
LA 87 - Leo vs Jendral Bumi Cesta
Mengira Leo telah mati terkena serangannya, Jendral Cesta justru menemukan tengkorak patah dengan aura hitam pekat yang menyebar. Disana terlihat Leo berdiri dengan tenang sambil menatap dirinya.
”Bagaimana mungkin?!” Jendral Cesta terlihat tidak percaya dapat bertahan dari serangannya tersebut.
”Phoenix...” Leo menggunakan kemampuan Phoenix dan menyembuhkan lukanya.
Setelah itu Leo mengulurkan tangan kanannya kedepan membuat Jendral Cesta waspada. Sedetik kemudian lingkaran sihir tercipta, kali ini Leo membuat serangan kejutan yang hampir menghancurkan setengah badan Jendral Cesta.
”En!”
Mulut Naga berwarna hitam langsung menganga lebar hendak menyambar badan Jendral Cesta, namun Jendral Cesta dengan gesit menghindar.
’Sihir pemanggilan miliknya sangat merepotkan!’ ucap Jendral Cesta dalam hati.
Mengetahui Leo tidak dapat ia kalahkan dengan mudah seperti musuh yang dihadapinya selama ini, Jendral Cesta pun menggunakan kemampuannya secara penuh. Sosok Jendral Bumi Kekaisaran Timur ini memanipulasi tanah dan bebatuan disekitarnya.
”Beast!”
Tanah dibawah sana terlihat berubah bentuk menjadi berbagai macam hewan buas. Leo terkepung dari segala arah oleh hewan buas seperti singa, harimau, elang dan hewan lainnya.
”Gelombang hewan buas, ya?” Leo mengarahkan telapak tangannya ke udara.
Seketika panah api tercipta dan menembus perut elang yang berterbangan. Selanjutnya Leo bergerak menghancurkan hewan buas yang lainnya, namun setiap dia membunuhnya maka hewan buas tersebut akan kembali beregenerasi.
”Kau tidak akan bisa menghentikan jurus ini sebelum membunuh diriku!” ujar Jendral Cesta.
Leo pun langsung melepaskan sihir es nya dan membekukan apapun dihadapannya. Dalam waktu sekejap, semua hewan buas yang tercipta oleh Jendral Cesta dibekukan Leo.
”Salamander!”
Leo memanggil Salamander untuk melakukan serangan kejutan. Semburan api yang dilepaskan Salamander mengenai tubuh Naga Jendral Cesta dan membuatnya jatuh ke tanah.
Lalu Leo menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Jendral Cesta dengan menciptakan sebuah pedang menggunakan aura sihir.
”Kuakui kau memang kuat. Namun kau bukanlah tandinganku, Jendral Bumi Kekaisaran Timur!”
Sebuah tebasan memotong kedua sayap Jendral Cesta yang berubah menjadi Naga. Setelahnya Leo menguliti tubuh Jendral Cesta dengan sayatan pedangnya yang dilapisi api. Hal ini membuat Jendral Cesta meraung kesakitan.
”Aku tidak peduli! Kau berusaha menyentuh Charlotte bukan?”
Leo melenyapkan pedangnya dan mengulurkan jari kelingkingnya pada Jendral Cesta.
”Judgment!”
Sebuah rantai muncul dari dalam tanah bersamaan dengan lingkaran sihir yang tercipta. Rantai tersebut berwarna emas dengan ujung berwarna putih yang tajam dan langsung menembus jantung Jendral Cesta.
”Kau!” Jendral Cesta bergidik ketakutan dihadapan Leo yang menunjukkan ketenangannya dalam bertarung.
”Beritahu aku semua tujuanmu, Cesta! Ini perintah!” ucap Leo memerintah.
”Apa maksud-” Berniat melepaskan amukannya, Jendral Cesta malah dikejutkan dengan tubuhnya yang tidak dapat digerakkan.
Selain itu Jendral Cesta merasakan sihirnya terserap oleh rantai yang mengikat tubuhnya. Saat telapak tangan Leo menyentuh kepalanya, saat itu juga Jendral Cesta menyadari apa yang dilakukan Leo kepada dirinya.
”Aku rasa kau bisa dijadikan bidak yang berharga...” Leo bergumam pelan menunjukkan niatnya dan membuat Jendral Cesta ketakutan.
”Matilah dan jadi senjataku!”
”Death Valley!”
Mata Jendral Cesta melebar melihat Leo menggunakan kemampuannya. Tidak pernah ia sangka dirinya akan mati terkena serangannya sendiri. Bahkan setelah mati, Jendral Cesta akan menjadi salah satu senjata sihir pemanggilan milik Leo.
”Archie...” Leo langsung mengikat jiwa Jendral Cesta untuk melakukan perjanjian dengannya secara paksa.
”Mulai hari ini aku adalah Tuanmu. Layani aku, jadilah pedang dan perisai untuk diriku!” ujar Leo.
Saat itu juga awal pergejolakan besar terjadi. Leo langsung memanggil End dan Chiesa untuk membereskan masalah di Ibukota Gaspar sambil mengamatinya dari kejauhan.
”Kurasa ini sudah waktunya...” Leo menatap Ibukota Gaspar dari ketinggian sambil melepaskan aura sihir dalam jumlah besar.
”Aku akan memulainya dari Gdanks!”
Dunia tidak menyadari apa yang akan terjadi. Namun detik itu seorang pria sudah menentukan langkahnya untuk memburu para Raja Iblis Agung.