Leo Avalon

Leo Avalon
L A 57 - Ular Tiga Unsur



L A 57 - Ular Tiga Unsur


”Kalian baik-baik saja?” ucap gadis yang menyelamatkan Leo dan yang lainnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan memberikannya kepada mereka.


”Gunakan ramuan penyembuh ini. Kita harus bertahan hidup jika ingin masuk ke dalam akademi. Apa tujuan kalian semua datang kemari?” Gadis itu mendekati Eva dan menatap para peserta yang berangsur-angsur membaik setelah meminum ramuan penyembuh.


”Kau tahu... Seperti kebanyakan orang yang masuk kedalam Akademi ini adalah imigran. Aku sendiri ingin membebaskan negeri mendiang Ibuku, Kerajaan Silica.” Eva memberitahu tujuannya.


”Selain itu aku ingin hidup normal dan bahagia di masa depan. Lulusan akademi ini seperti itu bukan?” Lanjut Eva membuat gadis itu terdiam.


Akhirnya para peserta yang pingsan dan terluka parah terbangun. Setelah beberapa saat mereka semua berkenalan dan memilih bekerjasama di hari terakhir untuk mengalahkan penguasa hutan sihir.


Gadis cantik yang menyelamatkan mereka semua bernama Karen Bladeheim dan berasal dari Kerajaan Avalon. Ambisi besarnya adalah mengambil alih hak keluarga Bladeheim dan membunuh Kazan beserta semua orang yang terlibat dengannya.


”Mengerikan. Kenapa semua orang yang masuk ke dalam akademi ini memiliki tujuan yang gila. Membasmi Iblis di Kerajaan Silica yang berkembang baik keluar, membunuh Hewan Buas Sihir dan menangkap penjahat. Kalau kau bagaimana Leo?” Tiba-tiba Lopez mengoceh dan bertanya kepada Leo.


”Aku ingin melindungi seseorang.” Leo menjawab singkat dan membuat semua orang melihatnya.


”Hmmm... Hanya itu? Kupikir kau memiliki tujuan yang lebih besar.” Lopez terlihat kecewa.


Saat mereka memutuskan untuk beristirahat, suara hewan yang berlarian terdengar disegala penjuru hutan selain itu tiba-tiba penghalang hancur secara perlahan seperti ada seorang penyusup.


”Apa yang terjadi? Aku benar-benar merasakan firasat yang buruk,” ucap Maya.


”Hentikan itu, Maya. Jangan bilang ada seorang kelompok kriminal yang mengincar kita...” sahut Lopez dengan ekspresi ketakutan.


”Lopez, tidak perlu takut. Ucapan Maya terkadang seratus persen jadi kenyataan,” ujar Kudela.


Karen yang awalnya terlihat tenang tiba-tiba matanya melebar saat merasakan haus darah yang mendekat.


”Aura haus darah ini... Sepertinya kita kedatangan tamu tidak terduga,” ucap Karen sebelum itu menjadi kenyataan.


Wussshhh!!!


Didepan mereka semua tiba-tiba pepohonan terbakar oleh lautan api yang besar. Segera mereka semua menjaga jarak saat pemilik aura haus darah itu muncul. Ular Tiga Unsur itulah penguasa hutan sihir yang menempati hutan tersebut.


”Tunggu ada yang aneh dengan matanya? Kenapa matanya merah menyala?” Eva menunjuk mata Ular Tiga Unsur tersebut.


”Sepertinya dia dikendalikan.” Eva menambahkan.


”Hahaha... Saatnya berburu!” Kudela langsung melepaskan serangan pembuka dengan menciptakan hujan bebatuan pada Ular Tiga Unsur.


Ular Tiga Unsur hanya memiliki satu kepala saja namun kekuatannya sangat merepotkan. Selain dapat mengeluarkan api, Ular Tiga Unsur dapat membekukan apapun disekitarnya.


Jadi serangan yang dilepaskan Kudela sama sekali tidak berguna karena bebatuan tajam itu membeku semuanya. Serangan selanjutnya disusul Karen dan Lopez yang menggunakan pedang, sedangkan Maya menciptakan beberapa pedang petir untuk membuat serangan kejutan dibantu yang lainnya termasuk Leo.


Namun Ular Tiga Unsur melakukan sesuatu yang tidak terduga. Saat sebuah serangan dari berbagai arah, mulutnya menyemburkan sambaran petir yang menghanguskan apapun yang mengenainya.


Bahkan tebasan Karen yang membakar tubuh Ular Tiga Unsur belum berpengaruh karena sosok penguasa hutan sihir itu dapat meregenerasi tubuhnya dengan cepat.


Leo melihat semua rekan-rekannya berjuang hanya bisa mengimbangi kemampuan mereka. Sebenarnya Leo dapat membunuh Ular Tiga Unsur dengan mudah, namun ia tidak ingin terlihat begitu mencolok dan hanya menggunakan kemampuan untuk melindungi dirinya dan yang lainnya jika itu diperlukan.


”Dela, gunakan seluruh kemampuannmu untuk menahan pergerakan hewan sialan itu.” Lopez berkata kepada Kudela sambil mengeluarkan aura sihir yang besar dari dalam tubuhnya.


”Aku akan bertarung habis-habisan!” Lopez menambahkan.


”Bukan Dela, namaku Kudela! Kenapa kau tiba-tiba semangat pecundang?!” Kudela berjalan mengikuti Lopez yang maju.


”Siapa yang kau sebut pecundang hah?!” Lopez menatap marah Kudela sebelum mengarahkan pedangnya pada Ular Tiga Unsur.


”Aku ingin menikmati kehidupan akademi jadi tidak boleh mati disini,” ucap Lopez sambil melirik Karen.


Setelah itu angin berhembus dengan sangat kencang disekitar Lopez disusul dengan Kudela yang menahan pergerakan Ular Tiga Unsur dengan kemampuannya.


”Kita bantu mereka.” Eva mengajak yang lainnya.


Leo ikut membantu sambil mengeluarkan sebuah api berwarna hitam dalam jumlah yang kecil bercampur dengan api merah menyala di telapak tangannya.


Saat pergerakan Ular Tiga Unsur terhenti, Lopez dengan sangat lincah menyerang. Tebasannya tajam dan ayunannya sangat cepat seperti angin yang kencang serta dalam dan bertenaga.


Serangan Lopez diakhiri dengan tusukan dalam di kepala Ular Tiga Unsur namun gagal memotongnya. Setelah itu Maya kembali memberikan serangan kejutan dengan kemampuan petirnya disusul Eva yang memberikan pukulan dahsyat pada tubuh Ular Tiga Unsur.


Ular Tiga Unsur pun ambruk dan saat itu juga Karen bersama Leo melakukan serangan secara bersamaan. Karen menebas kepala Ular Tiga Unsur sedangkan Leo memukul kepala Ular Tiga Unsur.


Raungan yang keras menggema sebelum kepala Ular Tiga Unsur terbakar dan lenyap. Mata Karen melebar karena menyadari bukan tebasannya yang berhasil membuat Ular Tiga Unsur seperti ini melainkan Leo.


”Kita berhasil! Kau hebat Karen-Chan!” Eva tiba-tiba memeluk Karen dan memuji gadis itu.


”Karen-Chan? Jangan sok akrab dengannya Eva!” Maya menegur Eva.


”Bukan aku...” Karen kebingungan saat yang lain memuji dirinya, matanya menatap Leo penuh pertanyaan karena anak remaja itu malah asyik memeriksa tubuh Ular Tiga Unsur.


‘Dia! Kenapa dia menyembunyikan kekuatannya?!’ Karen membatin dan menatap Leo sangat tajam.


Saat gadis cantik itu hendak mendekati Leo, anak remaja tersebut malah memberi tanda pada yang lainnya agar waspada.


”Sepertinya firasat Maya menjadi kenyataan.” Leo menajamkan semua inderanya karena merasakan dua hawa keberadaan yang mendekat.


Benar saja saat Leo memberikan peringatan, tak lama dua orang pria dengan kondisi tubuh seperti Zombie datang.


”Eh? Tunggu sebentar... Kenapa ular sialan ini mati? Mereka peserta bukan? Kenapa mereka tidak mati?!” Pria dengan kondisi dada yang penuh jahitan berkata sambil menggaruk kepalanya.


”Bukankah sudah jelas jika para berandalan ini membunuhnya, Baretto.” Pria dengan luka bakar diwajahnya menegur.


”Kalau begitu kita harus membunuh mereka semua bukan untuk membuat Hera mau menuruti permintaan kita?” ujar pria dengan kondisi dada yang penuh dengan jahitan bernama Baretto.


”Kurasa tidak semudah itu,” jawab pria bernama Blasto yang memiliki luka bakar diwajahnya.


Setelah berhasil menghabisi Ular Tiga Unsur, Leo dan yang lainnya dihadang dua pria yang memiliki aura iblis mengerikan. Pertarungan yang tak terhindarkan pun terjadi.