
L A 64 - Pengkhianat Kelas
Akhirnya hari yang dinantikan tiba, Ujian Musim Semi menjadi kegiatan pertama yang akan Leo lakukan di Akademi Sihir Carta. Kegiatan ini diadakan di tempat yang sama seperti ujian masuk hanya saja koneksinya lebih luas karena menjangkau beberapa tempat.
Ujian Musim adalah ujian yang diikuti semua murid dimana setiap orang wajib memiliki dua gulungan bumi dan langit dari kelas lain. Setelah itu akan ada seleksi kembali hingga menyisakan tiga perwakilan kelas saja yang akan lolos dan mewakili kelas ke Turnamen Musim Dingin.
Leo mendapatkan gulungan hitam dan ia akan mengambil gulungan putih dari murid kelas lain. Saat ujian tiba semua murid ada yang bekerjasama dan bergerak sendiri. Leo bergerak sendiri dan mengawasi setiap anggota kelasnya menggunakan aura sihir.
Hal ini membuat satu-satunya orang yang menyadari kemampuan Leo menjadi kesal. Terlihat Jinan juga mengawasi Leo sebagai bentuk balasannya.
”Leo, dilihat dari sikapmu kau juga terlihat peduli pada teman sekelasmu. Tetapi aku kau terlalu pengecut karena tidak berani bertemu dengan Lea.” Jinan berkata saat jaraknya dengan Leo mendekat.
”Itu bukan urusanmu, Jinan. Kau dan Lechia tidak mengatakan hal yang tidak perlu bukan kepada Lea?”
”Tenang saja. Lea belum mengetahui siapa dirimu dan lagi pula dia belum tertarik padamu.”
”Aku tidak peduli dengan semua itu.”
”Kalau begitu kita berpisah disini. Sebelum itu, aku ingatkan padamu Leo. Kau harus hati-hati terhadap semua guru dan murid.”
Setelah berkata demikian Jinan menghilang dari pandangan Leo. Saran dari Jinan tentu saja membuat Leo bersikap waspada karena ia menyadari kejadian di ujian masuk dan mencari tahu apa yang sedang Hera waspadai.
Sebelum Leo melangkah lebih jauh, ia dihadang oleh Rhiannon dan beberapa siswa kelas dua. Disana juga ada Galadriel yang bersama Rhiannon.
”Apa dia Ketua Kelas yang kau maksud, Galadriel? Seingatku cewek Elf itu yang mencari masalah denganku!” ujar Rhiannon.
”Benar, Kakak Rhiannon. Leo, dia adalah Ketua Kelas Satu. Jika kau mencari Jinan Leafa, aku rasa dia bergerak ke arah utara.”
”Sesuai rencana. Jika kita bisa mengalahkan semua anggota kelasmu maka aku bisa bersaing dengan kelas tiga. Kerja bagus, Galadriel.”
Melihat itu Leo menjadi waspada dan menjaga jarak namun sebelum ia melakukan itu, Galadriel bergerak dan berada dibelakangnya sambil memegang bahunya.
”Kau hendak kemana Ketua Kelas? Jangan bilang kau ingin melarikan diri!”
”Galadriel, apa maksud semua ini?!”
”Seperti yang kau lihat. Keberadaanku disini hanyalah untuk mengawasi dan membantu Kakak Rhiannon.”
”Dan kau mengkhianati teman sekelasmu?” tanya Leo tajam.
”Aku tidak mengkhianati siapapun. Sejak awal aku tidak menganggap dirimu dan yang lainnya sebagai seorang teman.”
Setelah mengatakan itu Galadriel memusatkan aura sihir pada semua tubuhnya hingga tubuhnya terlihat lebih kekar dan berotot.
”Akan kuperlihatkan kekuatanku padamu Leo!” Galadriel berniat membuat Leo terkapar dengan satu serangan karena selama ini ia mengetahui kemampuan Leo yang masih standar dan dibawah dirinya.
Namun saat pukulannya yang dipenuhi aura sihir dapat ditahan Leo dengan mudah, seketika Galadriel merasa syok karena mengetahui kemampuan Leo yang misterius.
”Apa... Pukulanku? Ini tidak mungkin! Apa yang kau lakukan Leo?!”
”Seperti yang kau lihat. Aku hanya mempertahankan diriku.”
Leo dan Galadriel berhadapan satu sama lain. Sebagai bentuk balasannya, Galadriel melepaskan serangan bertubi-tubi kepada Leo dan semua serangannya itu ditepis dengan mudah.
Lalu Leo dengan gerakan yang cepat menahan tangan Galadriel dan membanting tubuh pemuda itu sampai terkapar ditanah. Kemudian dengan tatapan dinginnya Leo menatap Rhiannon dan teman sekelasnya.
”Kalian semua. Habisi adik kelas keparat ini!” ujar Rhiannon.
”Lima lawan satu... Senior, bukankah kau terlalu pengecut!” Leo memancing amarah Rhiannon.
Namun Rhiannon tidak bergeming dan hanya melihat bagaimana Leo menghadapi kelima temannya. Pertarungan itu berlangsung sangat singkat karena Leo dapat mengalahkan mereka semua dengan mudah.
”Kau! Kau ini sebenarnya siapa?!” Rhiannon masih tidak percaya jika Leo belum bertarung serius dan dapat mengalahkan kelima temannya.
”Senior, untuk melawan orang-orang seperti kalian aku tidak perlu menggunakan kekuatanku yang sesungguhnya. Kau tahu, aku benci permusuhan maka dari itu aku menjauh. Namun jika kau datang padaku membawa permusuhan, aku tidak akan lari.”
Tubuh Rhiannon bergidik saat kilatan petir menyambar tubuh Leo. Sebelum ia bertindak lebih jauh, Rhiannon melihat Leo sudah berada didepannya.
”Kau berbuat curang dan memancing semua teman sekelasku ke lokasi teman sekelasmu yang kuat. Aku tidak menyalahkan siapapun karena anggota kelasku berkhianat. Tetapi kau salah orang karena berhadapan denganku.” Leo memegang rambut Rhiannon dan menarik kepalanya sebelum menghantamnya ke lutut kakinya.
”Argh!!!”
Seketika Rhiannon pingsan dan Leo langsung mengambil semua gulungan milik Rhiannon, Galadriel dan yang lainnya.
”Mereka benar-benar menikmati masa muda.” Leo mendecakkan lidahnya sebelum meninggalkan lokasi tersebut.
Saat Leo semakin menjauh, ia merasakan aura sihir yang pekat dan apa yang ia temukan pertarungan sengit antara Lea melawan Karen.