
L A 77 - Gejolak Aquapelago
Kobaran api melahap bangunan di sekitar pelabuhan dan ratusan kapal besar yang dilengkapi persenjataan mendarat dengan tepat. Murka dan amarah manusia berdasarkan hawa nafsu membunuh satu sama lainnya dan merampasnya.
Hanya dalam hitungan jam Pelabuhan Aquapelago yang merupakan pelabuhan terbesar di Kerajaan Floral dikuasai pasukan dari Kerajaan Canute. Semua pasukan kerajaan yang berjaga dibantai habis dan setiap orang yang melawan dibunuh, sementara yang tidak berdaya dikalungkan sebuah rantai dilehernya dan akan dijadikan budak.
Nasib para anak-anak dan wanita lebih mengenaskan, kejadian di Pelabuhan Aquapelago yang ada di Wilayah Siren membuka mata Leo tentang dunia yang busuk ini. Pembantaian ini mengingatkan pemilik tubuh sebelumnya akan perasaan tidak berdaya dan lemah.
Leo merasa dirinya telah melakukan hal yang tepat bergabung dengan Tartaros. Untuk mengetahui seluk-beluk dunia ini, ia harus mengambil jalan yang curam dan terjal walau separah apapun itu.
Demi melindungi Lea dan orang-orang yang ia kenal, Leo rela mengorbankan kebahagiaannya dan menjadi pembunuh. Untuk itu ia bertekad menjadi lebih kuat dari dirinya sebelumnya dan mengetahui musuh yang membahayakan orang-orang yang dilindunginya.
”Kakak Chlea, Kakak V, aku akan kesana!” ujar Leo yang saat ini menatap Pelabuhan Aquapelago dari atas tebing.
”Ini sangat mengerikan, mereka benar-benar keji dan barbar!” Cochlea menggigit bibir bawahnya hingga berdarah karena indera pendengarannya mendengar jeritan banyak wanita yang menjadi pelampiasan pasukan Kerajaan Canute.
”Ryuuen...” gumam Leo pelan saat melepaskan aura kematian yang tersegel dalam tubuhnya.
Leo mengeluarkan aura Shinigami Ryuuen bersamaan dengan kemampuan Phoenix. Kemudian Leo terjun kebawah dan langsung terbang dengan kecepatan tinggi menuju Pelabuhan Siren.
”Leo!” V berteriak sebelum menyusul Leo begitu juga dengan Cochlea.
Leo mendarat tepat dihadapan puluhan prajurit yang menyiksa para pria yang sudah tidak berkeinginan untuk melawan.
”Hah? Masih ada bocah rupanya disini!”
”Lihat, ada dua wanita dibelakangnya. Itu Iblis dan Elf?”
”Tangkap dan kita nikmati mereka!”
Saat puluhan prajurit itu mengelilingi dirinya, Leo menatap tajam mereka dan menciptakan hujan petir yang langsung menghujam tubuh para pasukan Kerajaan Canute.
Kematian mereka membuat prajurit yang lain berdatangan dan dalam sekejap Pelabuhan Aquapelago kembali menjadi pertempuran. Melihat bagaimana Leo membunuh pasukan Kerajaan Canute membuat V dan Cochlea merasakan kebencian yang gelap menyelimuti Leo.
’Leo... Kau...’ Jantung V berdetak lemah memainkan melodi kesedihan karena merasakan rasa sakit yang mendalam saat melihat Leo seperti ini.
Yang Leo lakukan mengingatkan dirinya pada masa lalu. Bukan hanya V saja, melainkan Cochlea juga tidak menyangka Leo memilki sisi yang mengerikan seperti ini dan inilah yang membuat Cochlea mengerti mengapa Chiesa tertarik pada remaja berumur lima belas tahun tersebut.
”Bocah ini gila! Dia membantai banyak pasukan dari kita!” ujar prajurit yang menjaga jarak dari Leo.
”Jangan gentar! Mati di medan perang lebih baik daripada mati ditangan bocah itu! Apapun yang terjadi kita harus membunuh pemimpin negeri ini!” sahut yang lainnya.
Mendengar itu Leo pun menciptakan sebuah pedang dari petir dan api lalu memainkannya dengan mahir dan membunuh setiap pasukan yang menyerangnya. Dengan bantuan V dan Cochlea membuat semuanya berjalan dengan cepat.
Apa yang dilakukan Leo, V dan Cochlea membuat pasukan Kerajaan Canute melaporkan kejadian ini pada dua Jendral yang sedang berada di sebuah bar yang ada di pelabuhan.
”Jangan mengganggu! Aku masih belum puas menikmati wanita dari Kerajaan Floral!” ujar Jendral Kerajaan Canute bernama Saldseld atau lebih dikenal sebagai Jendral Perisai.
Para prajurit kembali menjelaskan kepada pria yang sedang menindih tubuh seorang wanita yang menangis. Hal ini membuat pria tersebut memeriksa apa yang dilaporkan prajurit dan melihat pembantaian yang dilakukan Leo, V dan Cochlea.
”Barang bagus...” Saldseld pun bersiul melihat tubuh V dan Cochlea.
Pria lain yang telah selesai menuntaskan kebejatannya segera melihat dan ikut bersiul. Namun sebelum keduanya melakukan sesuatu, sebuah aura yang mengerikan muncul dari atas atap bangunan dan langsung terjun mendarat didepan Saldseld dan pria bernama Zaktora.
”Jendral Perisai Saldseld, Jendral Tombak Zaktora, tangkap dua perempuan itu apapun yang terjadi! Aku akan melihat kinerja kalian!” seru pria tersebut.
”Kakak V, Kakak Chlea, dia adalah saudara dari Catloph... Dia adalah Icuras Canute...” ujar Leo sebelum anak remaja tersebut bergerak maju mendekati ketiga lawan tangguh itu.
”Berhenti bocah apa kau ingin mati-”
”Minggir! Kalian bukanlah lawanku! Aku akan melawan keparat itu!” Leo mengincar Icuras dan itu membuat Saldseld dan Zaktora mengeluarkan aura sihir mereka yang dahsyat.
Sebuah tombak es mengincar kepala Leo bersamaan dengan mulut harimau yang muncul dari dalam tanah hendak menerkam tangan Leo, namun serangan keduanya dihentikan oleh V dan Cochlea.
”Bocah...” Icuras menatap Leo tajam saat melihat remaja tersebut hendak menerjang dirinya dengan tebasan pedang yang dipenuhi unsur petir.
Trang!!!
Icuras menangkis tebasan Leo menggunakan pedang yang dilapisi bara api membara. Kemudian Icarus langsung mengayunkan tebasan lainnya dan hampir memenggal kepala Leo namun beruntung Leo menghindari tebasan tersebut dengan gesit dan cepat.
”Lawan yang bagus. Jangan mati dengan cepat bocah, aku akan memperlihatkan padamu bagaimana seorang Raja bertarung!” Icarus mengeluarkan aura sihir yang pekat dan melakukan serangan cepat.
Leo berhasil menahan namun tendangan kaki Icarus mengenai perut Leo secara telak. Tubuh Leo pun terpental jauh, Icarus langsung mengejarnya dan hendak membunuhnya namun ia melihat perubahan aura sihir milik Leo.
”En, menyatukan denganku.” Leo memperlihatkan bagaimana aura sihirnya yang begitu besar dan pekat.
Bukan hanya Leo saja yang akan bertarung habis-habisan namun Icarus juga menggunakan kekuatan tempurnya yang sesungguhnya saat mengetahui betapa bahayanya aura sihir milik Leo.
”Sihir Pemanggilan : Salamander!”
Sebuah lingkaran sihir yang begitu besar dan hampir menyelimuti Pelabuhan Aquapelago muncul dengan pola warna merahnya. Sebuah rantai berwarna emas terlihat dan mengikat tubuh seekor roh api yang terlihat seperti naga tak bersayap dan lebih dikenal dengan Salamander.
Mulut Leo terbuka lebar saat pengetahuan milik Shinigami Ryuuen bermunculan dalam kepalanya.
”Salamander...” Leo melihat bagaimana sosok Salamander membuka mulutnya dan menyemburkan api yang mengarah padanya.
Leo menjulurkan telapak tangan kanannya dan menciptakan dinding es yang begitu besar dan kokoh. Kedua unsur itu berbenturan dan menciptakan gelombang kejut mengerikan. Dalam sekejap Pelabuhan Aquapelago mengalami fenomena badai api selama beberapa detik hasil dari benturan kedua serangan tersebut.
Melihat kekuatan Icarus membuat V dan Cochlea merasa harus menangani sosok Pangeran Kerajaan Canute tersebut, namun keduanya dihadang kedua jendral. Sebelum keduanya bertarung tidak fokus dan mengkhawatirkan Leo, anak remaja tersebut memberitahu keduanya untuk menyerahkan Pangeran Icarus pada dirinya.
”Kakak V, Kakak Chlea, serahkan sialan ini padaku! Kalian berdua fokus saja terhadap musuh kalian!” ujar Leo dengan nada memerintah.
V dan Cochlea menelan ludah merasa aneh karena melihat kewibawaan Leo saat seperti ini.
’Bocah tengik ini... Aura apa ini? Kenapa aku tidak dapat membantah dan hanya mengikuti... Bagaimana jika dia kalah dan terbunuh?’ Cochlea membatin dan merasa bingung, namun beberapa detik kemudian ia memfokus dirinya untuk melawan Saldseld.
”Jika kau dapat membunuh manusia menjijikkan itu, aku akan memberimu hadiah, Leo!” V tersenyum dan salah satu mengedipkan matanya kepada Leo.
Leo terlihat tidak terlalu peduli dengan ucapan V dan kembali melakukan pertukaran serangan dengan Icarus.