Leo Avalon

Leo Avalon
L A 27 - Puzzle



L A 27 - Puzzle


Tak jauh dari lokasi pertempuran Mercurius, Venus dan Saturn yang melawan Naga Hitam, terlihat Leo yang sedang berhadapan dengan Videla dan Davi.


‘Jadi Nereid babak belur karena ulah mereka berdua? Walau telah kehilangan sang Raja namun tatapan mereka tetap hidup. Apa ini sebenarnya?’ Leo membatin dan menangkis segala serangan yang dilancarkan Videla dan Davi.


“Jadi kau orang yang bernama Ghost? Wajahmu terlihat rupawan dan kau pasti akan populer saat dewasa.” Videla berkata kepada Leo yang menangkis tebasan pedangnya.


“Hentikan khayalanmu itu, Videla. Dia akan mati hari ini dan tidak akan pernah dewasa,” sahut Davi.


“Hati-hati Leo! Mereka berniat menyandera penduduk dan meledakkan bom sihir!” ujar Charlotte mengingatkan.


Leo hanya tersenyum tipis sesaat, “Apa kau tidak melihat situasi kita saat ini Charlotte? Banyak orang yang telah mati. Antara menyelamatkan nyawa mereka dan dirimu, aku lebih memilih dirimu.”


Mata Charlotte melebar. Ini adalah pertama kali ia melihat Leo tersenyum walau hanya sesaat. Benar perkataan Leo kondisi Ibukota Floral sudah sangat memprihatinkan dan banyak prajurit yang sudah gugur tetapi mengingatkan ancaman Videla dan Davi membuat Charlotte ketakutan.


‘Mereka berdua mengatakan jika John Flamingo akan segera kemari bersama pasukannya. Aku harus menuruti kata mereka jika tidak pembantaian akan semakin merajalela.’ Charlotte menjerit dalam hati karena dia mengetahui apa yang sedang John Flamingo lakukan.


“Saat ini mungkin sudah banyak penduduk desa yang mati. Dan kita sedang bertarung sengit seperti ini. Apa kau tidak memperhatikan asap yang ada disekitar Ibukota Floral ini?” Videla berkata sambil mendorong tubuh Leo yang menahan tebasan pedangnya.


Leo tidak bergeming dan tidak mempedulikan ucapan Davi. Dia terlahir kembali bukan untuk menjadi seorang pahlawan atau juru selamat, dia terlahir kembali untuk melindungi orang yang dia sayangi tidak lebih.


Pengorbanan memang perlu dilakukan, jika tidak ingin ada yang dikorbankan maka satu-satunya jalan adalah menjadi yang terkuat dari siapapun juga.


Leo yang mengetahui semua serangan Videla setelah menangkis semua serangannya berniat melakukan serangan balik, namun Davi dengan tinju petir miliknya cukup merepotkan Leo.


“Ucapanmu terdengar seperti meminta seorang pembunuh menyelamatkan penduduk desa... Peran kita terbalik, sialan. Seharusnya kau yang melindungi mereka dan bukan menyalahkan tugasmu pada orang lain!” Leo menangkis pukulan petir Davi lalu melepaskan sebuah pukulan yang bertenaga dan membuat Davi terpental saat menahannya.


Dengan kecepatan tinggi Leo terbang menggunakan kemampuan Phoenix dan melepaskan satu serangan mematikan kepada Videla.


“Kekuatan ini!” Videla terkejut melihat kemampuan yang dimiliki Leo. Seolah-olah dalam sekejap dirinya bertarung dengan beberapa orang.


Dengan tendangan kakinya yang membentuk cakar api, Leo mengarahkan tendangannya pada kepala Videla.


“Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan Pangeran Mars?” Videla mempertahankan diri sekuat mungkin namun Leo menembusnya dengan mudah.


“Cakar Naga Api!” Satu tendangan mendarat tepat dikepala Videla membuat pria itu jatuh tersungkur di tanah.


Kemudian Leo memutar tubuhnya menahan pukulan Davi yang menatapnya penuh kemarahan.


“Keparat, jadi kau yang membunuh Pangeran Mars?! Aku akan membunuhmu!” Lalu Davi menyerang Leo secara membabi-buta.


“Cih!” Leo mengumpat saat dadanya terkena pukulan Davi.


Serangan agresif Davi cukup merepotkan Leo sebelum akhirnya Leo mendapatkan kesempatan emas untuk membunuh keduanya dalam sekejap. Dengan kondisi Videla yang terkapar dan Davi yang masih prima, Leo tidak mengalami masalah yang berarti.


Mata Charlotte melebar melihat hal ini. Kemampuan Leo sangat bervariasi dan memiliki jenis unsur lebih dari dua. Selain itu kemampuan Phoenix yang merupakan salah satu klan kuno juga membuat Charlotte takjub akan hal itu.


“Sudah berakhir,” ucap Leo.


Dengan kedua tangan yang meremas, tubuh Davi dan Videla yang membeku hancur berkeping-keping. Leo mengakhiri nyawa keduanya dan menyelamatkan Charlotte.


“Leo!” Charlotte segera bangkit menuju Leo.


“Lihat, kau sampai babak belur seperti ini Charlotte. Bukankah kau salah satu orang terkuat di Akademi Carta?” Leo menatap Charlotte dingin walau sebenarnya dia merasa lega Charlotte terlihat baik-baik saja.


“Leo, aku... Aku gagal melindungi siapapun... Aku bukanlah orang kuat melainkan gadis lemah yang tidak beruntung...” Ucapan Charlotte barusan mengingatkannya pada sosok gadis yang pernah menyelamatkan hidupnya dikehidupan lamanya.


Mata Leo melebar melihat sosok Charlotte. Tanpa sadar Leo hampir memeluk Charlotte dengan erat, namun dia hanya mengelus kepala Charlotte dan mengatakan sesuatu dengan penuh ketenangan.


“Bukankah ada hal lain yang harus kau lindungi?” ucap Leo.


Charlotte memahami ucapan Leo dan berniat mencegat pasukan sihir yang dikirim dari Kota Rocheforst. Charlotte memberitahu Leo jika rencana Videla dan Davi yang berniat membumihanguskan Kota Rocheforst berhenti karena dirinya bersedia di tangkap.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah rencana tersebut tetap dijalankan oleh Guild Rocheforst dan membuat Charlotte semakin syok karena mengetahui banyak penduduk tak bersalah yang mati.


Nereid sempat berusaha menolongnya namun pada akhirnya pemuda itu dikalahkan oleh Davi. Sekarang pasukan sihir Guild Rocheforst berniat mengepung semua penjuru Ibukota Floral dan menghabisi pasukan pemberontak yang bekerjasama dengan Galaxy.


Mendengar ini Leo mengepalkan tangannya hingga api membara dikepalan tangannya.


‘Semua ini karena keparat itu! Aku akan membunuhnya!’ Leo berkata penuh emosi dalam hatinya mengingat sosok Kazan.


“Leo,” ucap Charlotte.


Leo menatap Charlotte kemudian dia menoleh kearah Naga Hitam yang sudah menghancurkan hampir seluruh Ibukota Floral.


“Aku akan menjalankan tugasku,” ucap Charlotte sambil membuka telapak tangannya.


“Aku akan menghentikan mereka,” lanjut Charlotte saat pedang es yang merupakan salah satu pedang tercantik didunia muncul ditelapak tangannya.


“Apa kau perlu bantuan ku, Charlotte?” Leo berniat menawarkan diri membanti Charlotte.


“Tidak perlu, Leo. Aku bisa mengatasinya sendiri. Bukankah kau juga ada sesuatu yang harus kau lakukan?” ujar Charlotte sambil menatap Naga Hitam yang mengarahkan semburan api kearah mereka berdua.


Leo menghindar begitu juga dengan Charlotte. Keduanya berlari sebelum akhirnya berpisah. Leo melompat keatas dan melepaskan kemampuan Phoenix sebelum terbang dengan kecepatan tinggi menuju Naga Hitam.


Melihat Leo yang tidak menoleh sedikitpun kebelakang membuat Charlotte tersenyum.


“Leo, suatu saat giliran aku yang akan menyelamatkanmu.” Kemudian Charlotte bergerak menuju luar kota dan menghabisi pasukan sihir yang tersisa dan berusaha menghadang dirinya.