
Hari sudah menunjukan jam 8 pas. Aliya harus ngampus jam 9. Aliya berangkat bersama sahabatnya, bernama Juli, sering di panggil Uli.
Mereka sangat dekat, sehingga orang mengira bahwa Aliya dan Uli adalah kakak adik.
Uli adalah sahabat baiknya Aliya, dia selalu ada buat Aliya, periang, tapi kadang dia agak lemot, gitu-gitu dia setia kawan.
Aliya : "Ul, makan yuk, laper nih. hehe"
Uli : "tempat biasa kan?"
Aliya : "yaiyalah, mau dimana lagi. Bajet kita cuma bisa makan di warmindo."
Uli : "hahaha iya iya, kita kere tapi bahagia, punya temen bisa di ajak susah seneng."
Aliya : "iiihhh, kamu aja yang susah aku mah enggaaa. hahaha"
Uli : "oke kalau gitu, fine."
Aliya : "apaan sih haha."
Uli : "suatu saat nanti kita bakal bisa makan di restoran bareng dan doubledate. hehehe"
Aliya : "aaaa, ga mau. Wek!"
Uli : "kok ga mau sih? jomblo ya, makanya itu cowok cowok pada ngantri lho, cakep, tajir, masa gada yang kamu suka?"
Aliya : "ga ada."
Uli : "si Bara ? "
Aliya : "Bara udah aku anggap teman kok. ga lebih."
Uli : "ya ampun Aliya , Bara tu suka sama kamu. Masa kamu ga peka sih?"
Aliya : "udah ah , aku gak mau ngomongin cowok, ga baik. aku besok maunya ta'aruf aja, ga boleh pacaran , haram"
Uli : "iya iya deh, ustadzah Aliya Fairus Ar Rozaq"
Hari sudah mulai sore, senja akan tiba. Aliya dan Uli harus pulang sebelum petang. Tetapi di tengah perjalan ban motor mereka bocor. Mereka terpaksa pulang terlambat. Ibu Aliya pun mencemaskan keadaan gadisnya. Kalau Uli, orang tua mereka sudah berpisah selama 10tahun. Uli tinggal bersama ayahnya. Ibunya, sudah menikah lagi. Kadang Uli suka menginap di rumah Aliya.
Aliya : "assalamualaikum."
Ibu : "waalaikumsalam. ya ampun Aliya Uli. dari mana saja kalian, Ibu mengkhawatirkan kalian."
Aliya : "maaf Bu, hp ku lowbat jadi gak bisa mau kasih kabar ibu."
Uli : "iya , bu. tadi ban Uli bocor, jadi kita harus nambal ban dulu."
Ibu : "yaudah, ibu maafkan. tapi jangan bikin khawatir lagi ya!"
Aliya dan Uli : "iyaa Bu,"
Ibu : "yaudah, makan dulu ,ibu sudah masakin masakan kesukaan kalian berdua."
Aliya : "makasih ya ibuku sayang, ibu ku paling pengertian deh." (langsung memeluk dan mencium ibunya)
Uli : "uuhhh aku jadi iri."
Ibu : "sini sini, anak yang satu ibu juga pengen di peluk"
Aliya langsung memeluk Uli dan Ibu.
Mereka makan bersama dengan lahap. Kebahagian mereka sangat sederhana. Kebersamaan membuat Aliya sangat bahagia. Orang terdekat seperti Uli dan Ibu menerima semua kekurangan Aliya.
Hari sudah gelap, Uli tidak berani untuk pulang. Uli memutuskan untuk menginap di rumah Aliya. Sebenarnya Uli adalah anak orang kaya, tapi sayangnya Uli kurang kasih sayang. Di rumah Aliya, Uli sangat nyaman, ia merasa bahwa ia di sayangi oleh sosok ibu dan kakak. Uli mengaharpkan keluarganya juga seperti keluarganya Aliya. Mereka hidup pas pasan, tapi mereka sangatlah bahagia.
Di kamar yang kecil, Aliya dan Uli saling bercanda. Tawa mereka lepas. Hingga mereka tertidur lelap.
Malam yang panjang, mereka berdua di takdirkan selalu bersama. Suka dan duka, pertemanan mereka tidak ada batasnya. Mereka saling melengkapi.
Sahabat adalah sebagian dalam hidupku. Dia adalah penyemangat di hidupku. Selalu ada untukku. Sahabat, simpan aku dalam kisahmu. Akan ku abadikan dalam ingatanku. Bahwa kamu adalah teman terbaikku. ~Aliya Fairus Ar Rozaq