
L A 55 - Seleksi
Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Galaxy, Leo dibawa Hera dan Saturn menuju Akademi Carta. Bubarnya Galaxy memang mengecewakan bagi Leo namun anak remaja tersebut sudah memantapkan langkahnya untuk tidak bergantung pada mereka.
”Kupikir kau akan lebih depresi setelah Galaxy dibubarkan, Leo?” Saturn berkata sambil memperhatikan Leo yang duduk dengan tenang diatas punggung elang yang besar.
”Apa yang menjadi tujuanmu masuk kedalam Akademi Carta, Leo?” sahut Hera bertanya.
”Aku ingin memastikan keberadaan seseorang yang ingin kulindungi. Aku harap dia baik-baik saja.” Leo menjawab dan membuat Hera sedikit heran.
Setelah melakukan perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh akhirnya mereka bertiga sampai disebuah perbatasan tiga kerajaan yang dikenal wilayah bernama Carta. Sebuah hutan sihir yang luas dan ada tanah tandus yang membentang gersang dengan gurun pasir yang ada disana juga membuat wilayah Carta ini dikenal tidak normal.
Dan disanalah berdiri sebuah akademi sihir terbaik di benua ini yang bernama Akademi Carta. Saat hendak memasuki Akademi Carta, Hera memberikan dua pilihan kepada Leo yang pertama Leo dapat masuk tanpa mengikuti tes apapun karena mendapatkan rekomendasi darinya dan yang kedua Leo dapat mengikuti tes ujian masuk kedalam Akademi Carta.
Saat melewati sebuah hutan sihir yang dipenuhi hewan buas, Leo memberikan jawaban kepada Hera namun Hera melakukan sesuatu yang tidak terduga.
”Ketua Hera, aku memilih yang pertama.”
Hera tersenyum misterius mendengarrnya lalu menyentuh punggung Leo dan mendorong anak remaja itu kebawah sana. Saturn yang melihat ini langsung mencekik leher Hera dan marah.
”Ketua laknat! Apa yang kau lakukan hah?!”
”Apa kau pikir dirimu ini Kakaknya!”
”Jika Leo mati akan kubunuh kau!”
”Tenamg, tenang, Saturn. Dia tidak akan mati.”
Sementara itu Leo yang terhempas jatuh kebawah langsung mengeluarkan kemampuan Phoenix dan terbang, namun saat dia hendak mengejar elang besar yang ditunggangi Hera dan Saturn, sebuah penghalang besar tercipta.
”Ujian masuk Akademi Sihir Carta dimulai! Ujian pertama yaitu bertahan hidup di hutan sihir ini selama satu minggu!” Suara lelaki menggema seisi hutan sihir yang telah dipasang penghalang.
Leo menoleh keatas dan melihat Hera yang melambaikan tangan.
”Dia memberikanku dua pilihan namun tidak membiarkanku mengambil jalan pintas!” umpat Leo kesal.
Leo tidak memiliki informasi apapun tentang ujian masuk dan langsung terjun kebawah mengamati keadaan disekitar. Sekarang Leo tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup selama seminggu di hutan sihir yang dipenuhi hewan buas.
Leo pun akhirnya menekan kemampuannya dan berjalan menyelusuri hutan sihir sambil mengamati. Yang pertama Leo temukan adalah segerombolan serigala berwarna perak yang sedang memangsa seekor singa emas.
Secara perlahan bulu-bulu serigala berwarna perak itu berubah menjadi emas dan langsung menatap Leo yang ada dibelakang mereka.
ROOOAAARRRR!!!
”Mereka menatapku sebagai mangsa yang harus dimakan?” Leo pun tersenyum dingin karena menyadari posisinya sebagai santapan lezat bagi segerombolan serigala emas tersebut.
Leo memperkuat fisiknya sama seperti yang pernah dilakukan Mercurius lalu bergerak lincah menyerang segerombolan serigala emas. Namun saat pukulan Leo mengenai telak tubuh salah serigala emas, Leo menyadari betapa kerasnya tubuh serigala emas tersebut.
‘Yang benar saja!’ Leo terkejut dan reflek mengeluarkan aura sihir yang besar saat segerombolan serigala emas hendak menerkamnya.
Dengan cepat Leo membekukan tubuh mereka semua sebelum ia menciptakan seratus tombak es yang berterbangan dan langsung membunuh segerombolan serigala emas tersebut.
Darah yang membeku pun bertaburan seperti butiran salju dan Leo pun memeriksa tumpukan kepala serigala emas tersebut dan menemukan sesuatu yang tidak dia duga.
‘Orang yang memanipulasi aura sihirnya seperti ini sangat hebat. Darah dan semuanya terlihat sangat nyata...’ pikir Leo sebelum dia merasakan hawa keberadaan seseorang.
”Berapa peserta yang bertahan selama seminggu jika baru berapa jam saja kita harus berhadapan secara terus-menerus dengan hewan!” Suara lelaki terdengar.
”Jangan mengeluh, Lopez! Kita berada disini karena ingin memperbaiki nasib kita bukan? Jangan mengeluh dan tetap waspada!” Kali ini suara seorang perempuan terdengar.
”Cih! Aku hanya dipaksa olehmu!”
”Apa kau mengatakan sesuatu?”
”Ti...tidak... Tidak... Aku sama sekali tidak mengatakan apapun.”
Leo yang sedang bersembunyi dan menyembunyikan hawa keberadaannya melihat dua anak remaja yang sebaya dengannya datang.
”Sepertinya ada peserta yang baru disini,” ujar anak remaja lelaki bernama Lopez.
”Tubuh hewan ini sangat berantakan. Dengan apa orang itu membunuhnya?” sahut anak remaja perempuan bernama Eva.
”Sebaiknya kita waspada dan menghindari pertemuan dengan peserta lain,” ajak Lopez.
”Tidak. Kita akan melanjutkan perjalanan kita mengalahkan penguasa hutan sihir.” Eva menolaknya.
”Bodoh! Sekarang bukan waktunya untuk keras kepala!” Lopez langsung menarik tangan Eva secara paksa dan menjauh dari lokasi Leo.
Mengetahui keduanya pergi, Leo pun keluar sambil mencoba mencerna perkataan keduanya tentang penguasa hutan sihir.
”Apa dengan membunuh penguasa hutan sihir aku dapat lolos seleksi ini?”