Leo Avalon

Leo Avalon
L A 70 - Yang Salah Adalah Dunia Ini



L A 70 - Yang Salah Adalah Dunia Ini


Pertarungan antara V dan Celine berlangsung sengit, V menyerang secara membabi-buta tidak peduli dengan murid yang ada disana, sedangkan Celine memaksa V untuk menjauh sebelum akhirnya keduanya bertarung dengan bebas.


Namun Celine melupakan keberadaan Cochlea sehingga saat pertarungan itu berlangsung dengan sengit, Cochlea memanfaatkan celah untuk menyerang Celine. Hal ini membuat Celine terdesak dan mendapatkan serangan telak dari Cochlea.


”Kakak Celine, apa kau lupa dengan diriku? Kau tidak mungkin bisa mengalahkan kami! Ikuti saja perkataanku, serahkan Lea Avalon dan Ratu Floral maka tidak ada pertumpahan darah!” Cochlea mengancam Celine yang melindungi semua murid.


”Chlea biarkan aku yang melawannya!” V menegur Cochlea karena menggangu pertarungannya.


Cochlea hanya tersenyum sambil menggigit jari jempolnya. Tetesan darah Cochlea berubah menjadi sebuah pedang sebelum akhirnya Cochlea kembali menyerang Celine dengan permainan pedangnya yang terkesan agresif.


”Maaf V! Aku sudah lama ingin bertarung dengan nafsu membunuh melawan Kakak Celine!” seru Cochlea.


Trang!!!


”Kau gila, Cochlea! Kau sudah melenceng terlalu jauh!” ujar Celine.


Cochlea menatap dingin Celine sebelum melepaskan dua tebasan menyilang yang ditangkis dengan mudah oleh Celine. Lalu dengan cepat Cochlea melakukan gerakan tipuan dan hampir memotong leher Celine yang bergerak cepat menghindar.


”Aku tidak melenceng ataupun berubah, Kakak Celine! Tidak ada yang salah denganku! Jika kau ingin menyalahkanku maka kau harus menyalakan dunia ini karena telah membuatku seperti ini!”


Cochlea kembali maju dan menyerang Celine yang menjaga jarak. Tebasan Cochlea berulang kali hampir memenggal kepala Celine namun pergerakan Celine yang cepat layaknya angin tidak dapat diikuti Cochlea.


”Ah! Cukup! Kakak Celine memang hebat!” Cochlea mengeluh sebelum ia mengeluarkan Energi Iblis yang pekat.


”Aku akan menunjukkan perkembanganku!” Cochlea tertawa sambil memperlihatkan kedua sayapnya yang berwarna merah darah.


Lalu Cochlea terbang melesat menyerang Celine. Sebelum Cochlea mencapai Celine, sebuah kilatan cahaya berwarna merah muda menghantam tubuhnya dan membuat ia terpental jauh karena serangan dari seseorang yang tiba-tiba datang tersebut.


”Celestre! Apa kau masih hidup?!” teriak sosok pria paruh baya dari atas langit yang tidak lain adalah Soren Zavion.


Kemudian Celestre memanipulasi aura sihirnya menjadi cahaya berwarna merah muda. Cahaya itu membentuk sebuah zirah dipakainya dan sebilah pedang serta perisai yang membuat Celestre seperti gadis yang siap bertempur.


”Apa-apaan gadis itu-”


”Bodoh, jangan meremehkannya Chlea!”


Saat Cochlea meremehkan Celestre, V segera menegurnya namun hanya dalam hitungan detik Celestre sudah berada didekat Cochlea dan menghunuskan pedangnya.


Mata Cochlea melebar melihat kemampuan Celestre. Kedua sayapnya melebar dan terlihat seperti ekor yang memanjang, lalu menahan tebasan pedang Celestre.


Trang!!!


Pedang Celestre bersentuhan dengan sayap Cochlea. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain seperti sudah siap melancarkan serangan selanjutnya. Benar saja sedetik kemudian keduanya bergerak seirama dan melakukan pertukaran serangan.


”Kakek sialan itu sudah datang! Sepertinya ini akan sedikit sulit!” V menghela nafas karena Celine tidak berniat membuatnya membantu Cochlea.


”V, jangan remehkan gadis itu. Dia adalah jenius yang mengerikan dibandingkan dirimu,” kata Celine.


V terrtawa pelan mendengarrnya, ”Jenius? Aku tidak peduli dengan omong kosong itu! Kakak, apa kau lupa kejadian sepuluh tahun lalu dimana mereka membunuh semua Elf dan membantai manusia?! Orang-orang dari Bahamut harus dimusnahkan begitu juga dengan semua Raja Iblis Agung!”


”Kau tidak tahu sosok mengerikan yang ada dibelakang mereka! Seseorang harus melakukannya! Seseorang harus mengotori tangannya! Untuk melakukan itu aku tidak peduli mengotori tanganku!”


Setelah berkata demikian aura disekitar tubuh V terasa seperti menghilang. Namun dalam kurun waktu satu menit, semua medan pertempuran dan akademi hancur oleh akar tumbuhan dan pepohonan yang berubah menjadi duri tajam yang besar seperti tombak raksasa.


”Hanya ada satu cara untuk menghentikanku yaitu membunuhku!”


V menunjukkan keseriusannya sedangkan Celine menyelamatkan semua murid menggunakan sihirnya. Tanpa belas kasih V menyerang Celine dan membuatnya terkapar dengan akar pepohonan yang berubah menjadi senjata tajam.