Leo Avalon

Leo Avalon
L A 11 - Dunia lah Yang Membuatku Menjadi Kejam



L A 11 - Dunia lah Yang Membuatku Menjadi Kejam


“Bom? Telat sedetik saja tubuhku bisa hancur!” Leo bangkit secara perlahan sambil menggerakkan tengkorak Dewa Kematian Ryuuen.


‘Siapa orang ini? Kekuatannya tidak pernah aku lihat sebelumnya!’ Dearator menjaga jarak dan waspada saat mengetahui Leo memiliki kemampuan tersembunyi.


“Kau menanyakan siapa diriku bukan? Kau bisa memanggilku Dewa Kematian!” Setelah berkata demikian Leo memudarkan wujud Dewa Kematian Ryuuen.


Kemudian Leo menciptakan seratus pedang menggunakan aura sihir. Kemampuan memanipulasi aura sihir yang Leo lakukan bisa dibilang sudah mahir dan itu membuat Dearator mengumpat.


“Kekuatannya sangat bervariasi! Sial!” Dearator melepaskan aura sihir dan kembali melancarkan tebasan yang mengakibatkan ledakan.


Saat pedang milik Dearator bertemu dengan seratus pedang Leo, dalam sekejap seratus pedang milik Leo yang terbentuk dari aura sihir lenyap.


Dearator segera mempersingkat jarak sebelum melayangkan tebasan menyilang yang cepat. Leo menahannya dengan dua sayap api dan ledakan keras kembali menggema saat keduanya berbenturan.


“Aku selalu mengkombinasikan dua kemampuan. Tetapi sepertinya aku harus mencoba ketiganya sekaligus.” Leo menatap dingin Dearator yang berhasil membuat kedua sayap api Phoenix miliknya hancur setengah.


“Keluarkan semua kekuatanmu dan aku akan menghadapimu!” Dearator merasa yakin dapat mengalahkan Leo.


“Jangan terkejut saat kau melihat kemampuan ini!” Leo memanipulasi aura sihir miliknya untuk menciptakan zirah seperti yang dilakukan Mars.


“Zirah Naga Api!”


Api yang mengelilingi tubuh Leo semakin pekat sebelum membentuk zirah. Kedua sayap api Phoenix Leo perlahan tumbuh sebelum Leo memperkuat fisiknya dua kali lebih kuat dari sebelumnya.


Dearator pun maju kedepan sambil melayangkan tebasan. Saat tebasan pedang Dearator dan pukulan Leo bertemu, setelah beberapa pertukaran serangan itu Leo berhasil meredam ledakan api yang dihasilkan Dearator.


“Apa-”


Dearator belum mencerna apa yang terjadi namun Leo dengan serangan mendominasi menggunakan teknik sihir Kerakusan Yang Terdalam. Dalam sekejap setiap serangan yang dilepaskan Dearator sama sekali tidak berpengaruh padanya.


“Apa yang kau lakukan?! Kenapa serangan ku tidak berpengaruh padamu?!” Dearator panik saat mengetahui serangan terkuatnya sekalipun tidak dapat melukai Leo.


“Apa yang aku lakukan padamu? Tidak ada. Kau hanya lebih lemah dariku. Itu saja.” Leo berkata secara apa adanya.


Teknik sihir yang dapat melahap segala jenis sihir ini hanya berpengaruh pada orang yang lebih lemah dari Leo. Jika Leo menggunakannya pada sosok Lima Raja Iblis Agung atau orang yang lebih kuat darinya, maka tubuh Leo yang sedang dalam masa pertumbuhan akan terbebani.


“Pedang bermata dua. Tapi tidak buruk juga.” Leo menatap telapak tangan kanannya dan menciptakan pedang berwarna merah dengan aura sihir.


Kemudian Leo melakukan serangan yang mengejutkan yakni melepaskan serangan yang sama dengan Dearator. Dalam sekejap Leo menguasai jalannya pertandingan dan membuat Dearator terpojok.


Dalam waktu yang sangat singkat Leo sudah mendaratkan beberapa tebasan tajam kepada Dearator, begitu juga dengan sebaliknya. Namun yang menjadi pembeda adalah kemampuan penyembuhan mutlak milik Leo dan itu tidak Dearator miliki.


Sehingga dalam beberapa menit Dearator sudah tidak dapat mengikuti pergerakan Leo. Tidak membiarkan kesempatan hilang, Leo melepaskan satu tebasan yang mengincar leher Dearator.


“Setidaknya beritahu namamu?! Aku tidak ingin mati tanpa mengetahui nama orang yang membunuhku!” Dearator berusaha menangkis serangan Leo di sepenggal nafas terakhirnya.


Leo pun menghunuskan pedangnya pada perut Dearator dan memberitahu namanya yang sebenarnya. Mata Dearator melebar saat mengetahui identitas Leo dan menghembuskan nafas terakhirnya sebelum bertanya lebih jauh.


“Ilmu pedang... Sepertinya aku tertarik mempelajarinya,” ucap Leo sambil memudarkan pedang sihir yang terbentuk dari aura sihir.


Setelah itu Leo memperhatikan pertarungan Charlotte dan Lyon. Di waktu yang sama Charlotte dan Cosme bertarung dengan seimbang. Sedangkan Lyon dan Amaro terlihat jelas jika Amaro lebih unggul dalam segi kekuatan dibandingkan Lyon.


Tanpa sepengetahuan Charlotte ataupun Lyon, Leo melakukan sesuatu yang tidak keduanya sadari. Dengan menggunakan Teknik Sihir Ilusi Kematian, seketika pergerakan Cosme dan Amaro menjadi buruk.


“Kenapa tubuhku terasa berat?” Cosme melayangkan pukulannya kepada Charlotte namun kali ini tangannya yang sekeras batu itu terpotong oleh Charlotte.


Sedetik kemudian Charlotte mengincar jantung Cosme dan mengakhiri nyawanya. Gadis itu terkejut karena menyadari pergerakan Cosme yang berubah dan melemah, namun Charlotte tidak ambil pusing dan bersiap membantu Lyon.


“Apa yang kau lakukan padaku keparat? Apa kau menyembunyikan kekuatanmu?!” Amaro melayangkan pukulan petir yang menggelegar berulang kali.


Namun pukulannya tidak ada yang mengenai Lyon dan kebanyakan meleset tanpa sasaran. Hal ini dimanfaatkan oleh Lyon untuk melancarkan serangan beruntun dan itu membuat Amaro sama sekali tidak berkutik.


“Kau sudah membuat banyak orang menderita! Aku akan mengakhirinya!” Lyon berniat membunuh Amaro namun dia tidak sanggup.


Melihat ini Charlotte pun ikut terkejut, “Apa yang kau lakukan?! Bukankah kau sudah menanti semua ini?!”


Lyon sama sekali tidak bergerak saat Amaro menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya. Melihat hal ini Leo dengan kecepatan tinggi melepaskan satu tendangan yang mengenai kepala Amaro.


Charlotte dan Lyon terkejut melihat Leo yang tiba-tiba menyerang Amaro.


“Seseorang harus mengotori tangannya. Kau tidak akan pernah bisa melindungi siapapun jika tetap seperti itu.” Leo menatap dingin Lyon dari balik topengnya sebelum menghancurkan leher Amaro.


Melihat bagaimana Amaro mati ditangan Leo, seketika Lyon nampak lega karena Leo menggantikan perannya. Namun perasaan marah, benci, bahagia dan kesal bercampur aduk menjadi satu.


Malam itu adalah malam yang kelam untuk Kota Shardptera. Kejadian ini akan membuat Neptune semakin diperhitungkan.


“Masih ada satu orang yang tersisa.” Leo tidak berlama-lama dan langsung bergerak menuju tempat Carlos yang melarikan diri.


Charlotte segera mengikuti Leo sedangkan Lyon menatap tubuh Amaro yang sudah tidak bernyawa.


“Leo, bukankah kau sangat kejam?” Charlotte mempercepat langkahnya dan bertanya.


“Aku tidak kejam. Dunia lah yang membuatku menjadi kejam.” Leo menjawab.


Setelah itu keduanya sampai di kediaman keluarga Shardptera dan menemukan Carlos sedang menjambak rambut Miranda.