
L A 43 - Pembantaian
Beberapa saat sebelum Chiesa sampai di Kerajaan Soul, sosok yang menyandang gelar Raja Iblis Agung itu terbang dengan seseorang yang tubuhnya terbawa angin.
“Aku bersedia membantu karena Panglima Shark yang memintaku. Beliau tertarik dengan rencanamu yang ingin menghancurkan keseimbangan Raja Iblis yang diciptakan Gaia.” Pria dengan tatapan dingin berkata.
Pria yang terbang menggunakan sayap hitam di punggung kanan dan sayap putih di kirinya itu menanggapi dengan tenang.
“Aku berjanji akan memperlihatkan hasil yang memuaskan dari Proyek Angel. Orang-orang di negeri itu hanya akan menjadi tumbal kebangkitan diriku menjadi sosok yang lebih tinggi.” Pria yang tidak lain adalah Chiesa menanggapi.
Secara tidak sadar Chiesa mengingat sebuah masa lalu saat dirinya tidak berdaya dan melihat kedua orang tuanya dibakar hidup-hidup oleh manusia. Mengingat itu Chiesa memejamkan mata dan ekspresi wajahnya berubah menjadi buruk.
Saat melihat bayangan Ibukota Soulfred, Chiesa mengeluarkan aura sihir yang berpusat pada kedua sayapnya. Lalu saat dia mengepakkan sayapnya, hembusan angin kencang menghantam dinding Ibukota Soulfred dan mmenghancurkan apa saja yang terkena hembusannya.
“Raflesia, kau menyukai pembantaian bukan? Lihat seberapa jauh dirimu bisa membunuh para manusia rendahan ini!” Chiesa menatap urusan Kekaisaran Bahamut yang datang bersamanya dengan senyuman tipis.
Pria bernama Raflesia tertantang dan menatap beberapa orang yang tewas di tempat tertindih bangunan ataupun reruntuhan dinding. Melihat ekspresi Chiesa yang biasa saja membunuh Raflesia mengeluarkan aura sihirnya yang pekat lalu menciptakan badai hitam yang memporak-porandakan Ibukota Soulfred.
“Sepertinya mereka telah bergerak di Wilayah Indibil, kalau begitu aku akan menuju Vildahala.” Chiesa menatap kearah Wilayah Indibil yang terlihat asap pertarungan dan gelombang kejut.
“Serahkan padaku yang ada disini. Kita lihat seberapa kuat Three Lions ataupun para Elf dari Kerajaan Sylv untuk memburu pendatang seperti kita!” ujar Raflesia.
“Jangan lengah, Raflesia. Kau meremehkan manusia dari Benua Carta, kau bisa saja mati.” Chiesa mengingatkan.
“Baik, aku akan ikuti saranmu. Itupun jika ada orang yang dapat membuatku merasakan kekhawatiran.” Kemudian keduanya berpisah.
Chiesa bergerak menuju Wilayah Vildahala sedangkan Raflesia melanjutkan serangannya pada penduduk kota. Ekspresi yang ditunjukkan Chiesa hanyalah kesenangan saat melihat banyaknya orang-orang tersiksa dan meminta tolong.
“Inilah takdir untuk orang-orang yang lemah. Jalankan perintah dan kau akan hidup mendapatkan kepercayaan, menolaknya hanya akan mati.” Raflesia tersenyum lebar sebelum memanipulasi kemampuannya tersebut.
“Jangan dendam padaku. Kalian hanya bisa menerima takdir kalian.” Saat Raflesia menatap banyaknya anak kecil yang tertimpa reruntuhan dan batu, dia melihat beberapa orang berlari kearahnya dan beberapa dari mereka terbang menuju dirinya.
“Siapa mereka?” Raflesia mengerutkan keningnya dan menatap pria yang tidak lain adalah Marcelo dari pasukan pemberontakan.
“Saat kami menyergap Istana Soul, tidak ada satupun orang disana dan kau muncul secara tiba-tiba dengan meriah keparat!” Marcelo berteriak lantang kepada Raflesia dan mengeluarkan pedangnya.
Raflesia tersenyum lebar karena melihat keberanian Marcelo yang datang bersama beberapa bawahannya.
“Majulah! Aku harap kau dapat bertahan lama!” Raflesia menciptakan badai yang sangat kecil di telapak tangannya sambil menatap Marcelo.
“Jangan besar kepala!” Marcelo maju sambil mengalirkan aura sihir pada pedangnya.
Sementara Marcelo maju sambil melepaskan satu tebasan perkenalan, Raflesia mengayunkan tangannya dan melepaskan badai hitam kecil ditangannya ke udara.
Seketika angin yang begitu kencang menerpa tubuh Marcelo dan menghempaskannya. Raflesia menggunakan kesempatan itu untuk mempersingkat jarak dan menyerang Marcelo.
“Perbedaan kita terlalu jauh!” Raflesia tersenyum lalu menjentikkan jarinya.
Marcelo yang berusaha mendapatkan kembali keseimbangannya mendapatkan serangan mematikan dari Marcelo. Kumpulan angin yang menajam dan memadat itu berubah menjadi mulut seekor Naga yang ******* tubuh Marcelo dan mencabik nya.
Serangan yang dilakukan pasukan pemberontak dalam sekejap padam setelah melihat kematian tragis Marcelo. Nasib mereka tidak jauh sama seperti Marcelo dan sama sekali tidak memberikan perlawanan yang berarti kepada Raflesia.
“Ini sangat membosankan...” Raflesia menekan aura sihirnya seminimal mungkin.
Saat Raflesia hendak melihat kearah Wilayah Vildahala, sebuah aura sihir yang besar langsung menerpa tubuhnya. Raflesia merasakan hawa dingin yang besar dan membekukan tubuhnya, lalu pandangannya jatuh pada dua orang yang menerjang tubuhnya.