
L A 44 - Venus dan Mercurius vs Raflesia
Serangan mematikan mengenai dirinya secara telak dan membuat Raflesia terpental menabrak reruntuhan bangunan. Bahkan sebelum Raflesia mengembalikan kesadarannya, tubuhnya dibekukan dan dihujani pukulan yang dipenuhi aura sihir secara bertubi-tubi.
“Sepertinya kalian berdua lebih kuat dari orang-orang yang barusan.” Setelah menemukan kesadarannya, Raflesia menahan pukulan seorang pria yang tidak lain adalah Mercurius.
“Lihat kekacauan yang telah kau buat ini sialan?! Bagaimana caramu harus bertanggungjawab hah?!” Mercurius melepaskan kekuatannya secara penuh dan langsung membuat Raflesia merasakan dampaknya.
‘Kemampuan fisik rupanya...’ Raflesia mencoba menangkis sebisa mungkin pukulan Mercurius agar tidak mengenai titik vitalnya.
Namun serangan Mercurius yang begitu kuat dan cepat membuat Raflesia yang salah memperhitungkan terkena serangan telak kembali. Suara tulang yang retak menggema saat tangan kiri Raflesia menahan pukulan Mercurius secara langsung.
‘Rendahan ini!’ Raflesia yang awalnya meremehkan sekarang menjadi dipenuhi emosi.
“Aku akan membunuhmu!” ucap Raflesia kepada Mercurius.
Sebelum Raflesia mengeluarkan jurusnya, Venus sudah berada di dekatnya sambil mengayunkan tangannya. Pedang es yang tercipta langsung menembus perut Raflesia dengan tepat dan menusuknya.
“Kau!” Mata Raflesia melebar saat menyadari kemampuan kedua orang yang dia hadapai ini tidak bisa diremehkan.
Venus tersenyum sinis melihat ekspresi terkejut Raflesia dan melancarkan serangan kembali. Terlalu mudah bagi Venus untuk menyerang Raflesia yang tidak memberikan perlawanan sengit.
Tubuh Raflesia terhempas kebawah dan Mercurius mengejarnya dengan kecepatan tinggi sambil mengarahkan pukulannya yang berisi.
“Kau tidak akan mati dengan mudah!” ujar Mercurius penuh emosi.
Tepat sebelum pukulan Mercurius mengenai tubuh Raflesia, suara tawa Raflesia terdengar.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu pada kalian berdua! Kalian akan kupastikan mati dengan sangat menderita!” ucap Raflesia sebelum tubuhnya terlihat seperti dibungkus oleh pusaran angin hitam yang melilit tubuhnya.
Saat pukulan kuat Mercurius bersentuhan dengan badan Raflesia, seketika badai tercipta menghempaskan tubuh Mercurius dan kembali menghancurkan semua bangunan yang ada disekitar Raflesia.
Aura hitam pekat memenuhi tubuh Raflesia hingga badannya tak terlihat dan hanya memperlihatkan sorot matanya yang tajam.
“Aku akan lebih serius!” ujar Raflesia sebelum menjentikkan jarinya.
‘Aku bisa merasakan aura yang berbahaya darinya. Bawahan Chiesa memang berbeda dari yang lainnya.’ Mercurius membatin dan mengeraskan tubuhnya berkali-kali lipat.
Sementara itu Venus mengamati Raflesia yang menyeringai kearah mereka berdua.
“Cobalah untuk menghiburku lebih jauh, manusia rendahan!” Raflesia melepaskan kekuatannya dan ratusan angin yang memadat berbentuk sabit berterbangan kearah Venus dan Mercurius.
Secara reflek Venus dan Mercurius menghindar saat melihat sabit angin itu memotong bangunan dengan begitu mudah. Namun melihat beberapa penduduk yang hanya bisa menangis histeris, Venus memutuskan untuk melepaskan aura sihir yang besar dan seketika dinding es yang tebal terbentuk.
“Hei, keparat! Apa kau tidak memiliki sedikitpun belas kasih?!” ujar Venus kepada Raflesia yang tertawa menghina.
“Belas kasih? Jika aku memilikinya maka dunia akan damai dan tidak ada peperangan atau pembantaian!”
Jawaban Raflesia itu membuat Venus emosi. Wanita itu sama sekali tidak menekan aura sihirnya dan bergerak maju mendekati Raflesia.
Pedang es yang besar tercipta dilangit dan mengarah pada Raflesia. Mengetahui api miliknya sangat tidak bagus melawan angin milik Raflesia, akhirnya Venus menggunakan es sebagai kemampuan utamanya.
“Majulah! Aku akan menunjukkan perbedaan besar antara kita berdua!” Raflesia kembali mengeluarkan jurusnya yang lain.
Benturan kedua serangan yang dilakukan Venus dan Raflesia menghancurkan apapun disekitar mereka. Namun setiap bongkahan reruntuhan ataupun serangan milik Raflesia tidak menyentuh para penduduk yang masih hidup.
Setiap reruntuhan ataupun serangan milik Raflesia terbang kearah penduduk, maka secara otomatis dinding pertahanan es tercipta.
Menyadari Venus tidak menggunakan kekuatannya secara penuh untuk melawannya karena sembari menolong penduduk, Raflesia tertawa mengejek dan menemukan celah untuk menyerang Venus.
“Kau terlalu naif, wanita!”
Saat pukulan Raflesia hampir menyentuh badan Venus, sebuah tangkisan datang dari Mercurius.
“Kau melupakanku, sialan!”
Mercurius mencengkeram tangan Raflesia dan langsung melepaskan pukulan yang dahsyat pada wajah pria tersebut.