Leo Avalon

Leo Avalon
L A 58 - Hollowness



L A 58 - Hollowness


Leo menatap tajam kedua pria tersebut yang merupakan seorang Iblis. Namun terlihat jelas dari tubuh keduanya jika mereka pernah menjadi manusia sebelum menjadi Iblis.


‘Pria dengan luka bakar memiliki aura yang jauh lebih pekat dari temannya... Dia harus diwaspadai...’ Leo membatin dan langsung bersikap waspada.


Sebelum bertindak lebih jauh, Blasto menembakkan api dari kelima jarinya dengan sangat cepat. Semuanya terlambat bereaksi dan terkena tembakan meleset di lengan atau kaki mereka, namun para peserta yang diselamatkan Eva semuanya tewas tertembak karena terlambat menghindar.


BOOOMMM!!!


Ledakan yang menghancurkan tubuh orang yang tertembak membuat kejutan bagi Leo dan yang lainnya. Ledakan itu tercipta dari orang yang tertembak kepalanya dan jantung mereka.


”Apa-apaan ini?! Kenapa ada Iblis disini?!” ujar Lopez saat menyadari identitas Blasto dan Baretto.


”Mereka semua mati...” Sementara itu Eva bergumam dengan kondisi syok.


”Jangan alihkan pandangan kalian! Mereka berdua berbahaya!” Maya menegur.


Namun sebelum Maya menyadari, Baretto sudah berdiri didepannya dan mengayunkan tangannya hendak melancarkan pukulan.


Leo dengan cepat mendorong tubuh Maya dan menangkis pukulan Baretto. Tangkisannya itu berhasil membuat Baretto terkejut namun seringai senyum Baretto membuat Leo mengerutkan keningnya.


”Meledaklah!” ujar Baretto.


BOOOMMM!!!


Dan ledakan tercipta membakar tangan kanan Leo yang digunakan untuk menangkis.


”Leo!” teriak yang lainnya dan bersiap menyerang.


”Blasto, sepertinya aku ingin bermain-main dengan mereka!” ucap Baretto saat melihat Kudela menciptakan dua golem yang digunakan untuk menyerang lalu melihat Karen dan Lopez menyerang dirinya secara bersamaan.


”Majulah, keroco!” Baretto tersenyum lebar sebelum menghantam tanah dan menciptakan ledakan beruntun.


”Sial!” Lopez mengumpat karena tidak bisa mendekat.


Ledakan yang diciptakan Baretto membuat semuanya kerepotan. Hingga akhirnya Baretto dapat mengatasi semuanya tanpa bantuan Blasto.


”Mereka benar-benar berbakat. Sayangnya harus mati ditangan kita.” Baretto melepaskan aura yang dahsyat dan berniat membunuh Leo dan yang lainnya.


”Tunggu sebentar, Baretto. Sepertinya Tuan Titan dan Tuan Enceladus akan senang jika kita memberikan mereka hidup-hidup. Populasi Iblis akan meningkat dan kita dapat masuk kedalam kerajaan tanpa harus memikirkan cara bertahan hidup dari penyihir seperti Hera dan yang lain.” Namun Blasto menghentikan Baretto dan menatap Leo dan yang lain sangat tajam.


”Aku tidak akan mati disini...” Karen mencoba berdiri dengan tubuh babak belur karena menghadapi Baretto.


Sementara itu Lopez, Kudela dan Eva sudah tak sadarkan diri. Hanya tersisa Maya yang mencoba bangkit dan memberikan perlawanan, sedangkan Leo terkapar dengan tubuh bersimbah darah sambil mengamati.


”Karen, pergi! Bawa mereka semua! Aku akan menghambat mereka!” Maya berteriak setelah berdiri sambil mengeluarkan aura sihir yang besar. Kemungkinan itu aura sihir terakhirnya.


Melihat perjuangan Maya membuat Leo menghela nafas saat serangan Maya ditaklukkan dengan mudah oleh Baretto.


”Suara keroco itu sangat berisik. Apa kau setuju denganku, gadis muda?” Baretto menendang tubuh Maya lalu melirik Karen yang berdiri.


”Ma... Maya...” Karen melawan Baretto sebisanya dan dipermainkan.


”Cukup! Matilah!” Baretto memukul perut Karen sangat keras membuat gadis itu pingsan.


Setelah semuanya terkapar dan tak sadarkan diri, Leo bangkit dengan tubuh bersimbah darah lalu berjalan dengan tenang kearah Blasto dan Baretto.


”Bocah itu...” Blasto menatap Leo tajam karena menyadari aura disekitar Leo berubah.


”Bagaimana mungkin? Tubuhnya terluka parah dan aku sangat yakin dia mati kehabisan darah!” Baretto terkejut melihat Leo masih dapat berdiri dan berjalan tenang.


”Apa maumu bocah?!” ujar Baretto sebelum ia mengingatkan Leo bahwa percuma melawan dirinya.


”Apa kau ingin membalaskan dendam teman-temanmu? Percuma saja kau tidak dapat membunuhku bahkan melukaiku saja tidak mampu.” Baretto mengingatkan.


”Mereka bukan temanku. Sejujurnya aku tidak peduli dengan mereka semua. Aku hanya ingin membalas kebaikan mereka karena bersikap baik padaku dan aku tidak ingin berhutang apapun,” ucap Leo.


Lalu Leo menatap langit dengan tatapan tenang sebelum berkata.


”Aku menantangmu duel satu lawan satu. Apa kau berani?”


Mendengar ini Baretto tertawa mengejek Leo habis-habisan. Baretto mengira Leo berniat memberikan perlawanan terakhir padanya.


”Baiklah, untuk kali ini aku akan mengabulkan permintaan keroco sepertimu.” Lalu Baretto bergerak dengan sangat cepat menuju Leo sambil melepaskan pukulannya.


”Hahahaha! Kepalamu akan terlepas sebelum kau memberikan perlawanan -”


”Apa? Tidak mungkin!” Blasto terkejut melihat Leo dapat melepaskan pukulan seperti itu.


”Keroco? Aku sama sekali tidak paham apa yang kalian berdua ocehkan!” Leo menggoyangkan tangan kanannya sehabis memukul wajah Baretto.


Lalu dengan tenangnya Leo menggunakan kemampuan penyembuhan api Phoenix dihadapan Blasto.


”Itu... Sebenarnya kau siapa bocah?!” Melihat tubuh Leo sembuh membuat Blasto bertanya.


”Aku? Aku adalah orang yang akan membunuh kalian berdua.” Leo tersenyum dingin dan membuat Blasto ketakutan.


”Menjauh!” Blasto mengarahkan hari telunjuknya ke arah Leo dan melepaskan beberapa tembakan api.


Namun setelah membuat sekujur tubuh Leo berlubang, Blasto belum mampu membunuh Leo.


”Saat aku menggunakan kemampuan Phoenix, serangan dari orang yang lebih lemah dariku tidak akan mempan,” ucap Leo.


”Sebelum mati, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu...”


Leo berdiri dihadapan Blasto yang terjatuh tepat setelah melihat kemampuannya.


”Kau seorang Iblis yang belum sempurna bukan? Siapa yang menyuruhmu dan menjadikanmu Iblis?”


”Jawab pertanyaanku dan kupastikan kau mati dengan cara yang tidak menyakitkan.”


Blasto menelan ludah dan gemetar ketakutan. Dia rela membuang kemanusiaan dan menjadi Iblis karena memiliki dendam pribadi pada para bangsawan kerajaan di Benua Carta yang pernah menjadikan dirinya budak begitu juga dengan orang tuanya.


Untuk bisa balas dendam, Blasto rela menjadi apapun hingga suatu hari ia bertemu dengan Titan dan Enceladus yang merupakan seorang Iblis. Pertemuan itu membuat Blasto rela menjadi Iblis karena memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa.


Bahkan Blasto dapat membalaskan dendamnya. Namun setelah tertuntaskan dendamnya, ia menjadi kejaran Hera dan pasukan sihirnya. Saat itu Titan dan Enceladus kembali menyelamatkannya dan memberikan syarat agar Blasto dapat masuk kedalam Kerajaan Silica dan hidup sebagai seorang Iblis yang menindas manusia.


Syarat itu berkaitan dengan Hera. Blasto tidaklah sendirian, ia memiliki rekan yakni Baretto, Harder dan Relax. Awalnya semua berjalan lancar karena Titan dan Enceladus memiliki mata-mata, namun ia tidak menyangka akan berhadapan dengan sosok anak remaja seperti Leo.


”Titan... Enceladus... Jadi mereka berdua bawahannya Raja Iblis Gdanks...” Leo bergumam sambil menciptakan pedang dari aura sihirnya.


”Informasi yang berguna. Jadi sekarang matilah.”


Saat Leo mengayunkan pedangnya, ia merasakan aura sihir milik Saturn dan dua aura sihir yang terasa kuat lainnya.


Leo pun memotong kepala Blasto dengan sangat cepat sebelum tubuhnya terjatuh kebelakang dan pura-pura pingsan.


Saat Saturn datang bersama seorang pria dan wanita, Saturn terkejut melihat kepala Blasto terpisah dari badannya. Selain itu disana terbaring enam peserta yang tak sadarkan diri.


Saturn langsung memeriksa Leo dan tersenyum karena mengetahui Leo pura-pura pingsan. Dengan senyuman nakalnya, Saturn mengeluarkan jarum suntik dan menyuntik tangan Leo. Itu adalah jarum suntik yang mengandung obat tidur.


’Saturn sialan! Apa yang kau lakukan?!’ Leo mengumpat dalam hati sebelum ia merasa ngantuk dan benar-benar tertidur.


”Saturn-Sensei, sepertinya peliharaanku Cathy berhasil menangkap salah satu Iblis yang menyusup,” ujar seorang wanita berumur dua puluh lima tahunan itu sambil mendekati Baretto. Ia adalah seorang Guru di Akademi Carta dan bernama Sylis.


”Kita akan interogasi dia. Sepertinya mereka adalah Iblis yang belum sempurna.” Saturn mengamati Baretto dan memeriksa denyut nadinya.


Sedangkan pria yang memakai kacamata dan berambut hitam rapi menjentikkan jarinya dengan sangat pelan.


”Maximilian-Sensei, apa hanya mereka berdua yang menyusup?” tanya Saturn.


”Aku dan Allegra-Sensei hanya memastikan dua keberadaan penyusup. Kemungkinan hanya mereka namun juga tidak menutup kemungkinan masih ada yang lainnya,” jawab pria bernama Maximilian.


”Baiklah, aku akan menjadi mereka kelinci-”


DUUUAAARRR!!!


Tiba-tiba tubuh Baretto meledak sebelum Saturn memeriksa tubuhnya lebih jauh.


”Eh?” Saturn merasa ada kejanggalan saat tubuhnya terkena cipratan hujan darah.


”Saturn-Sensei, ini...” Sylis menatap tajam darah Baretto.


”Sepertinya musuh sangat waspada...” ucap Maximilian.


Setelah itu ujian bertahan hidup dinyatakan selesai dan tidak ada satupun peserta pun yang lolos. Namun melihat perjuangan Leo, Karen, Eva, Lopez, Maya dan Kudela membuat Kepala Sekolah Akademi Carta yakni Hera Godsky memberikan keringanan pada mereka berenam.


Syarat terakhir agar mereka dapat lolos ujian masuk Akademi Carta yaitu dengan membasmi Hewan Buas Sihir yang akhir-akhir ini mengamuk disekitar permukiman penduduk Kerajaan Soul.


Tugas itu pun dapat mereka berenam laksanakan dan akhirnya enam siswa baru yang masuk melewati jalur ujian masuk Akademi Sihir Carta dinyatakan lolos.