Leo Avalon

Leo Avalon
L A 76 - Situasi Siren



L A 76 - Situasi Siren


Sinar matahari mulai menyeruak. Kicauan burung terdengar merdu diiringi embun pagi yang menyapa.


”Hmmm... Apa yang terasa kenyal didadaku?” Leo mengerjapkan matanya dan mencoba meraba sesuatu namun ia meraba sesuatu yang asing dan terasa nyaman.


”Emmm... Apa yang kau pegang, bocah?!”


Setelah mendapatkan kesadarannya, Leo menemukan V berada diatas tubuhnya dan memeluk dirinya sedangkan telapak tangannya meraba dada V.


”Eh... Kenapa kau ada diatasku?” tanya Leo.


”Bocah bertindaklah seperti seorang bocah. Kau harus jadi guling untukku.” V menepis tangan Leo lalu memeluk remaja tersebut dan melanjutkan tidurnya.


’Elf gila ini! Walau aku berada ditubuh remaja berumur lima belas tahun, tetapi aku pernah menjadi pria sebelumnya!’ Leo membatin gila karena situasinya ini.


Beruntung ada Cochlea yang baru mandi dan langsung membangunkan V.


”Bangun, V. Kita akan menuju pelabuhan terbesar di Kerajaan Floral dan Benua Carta yang berada di wilayah Siren.” Cochlea menggelitik perut V dan membuat Elf itu bangun.


”Chlea! Biarkan aku tidak lebih lama!” V menggerutu dan terlihat kesal.


”Ibu... Hiks... Aku ingin hidup santai dan tidak seperti ini!”


Melihat V meringkuk disamping Leo, Cochlea menghela nafas karena melihat sahabatnya itu mengigau. Melihat ini Leo pun bertanya kepada Cochlea tentang V.


”Abaikan saja, Leo. Dia sering mengigau seperti ini. Lihat dia terlihat sangat manis bukan saat seperti ini? Sangat berbeda seperti biasanya bukan?” Cochlea berkata dan membuat Leo mengangguk tanpa sadar.


”Leo, bersiaplah. Aku akan mengurus V,” kata Cochlea.


Setelah itu Leo pun melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan mereka dari Ibukota Floral menuju Wilayah Siren. Ketiganya sarapan terlebih dahulu dan mencari informasi tentang Charlotte Floral, setelah dirasa aman Leo pun bergegas menuju Wilayah Siren bersama V dan Cochlea.


Dalam perjalanan menuju Wilayah Siren, Leo melihat bayangan manusia yang pingsan begitu juga dengan V dan Cochlea. Lalu mereka bertiga memeriksa sosok tersebut dan menemukan seorang pemuda berumur tujuh belas tahun penuh dengan luka lebam dan darah.


”Dia terluka parah... Dari wajahnya dia bukan berasal dari Floral, Soul ataupun Gaspar...” V bergumam saat melihat wajah pemuda malang tersebut.


Sementara itu Cochlea melebar matanya dan menggigit kuku jari telunjuknya karena merasakan firasat buruk.


”V, dia bukan dari benua ini. Bocah ini memiliki karakteristik yang sama dengan wajah orang-orang dari Canute. Manusia barbar yang suka berperang itu. Apa yang dilakukan mereka disini?”


Cochlea pun menciptakan sebuah pisau dari aura sihirnya dan hendak membunuh pemuda tersebut, namun Leo menghentikannya.


”Kenapa kau menghentikanku, bocah tengik?” Cochlea menatap Leo dingin membutuhkan penjelasan.


”Kakak Chlea, aku memiliki sihir yang dapat melihat ingatan seseorang.” Leo menjelaskan jika beberapa waktu setelah bergabung dengan Tartaros ia mempelajari beberapa sihir.


Sihir yang dapat melihat ingatan seseorang adalah sihir yang Leo pelajari. Leo mencoba meyakinkan Cochlea dan V agar tidak segera membunuh pemuda tersebut.


”Makanya aku benci bocah naif! Kenapa Pemimpin kita sangat tertarik pada bocah ini-”


”Aku tidak naif, Kakak Chlea! Jika dia tidak berguna, aku akan membunuhnya!”


Melihat tatapan tajam Leo membuat Cochlea diam, sedangkan V memperhatikan Leo yang mulai menggunakan sihir pada pemuda tersebut. Kemudian menanyakan identitas pemuda tersebut saat melihat ekspresi rumit Leo yang selesai melihat ingatan pemuda tersebut.


”Cih, aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Bocah ini adalah seorang Pangeran dari Kerajaan Canute,” ucap Leo.


”Bocah? Kau juga bocah bodoh! Baru lia belas tahun jangan sombong!” V menjitak kepala Leo karena berkata dengan ekspresi yang terlihat sombong dimatanya.


Lalu Leo memberitahu V dan Cochlea jika pemuda yang malang itu bernama Catloph Canute. Seorang pangeran dari negeri bernama Kerajaan Canute yang ada diseberang benua ini.


Catloph Canute dan saudaranya bernama Icuras Canute terlibat dalam perebutan tahta sepihak yang dilakukan Icuras Canute. Berbeda dengan Icarus yang kuat dan perkasa, Catloph hanyalah pemuda lemah dan sakit-sakitan.


Kematian Ibunya diusia muda membuat Catloph menjadi semakin lemah terlebih Raja Canute sangat keras padanya dan tidak pernah memperhatikannya. Kerajaan Canute adalah sebuah negeri yang dihimpit dua benua yakni Benua Timur dan Benua Barat.


Sebuah Kerajaan yang terkenal akan kebengisan mereka dalam berperang. Alasan mengapa Catloph dalam kondisi seperti ini karena Raja Canute yang bernama Thorfish Canute dan merupakan sosok Ayah dari Catloph memberikan tugas kepada anaknya tersebut untuk menaklukkan negeri di Benua Carta dan menyelamatkan penduduk mereka yang diculik.


Dirumorkan bahwa penduduk Kerajaan Canute diculik oleh orang-orang dari Benua Carta dan itu sudah cukup bagi Kerajaan Canute memulai peperangan mereka. Sekarang situasi di Wilayah Siren nampak sangat kacau balau dan mengerikan karena pembantaian sepihak terjadi disana.


Dua Jendral Kerajaan ternyata mendapatkan misi rahasia dari Thorfish untuk membunuh Catloph di Benua Carta. Selain berhasil membuat Catloph seperti ini, saudara Catloph juga turut hadir menyamar sebagai pasukan guna mendapatkan kejayaan dan pembuktian pada Ayahnya.


”Pemikiran yang sangat barbar. Jadi apa yang akan kita lakukan, Kakak Chlea, Kakak V?” Leo bertanya pada V dan Cochlea.


”Membunuh bocah ini sepertinya percuma, tetapi kita bisa menjadikan bocah ini sebagai tawanan yang berharga. V, kau sembuhkan dia.” Cochlea langsung membunyikan jari-jarinya setelah mengatakan itu.


”Orang-orang licik itu membuat kekacauan yang mengerikan!” ujar Cochlea penuh kekesalan.


”Orang-orang itu?” Leo terlihat penasaran dan Cochlea menjelaskan bahwa dalang semua ini adalah orang-orang dari Kekaisaran Bahamut.


”Setidaknya kita bisa menggagalkan rencana mereka dengan memenggal kepala pangeran Kerajaan Canute.”


Setelah menyembuhkan luka Catloph, V menggunakan sihir ilusi dan memberi Catloph beberapa keping uang lalu meminta pemuda itu menunggu mereka di Ibukota Floral.


Melihat itu Leo hanya diam sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju Wilayah Siren yang sekarang menjadi medan pertempuran.