Leo Avalon

Leo Avalon
L A 31 - Perempuan Mana Yang Harus Dia Percaya?



L A 31 - Perempuan Mana Yang Harus Dia Percaya?


“Putri Lotte...” Lyon menatap Charlotte dengan sejuta perasaan bersalah.


“Aku akan menceritakan yang sebenarnya...” Kemudian Lyon menceritakan kepada Charlotte jika dirinya terjebak dalam rencana Jadon.


Memang Jadon merupakan sosok yang dia kagumi begitu juga dengan Charlotte, namun ternyata Jadon memiliki ambisi untuk melenyapkan keluarga Shard dan semua keluarga bangsawan. Kemudian Jadon ingin menguasai tahta Kerajaan Floral dengan membangkitkan Naga Hitam karena tidak sengaja mendengar pembicaraan Menteri Chano dengan petinggi Flamingo.


“Semuanya berawal dari situ dan malam itu adalah hal yang merubah segalanya. Kakakku itu memberikan obat perangsang kepada minuman yang disajikan untuk Kak Clara dan aku yang tidak mengetahui meminum minuman tersebut.” Lyon menjelaskan jika dirinya tidak minum hingga habis dan Clara yang melanjutkannya.


Hingga kejadian malam itu keduanya larut dalam malam yang panjang. Lyon dan Clara menyesalinya namun keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih setelah mereka mengarungi malam.


Mengetahui rencana Jadon, akhirnya keduanya memutuskan untuk membunuh Jadon dan menghentikan rencana pemberontakan di Kota Rocheforst. Keduanya tidak ingin melibatkan Charlotte karena jalan yang mereka ambil membuat keduanta harus membunuh banyak orang.


Tetapi Charlotte juga melakukan hal yang sama. Charlotte telah mengotori tangannya dan sekarang dia tidak mungkin lagi kembali menjadi Charlotte yang sebelumnya.


“Aku mengerti, Lyon, Clara. Tidak ada yang perlu dilanjutkan. Pada akhirnya semua orang saling berkhianat dan membunuh orang terdekatnya demi sebuah tahta. Inilah penyebab negeri ini hancur.” Charlotte mengepalkan tangannya dan melepaskan aura sihir yang sangat besar.


Hembusan dingin dan serpihan es mulai membekukan udara. Charlotte menatap lautan reruntuhan yang terbakar api membentang luas. Sekarang Ibukota Floral telah tiada dan hanya menyisakan bau amis gosong yang menyengat dengan sejuta luka.


“Aku akan mengambil peran ini!” Charlotte berkata sambil menatap ke arah Leo.


“Apa kau puas Leo?”


Leo menatap balik Charlotte. Dia tidak menjawab dan membuang wajahnya seolah-olah tidak menunjukan sedikitpun kepedulian.


“Baiklah, insiden ini sepenuhnya akan menjadi luka yang mendalam bagi kita semua. Aku sendiri tidak pernah menyangka gulungan sihir yang mengekang malapetaka berada di negeri ini.” Saturn angkat bicara sambil menatao En yang ada dipundak Leo.


“Situasi ini akan semakin rumit jika banyak orang yang mengetahui berita ini,” ucap Saturn.


“Jadi apa yang akan kita lakukan Saturn?” Venus berbisik pada Saturn.


“Kita akan kembali. Sebelum itu kita akan menguburkan semua rekan kita dan musuh yang kita hadapi. Selain itu kita masih memiliki satu masalah yang harus dihadapi.” Saturn menatap langit dan memejamkan matanya saat langit diatas sana berwarna hitam bercampur merah darah.


Pembersihan jasad dan penguburan memakan waktu yang cukup lama. Leo memilih untuk menyendiri setelah memberikan pemakaman yang layak untuk semuanya. Dinginnya malam dan gelapnya langit membuat Leo menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya.


“Tuan Avalon, sepertinya orang yang dikhawatirkan wanita berambut pirang bisa kurasakan aura sihirnya. Mungkin satu jam lagi dia akan tiba disini.” En memberitahu.


“Jangkauan aura sihirmu sangat jauh, En. Lalu mereka ada berapa orang?” tanya Leo.


“Jumlah mereka ada tiga.” En memberikan jawaban sebelum menjelaskan kepada Leo jika kemampuan ketiga orang tersebut setara dengan rekan Leo di Galaxy.


Mendengar itu Leo memejamkan matanya. Dia tidak sabar melihat seberapa kuat orang yang dikirim John Flamingo ke Kerajaan Floral.


“Sepertinya John Flamingo tidak ada diantara ketiga orang itu.” Leo bangkit berdiri dari reruntuhan bangunan sambil menepuk celana panjangnya.


“Apa kau juga akan membunuhku jika aku mencari masalah denganmu?”


Leo langsung menoleh kebelakang saat Charlotte datang dan langsung berdiri di sampingnya.


“Ada apa Charlotte?” Leo bertanya.


“Leo... Apa kau akan pergi?” Charlotte menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Leo.


“Ya, aku akan pergi.” Leo memberikan jawaban yang jelas dan membuat Charlotte memeluk tubuh Leo.


“Kumohon temani aku Leo. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.” Charlotte memeluk Leo semakin erat dan membuat anak remaja itu mengerutkan keningnya.


“Charlotte lepaskan.” Leo menegur Charlotte dan membuat gadis itu melepaskan pelukannya.


“Apa kau tidak peduli padaku?” Charlotte menatap mata Leo lurus dan meminta jawaban.


Leo pernah berharap dikehidupan sebelumnya jika dia bisa menemukan orang yang menjadi alasannya untuk hidup. Namun pengkhianatan benar-benar menghancurkan dirinya. Tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan harus menanggung segalanya termasuk depresi yang dialaminya, Leo tidak pernah mempercayai wanita manapun setelah dikhianati.


Namun dikehidupan ini Leo berharap Charlotte adalah orang yang dia cari selama ini.


“Charlotte, apa kau ingin mendengar cerita,” ujar Leo mengalihkan pembicaraan.


“Cerita? Apa yang kau ingin ceritakan kepadaku Leo.” Charlotte penasaran dengan perubahan sikap Leo.


Leo di mata Charlotte sekarang memiliki sisi yang sangat berbeda. Biasanya Leo sangat susah didekati dan dingin, namun sekarang anak remaja itu terlihat sangat kesepian dan begitu rapuh.


“Aku pernah mengenal seorang laki-laki. Dia tumbuh tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Dia tidak percaya pada siapapun namun suatu hari dia bertemu dengan manusia istimewa. Dia bertemu dengan wanita yang dicintainya. Dia mencintai wanita itu dengan tulus, tanpa drama atau kebohongan. Tetapi wanita itu dengan tega menyakiti perasaannya. Sejak saat itu laki-laki tersebut tidak percaya pada siapapun.” Leo mulai bercerita dan mengatakan kepada Charlotte tentang kebenciannya terhadap pengkhianatan.


“Leo... Apakah kau pernah mengalami hal ini?” Charlotte justru bertanya kepada Leo karena ekspresi pemuda itu saat bercerita terlihat begitu menderita.


Mata Leo melebar dan berkata, “Menurutmu aku pernah merasakannya?”


“Entahlah mungkin hanya perasaanku saja. Tetapi saat kau menceritakan hal itu barusan kau terlihat sangat jujur dan menderita.“ Jawaban Charlotte membuat mata Leo berair.


Leo tidak mudah menunjukkan kelemahannya pada siapapun. Dia membuang wajahnya dan tidak menatap Charlotte.


“Charlotte, kau pasti akan menjadi seorang Ratu yang hebat.” Setelah berkata demikian Leo mengelus kepala Charlotte.


“Aku akan menyelesaikan pengganggu yang akan datang.” Leo memberitahu Charlotte tentang tiga orang yang sedang bergerak kemari.


Wajah Charlotte bersemu merah karena Leo mengelus rambutnya. Tanpa berkata apapun Charlotte memperhatikan Leo yang berjalan menjauh dan terbang ke angkasa menggunakan sayap Phoenix.