam." Jawab Shen terbata.
"Sibuk? Apa kau pergi bersenang-senang semalam?" Tanya Aarav menyipitkan mata tajamnya.
"Bisa dibilang begitu bos." Jawab Shen tersenyum tipis sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Jadi kau sekarang mengikuti jejak duo berandal itu?" Kata Aarav menautkan alisnya.
Duo berandal yang dimaksud Aarav adalah Daniel dan Lukas.
"Tidak bos, aku tidak Seberengsek Mereka." Sahut Shen.
Aarav masih menautkan alisnya melihat asistennya itu dengan tatapan penuh curiga. "Sudahlah, jangan ulangi lagi, sekarang kau urus beberapa persyaratan yang akan diberikan ke perusahaan RX nanti." Perintah Aarav.
"Perusahaan RX?" Tanya Shen karena dia lupa jika mereka akan menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut.
"Iya, apa kau lupa Shen? Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya." Ucap Aarav.
"Maaf bos, aku sudah ingat sekarang." Jawab Shen.
"Sekarang cepat kerjakan dan besok kita akan meeting dengan mereka disini." Ucap Aarav kembali fokus dengan berkas di depannya.
......................
"Apa? Kenapa tiba-tiba aku yang mewakili perusahaan untuk pergi di perusahaan Grey?" Zoe terkejut karena tiba-tiba dia yang ditunjuk untuk mewakili perusahaan bekerjasama dengan perusahaan Grey.
"Karena kebanyakan kau yang mengerjakan semua proposal ini Zoe, jadi kau yang lebih menguasai dan bisa menjelaskannya secara rinci dengan Mr. Grey nanti." Ucap wakil direktur perusahaan.
"Boleh aku bicara dengan ketua direktur, tuan Tio." Ucap Zoe.
"Silahkan Zoe, sebentar lagi dia akan keluar dari ruang meeting jika kau ingin menemuinya." Jawab Tio.
Satu jam kemudian Zoe menuju ruangan ketua direktur, sebelum masuk Zoe mengetuk pintu dan masuk setelah mendapatkan sahutan dari dalam.
Zoe berdiri di depan meja pria paruh baya yang tampak masih fokus dengan berkasnya di atas meja.
Zoe menelan salivanya mencoba memberanikan diri untuk bicara karena ketua direktur itu terkenal sangat galak dan tegas.
"Keluar jika tidak memiliki kepentingan!" Tegas pria paruh baya itu ketika Zoe baru hendak membuka mulutnya untuk bicara.
Zoe kembali menelan salivanya. *ya tuhan pria tua ini memang menyeramkan.* batin Zoe.
"Begini tuan Rodson, apakah benar jika anda mengganti seseorang untuk pergi ke meeting di perusahaan Mr, Grey besok?" Tanya Zoe penuh dengan ke hati-hatian.
"Kau keberatan?" Tanya tuan Rodson menatap tajam Zoe dari balik kacamatanya.
Zoe langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tersenyum. "Saya justru ingin berterimakasih karena anda memberikan kesempatan kepada saya tuan." Jawab Zoe diluar rencananya.
"Hmm... Sekarang keluarlah." Ucap pria itu.
Zoe pun pamit meninggalkan ruangan tersebut. Diluar ruangan raut wajah Zoe seketika berubah menjadi frustasi. Dia berjalan kembali ke ruangannya dengan memukul pelan bibirnya berulangkali.
"Berterimakasih apanya!! Aku justru frustasi, ck." Kesal Zoe yang terus menggerutu sampai di ruangan nya.
Zoe duduk di kursinya dan menjatuhkan keningnya di meja lalu mengantukkan keningnya ke meja beberapa kali. "Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan." Gumamnya.
"Hei Zoe, apa yang sedang kau lakukan? Keningmu bisa bengkak nanti." Tegur seorang karyawan wanita yang duduk disebelah Zoe.
Zoe melihat kearah wanita itu dengan pipinya yang menempel di meja."Eva, aku tidak sanggup berpijak di bumi ini lagi." Ucap Zoe mendramatisir.
Eva tertawa mendengar ucapan Zoe itu, lalu dia mengusap punggung wanita yang tampak sedang dilada kegalauan itu. "Ada apa sampai kau tak sanggup berpijak di bumi ini lagi, hmm?" Ucap Eva.
BERSAMBUNG.