Leo Avalon

Leo Avalon
L A 66 - Gejolak Akademi Sihir Carta



L A 66 - Gejolak Akademi Sihir Carta


Karena perbuatan Galadriel hanya tiga perwakilan saja dari kelas satu yang berhasil lolos yakni Leo, Jennie dan Jinan. Sementara itu Milan dan Vasco dikalahkan secara telah Lille dan Cia. Semenjak kejadian itu Galadriel tidak pernah masuk kedalam kelas, namun Leo menemui teman sekelasnya tersebut.


”Untuk apa kau mendatangiku?” tanya Galadriel.


”Datanglah ke kelas. Aku tidak marah untuk apa yang telah kau lakukan. Selama mereka baik-baik saja itu tidak masalah, namun jika ada yang terluka parah itu lain ceritanya.” Leo mengajak Galadriel kembali ke kelas namun Galadriel menolaknya.


”Leo, aku sudah dibuang oleh kelompoknya Kakak Rhiannon. Kau tidak perlu bersimpati padaku. Aku hanya ingin membuat kakakku itu senang, tetapi sepertinya dia terlibat sesuatu dengan Maximilian-Sensei.”


”Apa kau perlu bantuan?”


”Kau orang yang aneh, Leo. Kau terlalu baik dan percaya pada seseorang. Apa kau tidak takut aku khianati kembali?”


”Seperti katamu. Kau belum menganggap orang-orang dikelasmu sebagai seorang teman. Jadi kau belum berkhianat. Jika kau kembali berkhianat dan melukai seseorang yang kukenal, maka saat itu aku akan membunuhmu.”


Galadriel terdiam. Ia mengetahui Leo tidak sedang bercanda. Bahkan sekarang Galadriel tidak mengetahui sosok Leo yang sebenarnya itu yang mana. Anak remaja itu terkadang pendiam dan tidak banyak bicara, namun terkadang banyak bicara dan bersikap lembut dan peduli.


Galadriel ingin meminta bantuan kepada Leo namun ia merasa malu karena telah merepotkan Leo dalam Ujian Musim Semi, terlebih setelah apa ia lakukan dengan membocorkan lokasi keberadaan teman sekelasnya.


”Aku tidak menyangka kau yang menjadi pengkhianatnya, Galadriel?!”


”Pantas saja aku merasa aneh karena Senior Cia menungguku.”


Galadriel terkejut saat mengetahui Milan dan Vasco datang. Sedangkan Leo bersikap biasa saja dan meminta pada keduanya agar tidak mengambil keputusan yang cepat.


”Jadi apa yang ingin kalian lakukan padaku, Milan, Vasco?! Apa kalian berdua ingin bertarung disini?!” ujar Galadriel.


”Tidak, aku sudah tidak berminat. Sekarang aku sedang fokus untuk membantu tiga perwakilan di kelas kita yang akan bertanding di Turnamen Musim Dingin.” Vasco mendekati Leo dan tidak menunjukkan sedikitpun permusuhan.


Lain halnya dengan Milan yang dendam setelah mengetahui Galadriel berkhianat.


”Karena dirimu aku harus bertarung melawan Senior Lille! Aku ingin memastikan satu tempat di Turnamen Musim Dingin namun semua gagal karena dirimu!”


Milan bergerak maju menyerang Galadriel. Tinju keduanya beradu dan saling melakukan pertukaran serangan, namun saat keduanya serius Leo langsung menghentikan pergerakan keduanya.


”Leo! Apa kau ingin menghalangiku?!” teriak Milan.


”Minggir, Leo! Akan kuberi pelajaran pada sialan ini!” ujar Galadriel.


Leo pun menatap dingin keduanya dan membanting tubuh keduanya dengan gerakan yang bertenaga.


”Sudah cukup! Apa kalian ingin aku meminta maaf kepada Catherine-Sensei karena keributan yang kalian buat?!”


Mendengar perkataan Leo membuat Milan dan Galadriel melunak. Keduanya saling menatap penuh permusuhan sebelum Milan pergi ke kembali ke kelas, sedangkan Vasco masih menemani Leo yang sedang bersama Galadriel.


”Vasco, bagaimana pendapatmu tentang Maximilian-Sensei?” tanya Leo.


”Maximilian-Sensei? Menurutku dia seorang Guru yang sangat berbakat. Hanya saja aku melihatnya beberapa kali melakukan uji coba aneh kepada Hewan Buas Sihir.”


Vasco memberitahu Leo agar jangan terlibat dengan Maximilian karena pemuda itu mengingat bagaimana senyuman Maximilian saat berhasil membuat Hewan Buas Sihir menjadi begitu buas dengan jarum suntik.


”Apa kau menyembunyikan sesuatu, Vasco?” Leo memperhatikan Vasco dan berharap teman sekelasnya itu memberikan petunjuk.


Vasco menatap Leo dan Galadriel secara bergantian sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang dilihatnya kepada kedua teman sekelasnya tersebut.


Mendengar itu Leo terkejut begitu juga dengan Galadriel. Leo merasa Maximilian melakukan uji coba kepada Rhiannon dan ini hal yang sama dirasakan Galadriel.


”Galadriel, Kakakmu itu aku rasa dia...” Leo tidak melanjutkan ucapannya sebelum mendecakkan lidahnya.


”Sial!” Kemudian Leo bergegas menuju ruangan penelitian sihir milik Maximilian.


”Leo! Jangan gegabah!” Vasco memberikan peringatan sedangkan Galadriel mengikuti Leo karena mengkhawatirkan kakaknya.


Namun yang mereka temukan adalah sosok Rhiannon yang berbeda sedang mengamuk didalam kelas satu. Terlihat aura sihir yang dimiliki Rhiannon sangat pekat dengan kedua bola mata yang berwarna merah menyala. Sangat jelas jika Rhiannon merupakan obyek percobaan Manusia Iblis yang sama seperti anggota Hollowness.


”Eva! Maya! Kalian berdua cepat bawa Kudela dan Lopez menuju ruang kesehatan! Orang ini benar-benar ingin membunuh!” teriak Karen.


”Karen, minggir! Aku akan menghentikan pergerakannya-”


”Hentikan, Milan!”


Sebelum Milan mencapai tubuh Rhiannon, tubuhnya terkena sabit darah yang membuat perutnya terluka parah. Terlihat Rhiannon menciptakan pedang sabit dari darahnya dan mengendalikannya.


”Senior! Apa yang merasuki mu?! Kau hampir membunuh seseorang bodoh!” Karen mengeluarkan aura sihir dan memainkan pedangnya dengan lincah.


Namun dalam beberapa pertukaran serangan saja Karen sudah dibuat terdesak. Saat Rhiannon berniat membunuh Karen, pukulan dari Galadriel mengenai wajah Rhiannon secara telak.


”Apa kau ingin membunuh orang?!”


Galadriel memukul wajah Rhiannon kembali dan menyadari bahwa apa yang ia khawatir benar-benar terjadi. Pukulan Galadriel bagi Rhiannon hanyalah tepukan tangan pelan dan dalam gerakan yang cepat tubuh Galadriel terpental karena tendangan yang dilepaskan Rhiannon.


”Vasco, bawa Milan! Aku akan menghadapi orang ini!” ucap Leo.


”Leo! Dia bukan lagi manusia!” Vasco berkeringat dingin karena mengetahui aura mengerikan yang ada disekitar Rhiannon.


”Karen, dimana Jennie?”


”Jennie... Dia...”


Leo menanyakan keberadaan Jennie dan terlihat wajah Karen ketakutan dan memucat. Leo tidak bertanya lebih jauh dan meminta semua teman sekelasnya untuk pergi meminta bantuan.


”Leo! Leo! Leo!”


”Aku akan membunuhmu!”


Melihat Leo dihadapannya membuat Rhiannon melepaskan energi sihir yang begitu besar hingga ruangan kelas hancur sepenuhnya. Serangan telak Rhiannon juga mengenai perut Leo dan membuat anak remaja tersebut terpental menabrak dinding kelas dua dan kelas tiga sebelum menabrak taman akademi.


Rhiannon bergerak dengan sangat cepat hendak membunuh Leo. Sebuah pedang sabit hampir memenggal kepalanya, namun Leo dengan tenangnya tidak menghindar karena merasakan aura sihir milik Charlotte.


Dan benar saja sihir Charlotte menghentikan pergerakan Rhiannon dengan serpihan es nya.


”Leo, bukankah kau dapat mengatasi ini dengan mudah?”


”Charlotte... Apa yang kau lakukan disini?”


Melihat Charlotte dan Leo terlihat seperti sudah saling mengenal, semua murid akademi yang melihat hal ini terkejut. Bahkan Lechia dan Glossy yang baru sampai di lokasi kejadian terkejut karena Leo bersikap biasa saja kepada Charlotte.


”Charlotte, dimana para Guru?” tanya Leo.


”Para Guru berada di hutan sihir. Kekacauan akan segera terjadi disini, Maximilian-Sensei berkhianat dan bekerjasama dengan Sembilan Iblis Langit.” Charlotte menjawab.


Leo terkejut mendengarnya, namun kedatangan Lechia dan Glossy yang menghentikan amukan Rhiannon benar-benar menyelamatkan dirinya.


’Beruntung... Aku tidak perlu menunjukkan kemampuanku.’ Leo membatin lega sebelum melihat Lechia dan Glossy bersikap sangat sopan kepada Charlotte.


”Senior Charlotte, apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa kau mengenal berandalan ini?” Lechia menunjuk Leo setelah bertanya.


”Siapa yang kau sebut berandalan?!”


”Siapa lagi kalau bukan dirimu!”


”Hah?!”


Charlotte tertawa karena mengetahui Leo terlihat menikmati kehidupannya di Akademi Sihir Carta.


”Lechia, aku akan menjelaskan nanti. Saat ini kumpulkan semua anggota Sepuluh Elite Carta dan murid yang dapat bertarung. Hollowness datang menyerang.”


Mendengar penjelasan Charlotte membuat Lechia berkeringat dingin karena menyadari tidak ada satupun Guru yang berada di akademi.


Diudara terlihat seekor burung elang terbang memutari akademi sebelum sebuah anak panah menghancurkan matanya dan membunuhnya.


”Pasti ini ulah Kakakmu, V!” ujar wanita yang mengendalikan burung elang tersebut dan ia tidak lain adalah Cochlea.


”Kita tidak bisa menyusup jika seperti ini. Jadi bagaimana pendapatmu tentang gadis bernama Charlotte? Apa dia membawa Pedang Blue Rose?” tanya Elf bernama V.


”Tidak, dia sama sekali tidak membawa pedang tersebut.”


”Apa kita perlu membunuhnya?”


Cochlea terlihat bersemangat membuat kekacauan, namun V menghentikannya.


”Kita amati kekacauan ini lalu mengambil tindakan. Guru Hera dan Kakakku bukanlah orang yang bisa dianggap remeh,” ujar V mengingatkan.


”Kematian mereka diperlukan untuk kita agar dunia ini terbebas dari penderitaannya.” Cochlea tersenyum lebar dan berniat untuk memasuki Akademi Sihir Carta.


V kembali menghentikannya, namun kali ini ada perlawanan dari Cochlea.


”V, kenapa kau menghentikanku?”


”Sudah kubilang jangan membuang tenagamu. Kita amati lalu mengambil tindakan. Ikuti saja perintahku, Cochlea.”


Cochlea pun mengurungkan niatnya saat melihat V terlihat serius. Sementara Cochlea dan V yang merupakan anggota Tartaros hendak melancarkan tujuan mereka di Akademi Sihir Carta, sesuatu terjadi di hutan sihir dimana Maximilian menyandera Jennie dan mengancam Hera agar memberitahu lokasi Hutan Peri.