
L A 60 - Catherine
Acara penyambutan siswa baru pun berjalan dengan lancar. Sekarang Leo menjalani perannya sebagai siswa Akademi Sihir Carta. Dua sosok yang menjadi perbincangan hangat siswa akademi adalah Karen Bladeheim dan Jennie Flameheart.
Jennie Flameheart menjadi perwakilan murid baru yang masuk melalui jalur rekomendasi, sedangkan Karen Bladeheim merupakan murid baru yang mendapatkan banyak poin nilai karena mengalahkan Hewan Buas Sihir dan iblis.
Suasana didalam kelas satu pun bisa dibilang cukup tegang karena disana ada enam murid yang melewati ujian masuk dan lima murid yang masuk lewat jalur rekomendasi. Sedangkan sosok yang akan menjadi wali kelas mereka adalah wanita bernama Catherine.
Sementara yang lain sibuk mengobrol, Karen mendatangi Leo yang duduk menyendiri didekat jendela.
”Kau... Kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu?” Karen bertanya kepada Leo.
Banyak hal yang ingin Karen tanyakan namun Leo sangat menjaga jarak dari siapapun. Leo menatap Karen untuk sesaat sebelum mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela.
”Aku sama sekali tidak menyembunyikan kekuatanku,” ucap Leo.
”Jangan bermain-main denganku!” Tiba-tiba Karen memegang kerah baju Leo dan menatapnya tajam.
Semua orang dikelas langsung melihat mereka berdua dengan ekspresi terkejut.
”Hmmm... Karen, apa kau bisa diam? Aku benci kebisingan.” Gadis cantik dengan rambut berwarna hitam menegur Karen.
”Berisik, Jennie! Aku tidak butuh tegurannmu itu!” Karen langsung kembali ke tempat duduknya dengan kesal.
Kemudian gadis bernama Jennie Flameheart melirik Leo dengan tatapan tajam.
’Sepertinya mereka berdua memiliki hubungan yang menarik...’ Jennie membatin dan tersenyum sebelum akhirnya sosok wali kelas mereka datang.
Suara pintu terbuka dan memperlihatkan Catherine yang menguap. Terlihat jelas Catherine seperti orang yang malas mengajar sesuatu pada mereka.
”Cuma sebelas murid? Ini lebih bagus. Biasanya dua puluh murid yang masuk.” Catherine memperhatikan semua murid yang ada dikelasnya sebelum memperkenalkan diri kepadanya mereka.
Setelah itu Catherine meminta satu demi satu murid untuk memperkenalkan diri. Sama halnya seperti Karena Bladeheim yang berasal dari Kerajaan Avalon, Jennie Flameheart juga berasal dari sana.
Kurang lebih latar belakang mereka adalah imigran karena keluarga mereka dibantai oleh Kazan. Sama seperti Karen, Jennie juga memilki tujuan yang sama untuk membunuh Kazan dan Dragon.
Sedangkan dua murid lain yang memiliki tujuan dendam di akademi ini adalah Milan Silica dan Vasco Gaspar.
”Dari semua orang yang ada dikelas ini, bukankah kau yang terlihat sangat membosankan. Siapa tadi namamu? Leo... Leo?”
Saat Leo sedang diam, tiba-tiba teman sekelasnya yakni Milan Silica berbicara dan tersenyum mengejek Leo.
”Tujuanmu kemari karena ingin melindungi seseorang... Kau tidak memiliki ambisi yang kuat,” ucap remaja yang dipanggil Milan itu.
”Cukup, Milan. Kau tidak berhak mengomentari orang lain.” Anak remaja lainnya menegur. Dia adalah Vasco Gaspar.
”Vasco!”
Saat Milan hendak berdiri, Catherine langsung melempar kerikil yang terbentuk dari aura sihir ke kepala Milan.
”Aduh!”
”Bisa diam? Apa kau ingin dikeluarkan?” ucap Catherine dan membuat semuanya diam.
”Bagus. Selama mengajar aku selalu memiliki murid yang berbakat dan ambisius. Tahun ini muridku telah lulus dan dia menjadi Ratu Floral diusia muda. Aku harap kalian bisa mencontohnya. Jadilah manusia yang tidak pernah padam untuk menggapai tujuannya.”
Mendengar ucapan Catherine semua murid disini langsung tertuju pada nama Charlotte Floral. Didalam Akademi Sihir Carta, nama Charlotte Floral sangat tenar berbanding terbalik dengan apa yang Leo lihat selama ini.
”Pertama, apa ada murid disini yang ingin menjabat sebagai Ketua Kelas?”
Karen dan Jennie langsung mengangkat tangan mereka. Keduanya saling menatap sengit satu sama lain seperti orang yang sedang bersaing. Hal ini membuat Catherine tersenyum.
’Tahun ini sangat menarik. Dua murid jenius yang bersaing, dua remaja dengan latar belakang yang hebat dan gadis Elf yang pendiam...’ Catherine membatin sambil memperhatikan mereka sebelum pandangannya jatuh kepada Leo.
’Elf itu pendiam dan terlihat dingin, tapi apa-apaan bocah itu? Dia seperti tidak tertarik dengan kelas ini!’ Catherine pun berdeham dan langsung menunjuk Leo.
”Leo... Guru menunjukmu sebagai Ketua Kelas,” ucap Catherine.
Seketika mata Leo melebar tidak percaya. Leo enggan berurusan dengan sesuatu yang merepotkan dan berusaha untuk tidak terlibat, namun Catherine membuatnya dalam situasi yang sulit.
”Aku setuju. Walaupun seperti ini, dia dapat diandalkan,” ucap Kudela.
”Jika Leo yang menjadi Ketua Kelas, kurasa itu tak masalah. Aku yakin kita akan baik-baik saja,” sahut Lopez.
”Aku juga setuju. Kau dapat menjalankan tugas ini kan Leo?” Maya menatap Leo dengan penuh kepercayaan.
”Kau melihat kemampuannya bukan Maya? Kita membutuhkan seorang pemimpin yang berkepala dingin dan tenang.” Eva menanggapi.
Leo pun menghela nafas karena melihat tatapan Karen dan Jennie yang menatapnya penuh permusuhan. Bukan itu saja tatapan dari Milan dan Vasco semakin membuatnya risih.
”Cih!” Leo mendecakkan lidahnya karena dia sadar semua yang ada dikelas ini benar-benar ingin menikmati masa muda mereka dan sangat berbeda dengan dirinya.
”Jadi bagaimana tanggapan mu Leo?” tanya Catherine.
”Aku keberatan-”
”Oke. Guru tidak butuh pendapatmu. Ketua Kelas dipegang oleh Leo dan Wakil Ketua Kelas dipegang oleh Jinan Leafa. Sementara posisi Sekretaris dan Bendahara dipegang oleh, Karen Bladeheim dan Vasco Gaspar.”
Catherine telah memutuskan sesuatu dan tidak ada satupun yang dapat membantahnya dikelas. Hari itu akhirnya Catherine memulai pelajaran sihirnya dan melakukan perkenalan singkat kepada sebelas muridnya.