
L A 88 - Ibukota Gaspar
Suasana di Ibukota Gaspar terlihat mencekam saat Raja Leguain mengumpulkan para tahanan yang mendukung Vasco Gaspar dan mengeksekusi mereka semua. Lalu Raja Leguain menyisakan Vasco Gaspar yang disalib dan akan dihujani panah api sampai mati.
”Aku akan mengutukmu, Leguain! Walau aku mati sekalipun, diriku ini akan menghantuimu!” ujar Vasco penuh kebencian terhadap Raja Leguain.
Mendengar itu Raja Leguain tertawa sinis dan merendahkan Vasco yang sudah tidak dapat tertolong.
”Sadari posisimu anak manja! Jika bukan karena kakakmu yang telah menjadi mayat! Kau tidak akan bisa hidup sampai sekarang!” ucap Raja Leguain.
Ucapan Raja Leguain tersebut membuat Vasco marah besar, namun apadaya sekarang tubuhnya penuh luka dan disalib. Bahkan Vasco tidak dapat bergerak selain menanti kematiannya. Pandangan matanya melihat cahaya merah dan asap hitam yang jauh dari Ibukota Gaspar.
”Apa yang kau lakukan, keparat? Kau tidak sedang mengundang makhluk asing bukan?!” ujar Vasco kepada Raja Leguain.
”Rupanya kau memperhatikan pertarungan disana! Tenang saja, itu adalah pertarungan yang akan dimenangkan pihakku!” Setelah berkata, Raja Leguain mengangkat tangan kanannya dan memberi tanda pada semua prajurit yang ada di alun-alun Ibukota Gaspar untuk membunuh Vasco.
Semua busur mengarah pada Vasco dengan panah yang membara. Namun sebelum mereka semua melepaskan tali busurnya, kedua tangan semua prajurit terpotong lalu disusul dengan kepala mereka yang terpisah dari badannya.
Suasana mendadak menjadi hening saat hembusan angin menerpa alun-alun Ibukota Gaspar. Kejadian barusan membuat semua penduduk yang dipaksa menyaksikan berlari ketakutan, sebagian ada yang pingsan saat melihat darah yang menetes dengan derasnya.
Raja Leguain sendiri terdiam dan tidak dapat bergerak sedikitpun. Wajahnya memucat saat mengetahui semua prajurit militer bawahannya mati.
Dengan dipenuhi rasa takut, Raja Leguain bereaksi spontan meminta para jendral kerajaan bergerak, namun kondisi mereka sama seperti bawahannya.
”Apa yang terjadi?!” Sebelum Raja Leguain menyadari lebih jauh, End dan Chiesa muncul dibelakangnya sambil memegang kedua bahunya.
”Kalian berdua?” Wajah Raja Leguain langsung memucat saat melihat keduanya.
”Jangan bergerak atau bicara! Bergerak sedikit saja, aku akan membunuhmu!” Sebuah suara ancaman menggema ditelinga Raja Leguain.
Raja Leguain langsung melihat kearah sumber suara dan menemukan Leo yang menjentikkan jarinya. Sedetik kemudian Raja Leguain menjerit kesakitan saat tangan kanannya membeku dan hancur.
”Argh! Tanganku! Dingin! Sakit!”
Bukan merasa iba, Leo malah menendang mulut Raja Leguain dan disusul dengan tendangan yang mengenai tenggorokan Raja Leguain secara telak.
”Tadi aku suruh diam dan jangan bergerak! Apa kau tidak mendengar perintahku?!”
Raja Leguain langsung pasrah saat melihat tatapan dingin Leo. Saat itu juga Raja Leguain menyadari bahwa dirinya tidak akan terselamatkan.
”Archie...”
”Cesta...”
Mengetahui apa yang dipikirkan Raja Leguain membuat Leo mengeluarkan sihir pemanggilan dan memperlihatkan Cesta.
”Kau mencari orang ini bukan? Dia sudah mati dan menjadi bawahanku!” Leo menatap Raja Leguain sambil mengulurkan tangannya dan memegang kepala pria tersebut.
”Aku membutuhkan informasi darimu!” Setelahnya mulut Raja Leguain berbusa saat Leo memaksa untuk melihat berbagai macam informasi yang ingin ia ketahui.
Dari kepala Raja Leguain terlihat semacam aura yang terserap ke telapak tangan kanan Leo dan berwarna putih. Saat itu juga Raja Leguain mati ditangan Leo dan memberikan sejumlah informasi menarik untuk Leo.
”Tidak kusangka, orang ini sangat licik! Menjadi penjilat Kekaisaran Timur sekaligus Gdanks! Tetapi berkat itu aku mengerti mengapa mereka semua mengincar Charlotte!” Leo tersenyum dingin sebelum mengalihkan pandangannya menatap Vasco Gaspar.
”Lama tidak berjumpa, Vasco.” Leo menyapa mantan teman sekelasnya itu.
Vasco yang tersalib menelan ludah dan nampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sekarang pria dihadapannya itu adalah teman sekelasnya yang dikabarkan mati.
”Leo... Leo, bagaimana bisa kau masih hidup? Kemana saja kau selama ini?!”
”Sialan! Kau! Apa kau tidak tahu kami semua merasa kehilangan dirimu!”
Vasco meneteskan air matanya karena tidak percaya dengan semua ini. Sedangkan Leo tidak menjawab apapun dan membebaskan tubuh Vasco yang tersalib dan menyembuhkan teman sekelasnya itu dengan api Phoenix.
”Aku akan membebaskan semua tahanan yang tersisa. Vasco, aku ada permintaan untukmu.”
Berbeda dengan Vasco yang ingin berbincang lebih jauh, Leo nampak tidak ingin basa-basi dan langsung meminta Vasco menjadi Raja Gaspar.
”Aku akan pergi. Cepat atau lambat, orang-orang dari Allegra akan kemari. Jika ada wanita bernama V dan Cochlea mencari ku, katakan pada mereka berdua aku berada di Luvierte.”
Setelah berkata demikian tubuh Leo secara perlahan terbakar dan lenyap tak berbekas dari hadapan Vasco begitu juga dengan End, Chiesa dan Cesta yang dipanggilnya.
”Leo...” Vasco mengepalkan tangannya karena menyadari temannya tersebut bukanlah orang yang ia kenal lagi.
Tak lama para prajurit dan petinggi militer yang mendukung Mars Gaspar langsung menuju kearah Vasco dan menanyakan keberadaan Leo. Mereka semua ingin mengucapkan terimakasih kepada Leo namun tidak sempat karena Leo telah pergi.
Hari itu juga revolusi di Kerajaan Gaspar dimulai dan Vasco Gaspar resmi menjadi Raja Gaspar yang baru.