Leo Avalon

Leo Avalon
L A 6 - Tragis Ironis



L A 6 - Tragis Ironis


Kediaman Laxus Shard tidak jauh dari markas Guild Shardpterans. Bangunan megah yang ditempati Ketua Guild Shardpterans ini menyambut kedatangan Leo dan Eugene dengan sajian yang lezat dan mahal.


Eugene terlihat segan dengan semua hidangan yang disajikan sedangkan Leo mulai menyantap hidangan setelah Laxus menawarkan dan mengecek kondisi makanan.


Selesai makan, Laxus menanyakan tujuan Eugene dan Leo yang berniat datang ke Kota Shardptera. Berbeda dengan Eugene yang ingin menuju Ibukota Floral dan bergabung menjadi pasukan sihir, Leo mengatakan kepada Laxus jika dirinya ingin menjadi bagian dari Guild Shardpterans.


Mengetahui hal ini Laxus tertawa gembira dan mendukung jalan yang keduanya ambil. Lalu Laxus meminta pelayan mengeluarkan minuman anggur dan meminumnya dihadapan Leo dan Eugene.


“Saat kalian sudah dewasa dan mendapatkan gaji pertama kalian, kalian bisa menikmati minuman ini,” ujar Laxus.


“Leo, apa kau tertarik mengikuti ujian sebagai anggota guild ku?” Laxus menawarkan kepada Leo jika tangan kanannya yang bernama Evan akan menjelaskan lebih rinci.


“Jika kau tertarik, aku bisa meminta pelayan mengantarmu ke Guild Shardpterans. Bagaimana apa kau tertarik mengikuti ujiannya malam ini?” jelas Laxus.


Leo mengambil minuman putih yang disajikan untuk Eugene dan meneguknya. Leo mengetahui minuman itu telah diberi racun, walaupun makanan yang disajikan aman.


“Apa kau haus Leo?” Eugene tertawa pelan sedangkan Laxus menatap Leo tajam karena anak muda itu belum terpengaruh racun yang disajikan dalam minuman.


“Ya, aku sangat haus,” jawab Leo singkat.


“Paman Laxus, terimakasih. Tetapi bukankah lebih bagus jika malam ini istirahat sejenak,” ucap Leo.


“Ya, itulah alasanku menawarkan tempat bermalam. Tetapi dimataku kau terlihat tidak menyukai keramaian dan kerumunan. Makanya aku memberikan perlakuan khusus terhadapmu, Leo,” ujar Laxus.


Leo berpikir sejenak dan dia ingin mendapatkan informasi secepatnya dari Guild Shardpterans.


“Baiklah, terimakasih Paman Laxus. Aku pasti akan membalas kebaikanmu ini,” kata Leo.


“Hahaha... Aku suka pemuda sepertimu Leo. Matamu sangat tajam dan bersinar.” Laxus menepuk pundak Leo lalu memanggil pelayan.


“Pelayan, antarkan anak ini ke Guild Shardpterans!”


Tak lama pelayan datang dan menatap rendah Leo sebelum mengantar Leo menuju Guild Shardpterans. Sedangkan Eugene dan Laxus mengobrol panjang lebar sebelum satu jam setelah kepergian Leo, kegaduhan terjadi di kediaman Laxus.


“Laxus! Laxus! Dimana kau?!”


Laxus yang sedang mengobrol dengan Eugene segera menuju luar kediaman dan menyuruh Eugene tetap diam. Nampak disana ada pria berambut perak yang lebih tua darinya datang dengan ekspresi kemarahan.


Laxus yang melihatnya menelan ludah dan membatin, ‘Apa Kakak sudah mengetahui jika aku adalah dalang dibalik menghilangnya para pemuda tampan!’


“Ada apa Kakak Amaro?” tanya Laxus.


“Apa yang kau lakukan kepada Miranda?! Kau pernah mengatakan padaku jika kau tertarik dengannya! Jadi setelah aku memperistri Miranda, aku rasa kau melakukan hal bodoh dibelakangku!” Tiba-tiba Amaro menyerang Laxus menggunakan pukulan petir yang mematikan.


Beruntung Laxus cekatan jika tidak perutnya sudah berlubang. Laxus terkapar di tanah dan memegang perutnya yang kesakitan.


‘Sialan! Siapa yang tertarik dengan perempuan! Aku... Aku hanya tertarik pada pemuda tampan!’ Laxus membatin.


‘Kenapa Kakak Amaro bisa semarah ini? Apa yang telah terjadi pada Miranda?” batin Laxus.


“Apa lagi yang perlu dijelaskan?!” teriak Amaro.


“Tunggu, Paman Amaro!” suara seorang pemuda menggema dan tak lama muncul pemuda dua puluhan tahun yang tampan datang membawa wanita berumur tiga puluhan tahun bernama Miranda.


“Paman Amaro tahan amarahmu. Bukan Paman Laxus yang melakukannya.” Pemuda bernama Carlos Floral itu menjelaskan kepada Amaro mengenai apa yang menimpa Miranda.


“Paman Amaro, aku tidak sengaja melihat Bibi Miranda sedang diancam oleh pemuda desa. Bibi Miranda adalah korban dan pelakunya adalah pemuda desa. Jadi aku menyelamatkannya dan kita bertemu, namun kau kemari sebelum aku selesai menjelaskannya.” Kedatangan sosok anak dari Raja Floral ini membuat amarah Amaro mereda.


Laxus berkeringat dingin melihat Carlos. Terlebih saat pemuda itu menghampirinya dan tersenyum dingin.


“Paman Laxus, sekarang Bibi Miranda akan menjadi milikku. Aku melihat kau menyelamatkan dua pemuda desa yang akan menjadi partner ranjangmu bukan? Kau sangat aneh sebagai seorang manusia. Beruntung aku mengetahui rahasiamu, jika tidak aku tidak bisa membuat skenario ini.” Carlos memegang pundak Laxus dan mengancam pria tersebut.


“Sudah lama aku tertarik pada Bibi Miranda dan kedatanganku ke Shardptera karena ingin merasakannya. Aku datang bersama Dearator dan Cosme, kau tidak dapat berbuat banyak untuk mengancamku Paman!” Carlos mencengkeram lengan Laxus semakin erat sebelum tersenyum ke arah Amaro.


“Paman Laxus sudah menangkap pelakunya. Bahkan dia sudah menghancurkan tenggorokan pelaku tersebut dan mematahkan kedua tangannya,” ucap Carlos.


Laxus yang mendengarnya terkejut, sedangkan Amaro tersenyum bangga.


“Bagus, sekarang bawa dia kemari Laxus!” perintah Amaro dan segera Laxus menuju kediaman.


Sesampainya didalam Laxus melihat Eugene sedang duduk. Pemuda itu langsung tersenyum kearahnya setelah kedatangan dirinya.


“Paman-” Namun sebelum Eugene berbicara lebih banyak, Laxus menyerang leher Eugene dan menghancurkan pita suaranya.


“Maafkan anak muda dan jangan dendam terhadapku.” Kemudian Laxus mematahkan kedua tangan Eugene.


Eugene tidak dapat berteriak dan hanya meronta tidak jelas. Lalu dengan segala amarahnya Laxus memegang leher Eugene dan melempar tubuhnya keluar kediaman sekuat tenaga.


Amaro dan Carlos menatap kondisi tubuh Eugene yang mengerikan, sedangkan Miranda menjerit ketakutan saat melihat kondisi Eugene.


“Miranda, apa benar bocah ini yang memaksamu?” Amaro bertanya.


Miranda menatap Eugene dengan wajah ketakutan dan bersalah, namun saat tatapan matanya bertemu dengan Carlos. Seketika Miranda menjadi semakin ketakutan dan mengetahui apa yang Carlos inginkan darinya.


“Iya... Iya, Suamiku...”


Mendengar jawaban Miranda, seketika Carlos berubah menjadi marah.


“Paman Amaro, sebaiknya pemuda desa kita eksekusi publik karena telah berani menentangmu. Bukankah ini cara yang paling efektif di Kerajaan Floral tercinta ini?” Carlos mengusulkan.


Amaro pun setuju dan menyuruh bawahannya untuk menyiapkan eksekusi publik pusat kota. Carlos tersenyum dalam hatinya sedangkan Laxus tidak dapat berbuat banyak karena aibnya diketahui Carlos.


Malam itu di pusat kota kobaran api menyala membakar setengah badan Eugene dan membuat sang pemuda tewas dengan kedua tangan yang tertancap tombak dan pedang.


Akhir yang tragis dari seorang pemuda desa yang berniat mencari peruntungan di Ibukota Floral dan mengubah nasib, namun justru berakhir ditangan kekejian bangsawan.