
L A 68 - Dua Guru vs Petinggi Iblis
Penjara Air yang mengekang pergerakan Enceladus membuat Saturn dengan mudah menyerang iblis tersebut. Enceladus terlihat kesulitan bernafas dalam air saat pertama kali dirinya berada didalam Penjara Air, namun seiring berjalannya waktu Enceladus mulai terbiasa dan dapat melakukan serangan balasan.
”Kau memiliki teknik yang hebat. Namun butuh kerja keras untuk mengekang pergerakanku!”
Enceladus tersenyum lebar sebelum cermin terbentuk disekitar Saturn. Saat itu juga sinar cahaya membakar tubuh Saturn dan menghanguskan badannya. Beruntung Saturn menyadari lebih cepat sehingga, yang terbakar hanyalah tubuh bayangannya.
Hiu Putih pun berkurang menjadi satu karena Saturn menggunakannya sebagai tubuh bayangan. Perlawanan sengit Enceladus tentu saja membuat Saturn harus berpikir dua kali dirinya berada diatas angin.
”Iblis yang merepotkan. Baiklah, aku akan meladeni dirimu.” Saturn menjentikkan jarinya.
Didalam Penjara Air dua Hiu Putih berenang dengan kecepatan tinggi dan menggigit tubuh Enceladus. Serangan demi serangan yang cepat membuat Enceladus terluka parah, terlebih saat darah Enceladus menyatu dengan air maka dua Hiu Putih dan seekor Ular Putih semakin ganas menyerangnya.
’Sial! Aku tidak dapat memberikan perlawanan! Selain itu wanita berambut putih sialan itu hanya berdiri dan memperhatikan!’ Enceladus mengumpat dalam hatinya dan memperhatikan Archie yang juga memperhatikannya.
Akhirnya setelah serangan yang mematikan, dua Hiu Putih berhasil menghancurkan masing-masing tangan Enceladus. Sementara itu Ular Putih meremukkan tubuh Enceladus dan setelah itu barulah Archie bergerak dengan kecepatan tinggi melepaskan pukulan yang dipenuhi aura sihir.
’Kali ini aku mengalah! Tapi selanjutnya aku akan membunuhmu, betina!’ Enceladus membatin dan menatap jari jempolnya yang mengambang.
”Tamat riwayatmu!” Pukulan Archie menghancurkan kepala Enceladus.
Saturn mengira Enceladus telah mati karena berhasil menghancurkan kepalanya. Setelah Penjara Air hancur, Saturn memeriksa tubuh Enceladus yang secara perlahan lenyap dan ia tidak melihat jari jempol Enceladus yang terjatuh diantara semak belukar.
Karena mengira Enceladus telah ia kalahkan, Saturn menjentikkan jarinya dan mengembalikan Lima Peti Iblis, Archie kedalam bayangannya. Kemudian Saturn bergegas kembali ke Akademi Sihir Carta.
Selepas kepergian Saturn, potongan jari jempol Enceladus memancarkan sinar yang terang dan secara perlahan membentuk jari lainnya sebelum menjadi tangan dan tubuh iblis yang utuh.
”Dia benar-benar menguras energiku! Betina sialan! Dia akan kuberi pelajaran!” Enceladus menggertakkan giginya dan memulihkan energinya yang terkuras habis.
Diwaktu yang hampir bersamaan, Hera berhasil menghadang Titan yang hendak menuju Akademi Sihir Carta. Pertarungan Hera melawan Titan pun tak terelakkan. Keduanya saling berhadapan setelah Titan secara terang-terangan memanipulasi tanah, bebatuan dan pepohonan disekitarnya menjadi monster yang mengerikan.
”Bangunlah, monster imutku! Waktunya makan!” ujar Titan saat berhasil menciptakan sepuluh monster yang tingginya mencapai tujuh hingga sepuluh meter.
Hera memperhatikan monster yang mengelilinginya dengan seksama. Hera mengira kemampuan bertarung Titan dibawah rata-rata, sehingga Hera mengambil inisiatif untuk melakukan serangan cepat.
Hera mengendalikan cuaca dan menciptakan hembusan angin yang begitu kencang sebelum angin tersebut menjadi sebuah badai. Badai besar yang memporak-porandakan kesepuluh monster tersebut membuat Titan tersenyum lebar karena melihat kemampuan Hera yang tidak bisa dianggap remeh.
”Kau menghancurkan pasukan ku dengan mudah, Hera! Ini akan menjadi pertarungan yang sulit untukku!” Titan tersenyum lebar saat Hera bergerak cepat kearahnya dan menerjang dirinya.
”Dengan kemampuanmu yang seperti ini, bukankah sudah cukup untuk Tuanmu itu menguasai semua negeri di benua ini?” ucap Hera sambil melepaskan aura sihir yang mengintimidasi.
Titan tertawa pelan sebelum memberikan jawaban.
”Aku sendiri penasaran mengapa Tuan Gdanks tidak melakukan pergerakan. Namun sejauh ini aku menikmati kehidupan dibalik tembok, dimana manusia disana berhasil kami manipulasi dan mengira semua orang yang ada diluar kerajaan adalah iblis.”
”Kau tidak perlu khawatir, Hera. Cepat atau lambat semua negeri di dunia ini akan dikuasai Tuan Gdanks!”
Setelah itu Titan bergerak maju menyerang Hera. Kemudian Hera menyambutnya dengan tebasan pedang yang terbentuk dari aura sihir. Tebasan itu berhasil memotong telinga dan tangan kanan Titan yang berada dalam jangkauan serangan Hera.
”Aku tidak dapat melihat arah serangannya!” Titan tersentak kaget saat sedang menumbuhkan telinga dan tangannya, Hera sudah kembali menyerangnya.
”Bukankah kau orang yang ahli dalam menyegel sihir? Kenapa kau dapat bertarung seperti ini?!”
Hera tersenyum lebar dan terus melancarkan serangannya tidak memberikan kesempatan pada Titan untuk melakukan serangan balik.
”Aku mengira kemampuan berpedangku sudah tumpul tapi sepertinya masih tajam!”
Tebasan demi tebasan yang dilancarkan Hera berhasil membuat Titan terdesak. Hingga saat ujung bilah pedang Hera hampir menusuk leher Titan, cambuk yang dimanipulasi Titan dari akar pepohonan menyerang Hera.
Cambuk itu bergerak seperti ular dan mengejar Hera, sedangkan Titan yang mengendalikannya langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memulihkan tubuhnya.
”Sepertinya tidak semuda itu...” ujar Titan saat melihat awan hitam diatas sana.
Benar saja sedetik kemudian hujan petir menyerang dirinya. Hera sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Titan untuk memberikan perlawanan apalagi memulihkan tubuhnya.
”Sepertinya perlawananmu sudah berakhir, Titan!”
Hera berjalan mendekati Titan dan berniat mengakhiri pertarungan, namun Hera dikejutkan saat melihat Titan dari jarak dekat.
Tubuh Titan hancur dan berlumur darah. Dalam kurun waktu tiga detik tubuh Titan berwarna merah darah dan kembali utuh.
”Kau memaksa diriku menggunakan kekuatan ini, Hera!”
Titan menepuk kedua tangannya dan sebuah bongkahan tanah yang padat menghimpit tubuh Hera.
BOOOMMM!!!