Leo Avalon

Leo Avalon
L A 38 - Olympus Soul



L A 38 - Olympus Soul


Ketegangan terjadi di Wilayah Indibil dan membuat kubu pasukan pemberontak terpecah belah. Sosok pemimpin pasukan pemberontak yang terlihat sudah tua itu berusaha mencegah ketiga orang penting didalam pasukan pemberontak untuk tidak berseteru karena perbedaan pendapat.


“Jorge, Marcel, Nggere, kita menghadapi musuh yang kuat, jika kita tidak bersatu maka kita akan kalah dengan mudah.” Kakek tua yang disebut sebagai Kakek Heitor itu berusaha mencegah perseteruan.


Namun terlihat kedua pria sudah bersitegang melebihi batasannya, keduanya hendak menarik senjata mereka namun pria lainnya menahan.


“Marcelo! Nggere! Ini bukan waktunya untuk berdebat! Lebih baik kita ikuti arahan Guru Heitor!” Pria yang terlihat tenang dan bernama Jorge itu menenangkan dia saudara seperguruannya.


“Jangan munafik, Jorge! Kau juga sebenarnya ingin membunuh Raja Earth yang bodoh itu bukan?! Tidak ada yang namanya jalan keluar setelah mereka membantai dan melakukan kekejaman pada rekan seperjuangan kita!” Pria bernama Nggere membentak Jorge dan marah.


“Peperangan tanpa korban hanya dalam sebuah dongeng!” Nggere menendang pria dihadapannya dan mengibaskan pedangnya hingga menciptakan gelombang kejut.


“Aku akan berjalan diatas jalanku sendiri! Jangan ikut campur atau aku akan membunuh kalian berdua!” Nggere mengancam kedua saudara seperguruannya sebelum pergi meninggalkan ruang pertemuan.


“Aku juga akan bergerak sesuai rencanaku! Aku tidak bisa diam saat mengetahui mereka berencana membunuh penduduk di Vildahala untuk menyambut kebangkitan Chiesa!” Sekarang pria yang ditendang Nggere dan ernama Marcelo bicara sebelum pergi.


Melihat kedua rekannya pergi, Jorge menghela nafas dan berjalan kearah tembok besar. Lalu pria ini mengepalkan tangannya dan menghantam tembok tersebut hingga hancur berkeping-keping.


“Mereka berdua benar-benar menjengkelkan! Jika seperti ini maka rencana yang kita jalankan selama beberapa tahun terakhir ini akan percuma!” ujar Jorge.


Kakek Heitor langsung menegur, “Jorge, tahan amarahmu. Aku bisa mengerti mengapa mereka berdua bertindak seperti itu. Kita hanya perlu menjalankan rencana kita dan berusaha membujuk mereka berdua sebelum bertambah parah.”


Jorge langsung meminta maaf kepada Kakek Heitor dan menatap ratusan pasukan pemberontak yang bertahan, sedangkan yang lainnya pergi mengikuti Marcelo dan beberapa orang saja yang mengikuti Nggere.


_____


“Joram, Reptile, Wilayah Indibil akan menjadi uji coba pertama kita. Aku ingin kita semua memastikan keberhasilan Proyek Angel agar beliau tidak marah.” Pria dengan pakaian kebesaran Kerajaan Soul menatap dua orang yang sedang menikmati hidangan sajian di Istana Soul.


“Olympus, rencana Tuan Chiesa hanyalah satu yaitu membunuh semua orang di Kerajaan Sylv. Untuk itu dia bekerjasama dengan Kekaisaran Bahamut dan aku yakin beliau juga memikirkan rencana untuk mengendalikan Kekaisaran Bahamut seperti mengendalikan dirimu,” kata pria yang tidak lain adalah Joram.


“Jika Proyek Angel berhasil maka kita akan mengalahkan pasukan iblis Gdanks!” sahut Reptile yang sedang makan di ruangan tersebut bersama Olympus dan Joram.


“Aku sangat mengetahui itu dan aku tidak keberatan mengambil jalan ini setelah orang yang paling berharga dalam hidupku tiada. Aku akan membantu Tuan Chiesa menguasai Benua Carta.” Olympus menanggapi.


Saat ketiga kembali memperbincangkan tentang rencana memburu pasukan pemberontak, tiba-tiba pintu ruangan diketuk sebanyak lima kali dan tak lama seorang penyihir datang.


“Yang Mulia, hamba... Hamba datang melapor... Si Jenius Zeketaryan telah kembali... Argh!” Penyihir tersebut tiba-tiba mengeluarkan darah yang begitu banyak dari dalam mulutnya.


Reptile yang sedang makan tiba-tiba menjentikkan jarinya dan seketika ular berwarna putih yang besar melahap tubuh penyihir yang datang melapor.


“Reptile, apa yang kau lakukan?! Orang lemah ini belum menyelesaikan pesannya bodoh! Apa kau ingin kubunuh hah?!” Joram tersulut emosi dengan tindakan Reptile.


“Orang itu sudah sekarat dan mati! Salahkan dia karena membuatku tidak lagi berselera makan!” Reptile membela diri dan mendorong tubuh Joram.


Olympus langsung meminta keduanya berhenti berdebat karena nama yang disebutkan oleh penyihir barusan bukanlah sembarang penyihir.


“Zeketaryan... Dia bukanlah penyihir biasa. Jika kita meremehkannya, kita bisa saja mati,” ucap Olympus.


Seketika Joram dan Reptile terdiam. Keduanya mengetahui jika Olympus sedang tidak bercanda akan ucapannya.