Leo Avalon

Leo Avalon
L A 89 - Rekayasa Gdanks



L A 89 - Rekayasa Gdanks


Apa yang terjadi di Kerajaan Gaspar tentunya menjadi perbincangan hangat. Banyak yang tidak menyangka jika sosok Raja Leguain melakukan kerjasama dengan Kekaisaran Timur. Namun yang sebenarnya terjadi jauh lebih mengerikan dari apa yang orang-orang perkirakan.


Leo yang mengetahui semua itu berniat untuk memberitahu V dan Cochlea untuk menjaga Lea. Leo berniat menunggu keduanya di Luvierte, namun ia hanya menulis sebuah surat sebelum pergi menuju Kerajaan Silica.


Lokasi Kerajaan Silica yang berada di Benua Gaspar menjadi tempat yang terisolasi dan berbeda dari kerajaan lainnya. Kerajaan Silica hanya mempunyai satu kota yakni Ibukota Silica yang dikelilingi tembok yang menjulang tinggi.


Tanpa meminta bantuan pada siapapun, Leo berniat menyelesaikan semuanya dengan Gdanks. Leo mengemban keinginan Chiesa dan ia sangat percaya diri dengan kemampuannya.


’Ini lebih baik. Dengan begini aku tidak akan kehilangan siapapun!’ Leo meyakinkan hatinya dan terus melanjutkan perjalanan.


Disisi lain di sebuah tempat yang jauh tepatnya Ibukota Silica terlihat Gdanks sedang menatap langit sore bersama salah satu orang kepercayaannya, Lapetus.


”Bagaimana Lapetus?”


”Apa benar Leguain telah dibunuh?” Gdanks bertanya.


”Benar, Yang Mulia. Banyak rumor yang bertebaran diluar. Kemunculan Chiesa dan pewaris Kerajaan Avalon. Aku rasa orang ini yang menjadi dalangnya” Lapetus menjelaskan.


Gdanks mengepalkan tangannya dan tersenyum, ”Leo Avalon, murid saudari bodohku bukan?! Cochlea, apa kau ingin membunuhku juga?!”


Gdanks menyeringai lebar saat kepalan tangannya dipenuhi api. Menyadari posisinya diancam, Gdanks akan menunggu orang-orang yang mencari masalah dengannya.


Awalnya Gdanks mengira Elemen yang akan bergerak, namun tidak pernah dia sangka sosok Leo yang akan memburunya.


”Lapetus, awasi pergerakan di Laut Gaspar... Orang-orang suci dari Bahamut selalu mencari kesempatan yang ada. Negeri ini adalah cerminan mereka. Aku rasa Panglima Shark sudah menyadari siapa kita semua dan dia akan bergerak.”


”Tuan Gdanks, para pasukan pemburu iblis sudah bersiap.” Pria tersebut berkata.


Gdanks tersenyum lebar, ”Bagus, saatnya aku memainkan peran sebagai musuh mereka dan membunuh semuanya!”


Situasi di Kerajaan Silica sama halnya dengan yang ada di Kekaisaran Bahamut. Apa yang terjadi kepada Gdanks, tentu saja semuanya berawal dari Kekaisaran Bahamut. Gdanks terlihat begitu menikmati semua hal yang ia lakukan di Kerajaan Silica yang telah menjadi tempat persembunyiannya selama puluhan tahun.


”Cochlea, kau seharusnya sadar jika dunia harus merasakan rasa sakit yang sama. Maka dari itu aku akan mengajari mereka semua tentang apa itu rasa sakit!”


Gdanks berkata dengan nada penuh kemarahan saat berdiri diatas sebuah bangunan. Lalu dengan aura sihir yang begitu pekat, Gdanks memulai aksinya saat melihat ratusan orang membawa sebuah pedang mengepung kediamannya.


”Telesto, Phoebe, pimpin pasukan kalian dan ladeni mereka!” ujar Gdanks.


Dari bayangan tubuhnya, Gdanks melihat iblis bernama Telesto dan Phoebe yang keluar. Kedua Iblis tersebut langsung bersujud dihadapan Gdanks sebelum memenuhi permintaan sang Raja Iblis tersebut.


”Saatnya makan para pecundang!” ujar Telesto saat puluhan Iblis tak berakal yang merupakan kelinci percobaan keluar dari bangunan yang menjadi rumah dari Gdanks.


”Sungguh nostalgia!” sahut Phoebe sambil tersenyum.


”Telesto, jangan bunuh mereka dengan cepat! Kita permainan mereka dan tunjukkan keputusasaan yang sesungguhnya!” Phoebe menambahkan.


Lalu kedua Iblis tersebut bergerak menyerang petinggi pasukan pemburu iblis dengan serangan cepat mereka. Malam itu pertempuran terjadi di Ibukota Silica. Pertempuran yang direkayasa oleh Gdanks dan sosok pria yang menjabat menjadi Raja Silica membuat Gdanks tertawa lebar malam itu.


Tumpukan mayat dan kekalahan telak manusia menjadi santapan hangat untuknya. Rasa sakit yang merayap dikuliti dan berbisik ditelinga membuat Gdanks melakukan semua ini.


”Ini tidak pernah membosankan,” ujar Gdanks.