Leo Avalon

Leo Avalon
L A 45 - Kematian Raflesia



L A 45 - Kematian Raflesia


Benturan kedua serangan menggema. Pukulan Mercurius yang dahsyat itu mengenai wajah Raflesia secara telak dan membuat Raflesia jatuh menghantam tanah dengan sangat keras.


“Tidak berhenti sampai disini keparat!” ujar Mercurius sambil bergerak menuju Raflesia yang terkapar di tanah.


Mercurius menghujani tubuh Raflesia dengan pukulan yang kuat. Raflesia bersusah payah bangkit dan menghindar. Bukan hanya serangan Mercurius yang merepotkan melainkan serangan dari Venus juga cukup merepotkan.


“Dua lawan satu. Bukankah kalian pecundang.” Raflesia tersenyum lebar saat Venus membekukan kedua kalinya berulang kali.


Mendengar itu Mercurius tertawa mengejek, “Pecundang? Kau sendiri membantai orang-orang yang tidak melawan. Bukankah itu jauh lebih pecundang?!”


Raflesia tersenyum menyeringai menanggapi ucapan Mercurius dan menciptakan badai hitam yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Mercurius yang melancarkan serangan bertubi-tubi langsung terseret kencangnya badai hitam yang Raflesia ciptakan.


Venus yang menjaga jarak langsung memperlebar jarak, namun Raflesia yang memahami hal ini langsung mempersingkat jarak sambil mengayunkan kedua tangannya menciptakan sabit angin.


“Membekulah!” Venus menyentuh tanah dengan kedua tangannya dan seketika sebuah tombak es muncul mengarah pada Raflesia.


“Bukankah itu berbahaya!” Raflesia menghancurkan tombak es tersebut, namun tidak pernah dia sangka melihat Venus yang bergerak cepat kearahnya.


“Tadi kau menjaga jarak dariku dan sekarang kau berlari kearahku! Apa kau ingin mati?!” Raflesia kembali berniat menciptakan badai besar.


Namun sebelum itu terjadi kedua tangan Raflesia tiba-tiba membeku dan tak lama es itu merambat keseluruh tubuhnya. Sebelum Raflesia menyadari lebih jauh, Venus menyemburkan api dari dalam mulutnya dan membakar tubuh Raflesia yang membeku.


Hembusan angin yang kencang seketika berhenti. Mercurius yang melihat kesempatan ini langsung terbang menuju Raflesia dengan kecepatan tinggi sambil mengarahkan pukulan terkuatnya kepada Raflesia.


Raflesia yang tidak berkutik sedikitpun tidak dapat menghindari serangan Mercurius. Saat itu juga pukulan Mercurius menembus jantung Raflesia dan mengakhiri nyawanya.


“Tamat riwayatmu bedebah!” ujar Mercurius saat pukulannya berhasil menembus jantung Raflesia.


Mata Mercurius menajam saat melihat seringai senyum diwajah Raflesia yang menghembuskan nafas terakhirnya.


BOOOMMM!!!


Tepat setelah Raflesia menghembuskan nafas terakhirnya ledakan yang keras menggema karena tubuh Raflesia meledak. Mercurius adalah orang yang paling parah terkena dampaknya dan langsung sekarat.


Bukan hanya Mercurius saja, tubuh Raflesia yang meledak ini membuat Ibukota Soulfred hancur. Begitu banyak orang yang terkena imbasnya dan harus mati tanpa mengetahui apa penyebab dari kematian mereka.


“Aku merasakan firasat yang sangat buruk...” Venus mengumpat saat menyadari lingkaran aura sihirnya mulai menipis.


Saat Venus merasakan putus asa karena tidak dapat menolong orang-orang disekitarnya, Leo menghubunginya melalui telepati.


Venus, lepaskan aura sihirimu dan aku akan membantumu menggunakan api Phoenix milikku...


Mendengar suara Leo yang menggema di telinganya membuat Venus mendapatkan secercah harapan. Wanita itu mengikuti saran Leo dan benar saja api Phoenix mulai menyebar di sekitar tangan Venus.


“Leo... Terimakasih...”


Venus melepaskan aura sihirnya lebih besar dan tidak peduli dengan resiko apapun yang akan dia alami kedepannya. Beberapa orang yang terluka ringan dan parah mulai terbungkus api Phoenix yang hangat dan menyembuhkan.


Diwaktu yang sama Earth dan Mars berhasil memojokkan Reptile, Leo yang bergerak bebas setelah menghabisi ular-ular putih yang mengganggunya bergerak cepat menuju Reptile.


“Bocah ini!” Reptile menatap tajam Leo yang mengayunkan tangan kanannya.


Pukulan yang kuat dan penuh akan aura sihir menyentuh badan Reptile secara telak. Pria itu tidak dapat berkutik saat pukulan Leo menghancurkan tulang-tulangnya dan merenggut nyawanya.


“Matilah dengan putus asa!” Bahkan setelah semua itu, Leo membakar tubuh Reptile secara hidup-hidup sebelum akhirnya Reptile tewas menghembuskan nafas terakhirnya.


Namun mereka tidak dapat beristirahat sejenak ataupun merayakan kematian Reptile. Earth segera memberitahu semua orang yang bekerjasama mengalahkan Reptile untuk pergi menuju Ibukota Soulfred dan Wilayah Vildahala.


“Kita terkecoh! Olympus dan yang lainnya juga sudah bergerak memikirkan rencana mereka!” Earth menjelaskan jika Olympus memancing amarah semua pemberontakan dengan niat melakukan pembantaian terhadap penduduk Vildahala.


“Mereka berniat mengorbankan nyawa penduduk Kerajaan Soul demi membuat Chiesa sebagai sosok Raja Iblis Agung yang lebih sempurna!”


Lalu Earth memberikan perintah kepada Leo, Mars, Nggere dan Zeketaryan untuk berpijak pada bongkahan batu dan tanah yang kokoh.


“Aku akan menggunakan sisa kekuatanku untuk menerbangkan kalian kesana! Pastikan untuk menghentikan kekacauan ini!” ujar Earth.


“Aku berjanji akan mengalahkan para bedebah itu untukmu, Earth!” ucap Mars.


Earth pun tersenyum dan mulai menerbangkan mereka berempat menuju wilayah Vildahala.