
"Shen, kapan aku bisa kembali lagi? Bukankah bos sudah kembali bekerja?" Gerutu Lukas diseberang telepon.
"Bos kembali mogok kerja karena tuan Duke berada di New York." Jawab Shen.
Lukas mengumpat dalam hatinya. "Tapi pekerjaanku disini sudah selesai." Ucap Lukas.
"Kau pikir aku bodoh dan tidak tahu jika kau sudah meng cancel beberapa perusahaan untuk bekerjasama. Berterimakasih lah karena aku tidak mengadukanmu pada bos." Seru Shen.
"Itu karena mereka tidak memenuhi persyaratan untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan." Kilah Lukas.
"Jangan banyak alasan, dan lakukan pekerjaan dengan baik, jika kau kembali membuat ulah maka bos sendiri yang akan turun tangan langsung." Tegas Shen.
"Shen aku hanya ingin kembali secepatnya, tumpukan kertas sialan ini benar-benar membuatku pusing." Gerutu Lukas.
"Diamlah dan berhenti mengeluh, kau pikir hanya kalian saja yang pusing!!" Kesal Shen langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Dasar Shen sialan!!" Kesal Lukas.
"Bocah sialan!" Kesal Shen.
Tidak lama ponsel milik Shen kembali berdering. "Bermimpilah jika kau juga ingin kembali!!" Kesal Shen segera memutuskan telpon sebelum orang diseberang telepon berbicara.
"Ada apa dengannya?" Ucap Daniel bingung ketika Shen tiba-tiba mematikan teleponnya.
......................
......................
Satu minggu kemudian......
Duke sudah kembali ke eropa beberapa hari yang lalu. saat ini Arabella dan Aarab sedang tidur berpelukan di atas ranjang setelah melakukan kegiatan panasnya.
"Honey!!" lirih Arabella.
"Hmm... Iya sayang." jawab Aarav mengelus lengan istrinya.
"Ada yang ingin kukatakan padamu, Ini sangat penting dan ku harap kau tidak marah ketika aku mengatakannya." Ucap Arabella mendongakkan kepalanya melihat suaminya.
"Apa sayang? katakan saja, aku tidak akan marah." Jawab Aarav mencium kening Arabella.
"Kau janji?" Ucap Arabella.
"Hmm... Aku janji." Jawab Aarav.
"Tapi aku takut kau akan marah nanti." Lirih Arabella.
"Oh my.... Sweetie cepat katakan kau benar-benar membuat ku mati penasaran." Ucap Aarav yang sudah sangat penasaran.
"Lihatlah, belum aku mengatakannya saja kau sudah mulai kesal." cebik Arabella.
"Ya ampun, kenapa istriku sangat menggemaskan sekali. Baiklah jika kau masih tidak mengatakannya maka aku akan membantumu untuk mengatakannya." Ucap Aarav menggelitiki tubuh istrinya, hingga Arabella merasa geli.
"Katakanlah kalau tidak aku tidak akan berhenti sweetie." Ucap Aarav.
"Baiklah-baiklah, akan aku katakan tapi berhenti dulu." Ucap Arabella.
Aarav pun menghentikan gelitikannya. "Katakanlah." ucap Aarav.
"Kakek meminta tolong padaku untuk memberikan marga Kingston pada salah satu nama anak kita nanti," Ucap Arabella akhirnya.
"Lalu apa yang kau katakan pada kakek?" Tanya Aarav.
"Aku bilang akan mengatakannya padamu terlebih dahulu, jadi bagaimana menurutmu? aku tidak masalah jika kau tidak setuju honey, aku akan memberikan pengertian pada kakek nanti." Jawab Arabella.
"Kenapa kakek ingin melakukan itu?" tanya Aarav.
"Karena aku merupakan Keturunan murni Kingston yang terakhir, jadi kakek berharap aku bisa melanjutkan garis keturunan Kingston." Jawab Arabella.
"Bukankah calon pemimpin kerajaan Spanyol adalah pamanmu? apa dia juga bukan keturunan murni?" tanya Aarav.
Arabella menganggukkan kepalanya. "Uncle Edwardo merupakan anak angkat Kakek, uncle memiliki kepribadian yang bagus dan baik, oleh karena itu kakek menunjuknya sebagai calon raja nanti, dan untuk yang lainnya entahlah aku kurang mengerti." jelas Arabella.
Aarav menatap netra indah istrinya, dia tampak berpikir. "Baiklah, aku akan menyetujuinya." Ucap Aarav akhirnya.
Arabella terkejut mendengar jawaban suaminya yang tidak disangkanya itu. "A-apa?? kau serius honey??" ucapnya tercengang.
Aarav menganggukkan kepalanya. "Iya Sweetie, aku serius. Aku setuju karenamu. Aku tahu kau pasti juga tidak ingin garis keturunan keluargamu putus bukan?" Ucap Aarav menyelipkan rambut ke belakang telinga istrinya.
Aarav memang sebegitu besar mencintai istrinya, hingga dia rela salah satu anaknya di beri marga keluarga istrinya nanti, Hanya tidak ingin wanita tercintanya itu merasa sedih.
Arabella tiba-tiba mencebik dan air matanya jatuh membasahi pipinya dan terdengar isakan kecil setelah itu.
Aarav langsung memeluknya dan menenangkan istrinya. "Ada apa sayang? kenapa kau menangis? alasanku menyetujuinya justru karena tidak ingin melihatmu sedih sayang." Ucap Aarav lembut.
"Aku sangat senang honey.... Kau selalu memikirkan perasaanku... hiks!!" Ucap Arabella.
"You’re the source of my joy. The center of my world and of course the whole of my heart." Lirih Aarav.
(Kamu adalah sumber kebahagiaanku. Pusat dari duniaku dan tentu saja seluruh hatiku.)
"If I did anything right in my life, it was when I gave my heart to you, my special one." Ucap Arabella semakin memeluk erat suaminya.
(Hal benar yang kulakukan dalam hidup adalah saat aku memberikan hatiku kepadamu, orang spesial untukku).
"Thank you so much honey!!" Ucap Arabella.
"Hmm.... You're Lucky I Love You," Balas Aarav mencium puncak kepala istrinya.
BERSAMBUNG.