Leo Avalon

Leo Avalon
L A 72 - Luvierte



L A 72 - Luvierte


”Aku saja cukup untuk melawan mereka, Cochlea.” Licha mengaliri kedua pedangnya dengan aura sihir sebelum melepaskan serangan kejutan.


Dua tebasan menyilang memperlihatkan api dan petir yang memenuhi udara. Hera dan Soren sama-sama berhasil menghindar namun hal itu dimanfaatkan oleh Licha untuk menyerang Soren.


”Kau terlihat kuat, kakek sialan!” Licha menyeringai lebar dan melepaskan tebasan susulan.


Soren menyambut tebasan pedang Licha dan melakukan serangan beruntun dengan pukulannya. Licha dengan mudah menahannya dan menyerang balik Soren.


”Licha, hentikan tindakan bodohmu. Kita tidak mempunyai waktu. Kita harus segera pergi.” Hisui datang dan menciptakan sebuah portal teleportasi.


”Kalian bertiga menggunakan diriku sebagai kendaraan untuk melarikan diri. Aku akan memberikan kalian pelajaran nanti.” Hisui terlihat kesal karena Licha dan Cochlea keasyikan bertarung.


”Cih, tidak asik!” Cochlea terlihat sebal sebelum melukai dirinya dan memanipulasi darahnya menjadi bola-bola darah yang melayang di udara.


”Cepatlah, aku akan menghancurkan tempat ini.” Cochlea menyuruh Licha untuk segera pergi bersama Hisui dan V.


”Aku juga ingin memberikan salam perpisahan!” Licha mengeluarkan tebasan yang dipenuhi aura sihir dan melesat kearah Soren.


”Mereka berniat melarikan diri, Hera!” Soren mengeluarkan aura sihir yang sangat besar dan hendak menjangkau Leo yang dibawa V.


Namun terlambat setelah menangkis serangan Licha, bola-bola darah milik Cochlea meledak dan menimbulkan daya hancur yang besar dan mengerikan.


Baik itu Hera ataupun Soren, keduanya kehilangan jejak dari Cochlea, V, Hisui dan Licha. Keberadaan mereka seolah-olah lenyap saat berhasil melarikan diri menggunakan portal teleportasi milik Hisui.


”Leo...” Hera mengepalkan tangannya dan tidak menyangka akan ada penyerangan yang dilakukan Tartaros ke Akademi Sihir Carta.


”Hera, masalah ini aku yang akan mengatasi. Kau urus pertemuan yang sudah direncanakan. Kita tidak bisa membiarkan semuanya gagal seperti sepuluh tahun lalu.” Soren mengerti perasaan Hera dan mengingatkan pentingnya pertemuan antar pemimpin kerajaan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


”Tidak, kau tidak perlu melakukan itu Soren. Mereka memiliki kekuatan yang mengerikan. V ataupun Cochlea bahkan Hisui dan temannya juga berkembang sejauh ini. Mereka benar-benar berbahaya dan aku rasa Leo melakukan kontak dengan V...”


Hera menatap Soren dan menjelaskan firasatnya karena sekilas merasakan aura milik Leo dan aura mengerikan sebelum akhirnya Leo tertangkap V.


”Maksudmu bocah itu menyadari betapa bahayanya Tartaros dan mengorbankan dirinya untuk keselamatan kita?” Soren tertawa mendengarnya. Ia tertawa bukan karena meremehkan Leo melainkan kagum dengan tindakan yang diambil Leo.


”Kita akan mengirimkan regu pencari secepatnya!” Hera menambahkan.


Sementara itu di sebuah daratan yang tandus terlihat Hisui kelelahan karena menggunakan aura sihirnya hanya untuk melakukan teleportasi membantu penyerangan V dan Cochlea.


Daratan bernama Luvierte itu ada disekitar perbatasan Kerajaan Floral dan Kerajaan Soul. Hisui berhasil membawa mereka sejauh ini dan itu sangat menguras tenaganya.


”Jadi siapa bocah ini?” tanya Hisui sambil memperhatikan Leo yang tak sadarkan diri.


V menjelaskan kepada Hisui dan Licha yang belum mengetahui identitas Leo. Tentu mendengar identitas Leo yang asli membuat Hisui tidak percaya, Hisui memegang pipi Leo dan menatapnya rumit.


”Jadi dia adalah Leo Avalon anak dari Kakak Emi...” Hisui tertawa pelan sebelum menatap V tajam.


”Kau ingin aku membunuh keponakanku, Virginie Sylv?!”


”Hei, tidak perlu semarah itu Hisui.” V menghela nafas karena tidak menyangka Hisui akan seperti ini.


”Tidak mengherankan dia memiliki mata Shinigami dan darah Avalon, tetapi apa kau serius dengan ucapanmu yang terakhir... Naga Hitam...”


”Apa kau pikir aku akan mengatakan sesuatu yang bercanda? Aku melihatnya sendiri.”


Saat V dan Hisui berbincang, Leo terbangun dan menemukan dirinya berada didalam gua dikelilingi empat wanita dewasa.


”Dimana... Aku?”


Leo mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menyadari dirinya tertangkap oleh V dan Cochlea. Namun disana ada dua wanita lain yang menatapnya tajam.


”Kau sudah bangun, Leo Avalon. Sekarang kau akan menjadi tawanan Tartaros. Kami akan mengorbankan dirimu untuk mewujudkan tujuan kami.” V memegang kepala Leo dan mengelus rambutnya.


”Matilah dan jangan membantah,” ujar V melanjutkan.


Leo yang masih belum mencerna maksud V hanya terdiam tanpa bisa menjawab.