
L A 61 - White Room
Beberapa hari setelah Leo menjalani kehidupannya sebagai murid Akademi Sihir Carta, Leo sudah bisa membaur dengan yang lainnya walaupun sulit untuk akrab dengan semuanya.
Bahkan saat membahas perwakilan kelas yang akan mengikuti Ujian Musim Semi, semuanya berdebat dan tidak ada yang mau mengalah untuk mendukung. Semuanya ingin mengambil bagian sebagai perwakilan kecuali Leo dan remaja bernama Galadriel Tripier.
”Aku, Leo dan Galadriel! Tiga perwakilan ini sudah cukup menurutku!” ujar Jennie.
”Hah? Itu hanya dari sudut pandangmu! Aku adalah orang yang berhak mendapatkan tiket untuk ujian ini!” sahut Karen.
”Kalian dua pikir hanya kalian saja yang tertarik?!” Maya ikut berdebat.
Catherine yang melihat ini menghela nafas sebelum menepuk tangannya sekali agar semuanya diam.
”Bagus. Kenapa kalian suka sekali kebisingan. Harusnya dari kalian ada yang mengalah. Apa kalian tidak pernah mendengar pepatah yang mengatakan jika seorang yang waras itu mengalah?” ucap Catherine.
”Guru, aku tidak pernah pepatah itu sebelumnya,” sahut Maya.
Catherine hanya tersenyum kecut karena ucapannya barusan juga baru saja dia katakan. Kemudian Catherine berdiri dan meminta mereka semua untuk mengikuti kegiatan Ujian Musim Semi.
”Tahun ini istimewa dan tiga perwakilan kelas lolos akan mengikuti Turnamen Musim Dingin.” Catherine menjelaskan.
”Ujian ini akan diikuti semua siswa akademi termasuk Sepuluh Elite Carta. Kalian berkesempatan mengambil kursi dari murid terbaik di akademi ini.” Catherine menambahkan dan membuat semua orang bersemangat kecuali Leo.
”Leo, sebagai Ketua Kelas, Guru sangat berharap padamu. Minimal kau berada di tiga besar dan maksimal juara.” Catherine memberikan beban berat kepada Leo.
”Semangat Ketua Kelas,” ucap Eva sambil tertawa pelan karena Leo terlihat kesal.
”Leo, sepertinya Guru sangat berharap padamu,” ujar Lopez.
”Dia hanya sengaja mempermainkanku.” Leo pun menghela nafas sebelum mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Musim Semi sebagai perwakilan kelas satu akademi.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, murid baru tahun ini dipandang sebelah mata oleh murid kelas dua dan tiga. Bagi Leo hal tersebut bukanlah sesuatu yang masalah, ia berada di akademi ini karena ingin bertemu dengan adiknya Lea. Tidak kurang ataupun tidak lebih.
Namun ketertarikan Catherine kepada Leo membuat anak remaja harus menjalani kehidupannya di Akademi Sihir Carta menjadi lebih berat karena bebannya sebagai Ketua Kelas.
Ujian Musim Semi yang akan diadakan seminggu lagi merupakan ujian untuk peringkat kelas terbaik. Dengan berburu Hewan Buas Sihir ataupun memusnahkan Iblis, para murid akan bersaing mendapatkan banyak poin.
Dan hal inilah yang membuat beberapa murid berambisi mencapai puncak dan berbuat curang. Tiga hari sebelum diadakannya Ujian Musim Semi, Kudela dan Lopez terluka parah karena berkelahi dengan murid kelas dua hal ini membuat keduanya mendapatkan perawatan.
Mengetahui Galadriel ada dilokasi kejadian membuat Leo bertanya pada teman sekelasnya tersebut.
”Leo, aku sarankan kau tidak ikut campur masalah ini.” Galadriel justru mengingatkan Leo.
Galadriel tersenyum sinis dan memegang pundak Leo dengan erat.
”Kau yang nilainya rata-rata ingin menghentikannku? Aku tidak pernah protes karena kau orang yang kalem dan pendiam, namun sepertinya kau peduli dengan orang-orang lemah disekitarmu.” Dengan sangat keras Galadriel mendorong tubuh Leo hingga tersungkur.
Leo membiarkan Galadriel pergi dan menghela nafas karena akhir-akhir ini dia bisa menahan amarahnya.
’Peringkat kelas sangat berpengaruh dengan nilai pribadi. Aku sendiri ingin tidak peduli, tetapi melihat mereka berjuang sekeras ini, benar-benar membuatku kesal.’ Leo membatin sambil bangkit berdiri.
”Kenapa kau menahan diri? Dari semua murid yang kulihat kau memiliki aura yang hampir sama dengan Kepala Sekolah dan Saturn-Sensei. Dengan kekuatanmu ini bahkan kau bisa bertarung dengan Catherine-Sensei.”
Leo terkejut saat gadis cantik dengan tatapan dingin menatap dirinya. Telinga runcing dan rambut perak yang panjang itu membuat pesona gadis itu sangat sulit didekati bahkan ini merupakan pertama kalinya gadis itu berbicara kepada Leo.
”Kau... Jinan Leafa?”
”Apa yang kau katakan-”
”Kau tidak bisa membohongi mataku, Leo. Kau mungkin bisa membohongi yang lainnya tapi tidak denganku.”
Mengetahui jika Jinan bukanlah gadis biasa seperti yang lain, Leo menatapnya dingin dan penuh ancaman.
”Jadi apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui semua itu? Apa kau akan memberitahu mereka?” ucap Leo.
”Semua itu tergantung dirimu. Setelah pulang temui aku di Ruang Penasehat. Ada seseorang yang menunggumu disana.” Jinan meninggalkan Leo setelah berkata demikian.
’Gadis itu berbahaya. Aku tidak bisa menganggap remeh kemampuannya.’ Leo mengetahui jika Jinan memiliki mata yang spesial namun ia tidak menyangka Jinan menyembunyikannya.
Setelah pulang Leo langsung pergi menuju Ruang Penasehat dan disana sudah ada Jinan yang menunggu dirinya bersama seorang gadis yang lebih tinggi dari Jinan dan memiliki aura yang kuat.
”Jinan, apa dia orangnya?” ucap gadis itu.
”Benar, Kakak Lechia. Mataku tidak bisa dibohongi. Aku bisa melihat aura mengerikan darinya.” Jinan menjawab.
”Masuklah. Ratu menunggumu didalam.” Gadis itu mempersilahkan Leo untuk masuk kedalam Ruang Penasehat.
Leo segera masuk dan menemukan seorang wanita dewasa sedang duduk diatas meja menikmati minuman dan menatap keluar jendela.
Setelah Jinan dan gadis Elf menutup pintu, wanita dewasa yang merupakan Elf tersebut menjentikkan jarinya. Seketika Leo berada didalam sebuah ruangan yang serba putih dan tidak dapat menggunakan aura sihirnya.
”Aku tidak bisa membiarkan seorang penyusup hidup. Situasi di Benua Carta sedang begitu kacau. Cepat atau lambat orang-orang Bahamut akan datang. Apa kau mata-mata mereka?” Wanita dewasa itu menatap dingin Leo dan membuat tubuh Leo terduduk tanpa perlawanan.
”Pertama, perkenalkan dirimu dan bicaralah yang jujur jika kau ingin hidup.”