
L A 17 - Mercurius dan Venus
Charlotte dan Nereid mencari keberadaan Leo. Keduanya tidak menyangka Leo akan meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Leo...” gumam Charlotte.
“Apa kita hanya akan menjadi bebannya saja? Kenapa dia tidak bisa percaya diriku ini?” ucap Charlotte.
Nereid mengetahui niat kepergian Leo karena Leo memberitahu dirinya. Melihat Charlotte yang terlihat membuat Nereid mengalihkan pembicaraan dan meminta Charlotte untuk bertindak sesuai dengan rencananya sendiri.
‘Leo memintaku untuk melakukan ini dan aku ingin memastikan jika kau dapat menjawab semua harapanku, sialan!’ Nereid membatin dan mengingat perintah Leo kepadanya.
Charlotte memahami perkataan Nereid dan mulai memfokuskan dirinya untuk melanjutkan rencana mengkudeta Raja Marcus Floral.
“Aku akan melakukan hal sesuai keinginan tanpa mengganggumu Leo...” ujar Charlotte sebelum meninggalkan tempat persembunyian.
Sedangkan disuatu tempat yang ada di Ibukota Floral terlihat Leo sedang mengamati pasukan sihir yang berkumpul di satu tempat. Leo kemari karena dia mendapatkan informasi dari beberapa orang dalam perjalanan menuju tempat persembunyian Neptune.
‘Lokasi mereka telah kutemukan. Aku rasa mereka menyembunyikan gulungan sihir peledak digudang yang ada disebelah sana.’ Leo membatin dan menajamkan indera penglihatannya.
Saat Leo hendak masuk kedalam kerumunan pasukan sihir ia dikejutkan dengan aura sihir yang sangat pekat dari langit. Leo merasa dua aura sihir dalam jumlah besar yang terjun dengan kecepatan tinggi.
Apa yang Leo lihat adalah seorang wanita sedang menunggangi burung elang yang berapi-api. Kemungkinan besar burung elang api tersebut terbentuk dari aura sihir. Tak berada jauh dari wanita itu nampak seorang pria yang sedang terjun kebawah mengarah kerumunan pasukan sihir.
Leo yang berniat untuk mendekati kerumunan pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengamati. Dia melihat beberapa pasukan sihir menyadari keberadaan dua orang tersebut dan langsung mengarahkan senjata mereka yakni busur keatas.
“Penyusup! Penyusup!” teriak salah satu prajurit.
“Angkat senjata kalian! Sepertinya mereka berdua anggota Neptune!” teriak yang lainnya.
Sekitar dua puluhan orang mengangkat senjata mereka dan menyerang pria yang terjun kebawah. Saat panah api mereka terbang melesat keatas, pria itu berteriak dan seketika gelombang suara yang membuat gendang telinga serasa akan pecah menggema.
Panah-panah pun berjatuhan dan pria itu turun dengan heboh menghancurkan bangunan di bawah. Seringai lebar terlihat diwajah pria tersebut saat menyadari dirinya dikepung.
“Berniat menangkap dalang yang mengendalikan Neptune dengan membunuh penduduk desa. Kalian pikir kami akan membiarkannya?! Seorang penguasa harus melindungi rakyatnya bukan menyingkirkannya!” Pria tersebut mengeluarkan aura sihir dalam jumlah besar setelah berkata demikian.
Kemudian pria itu memukul tanah dan apa yang terjadi membuat Leo terkejut. Bangunan yang menyimpan gulungan sihir peledak hancur begitu juga dengan lokasi disekitar pria tersebut.
BOOOMMM!!!
Ledakan menggema dengan keras dan semua yang ada disekitar Leo hancur. Kemampuan pria tersebut bukan main-main dan tidak bercanda dalam hal menghancurkan.
“Cih! Dia benar-benar gila!” umpat Leo dan berhasil menghindar.
Leo berpikir jika pria itu seperti ingin bunuh diri dan setidaknya akan terluka parah karena kebodohannya sendiri, namun apa yang Leo temukan adalah hal yang tidak terduga.
Pria itu masih berdiri tegak dengan seringai lebar seolah tidak terjadi apapun. Saat Leo mengamatinya, tiba-tiba pandangan pria itu menatap ke arah dirnya.
Leo merasakan firasat buruk dan belum sempat dia memikirkan tindakannya, pria itu tersenyum lebar dan langsung terbang menuju dirinya dengan kecepatan tinggi.
Terlebih pria itu dapat memanipulasi dan menggunakan aura sihir dengan sangat baik hingga dapat terbang dan mengeraskan tubuhnya.
“Rupanya masih ada orang yang hidup!” Pria itu memusatkan aura sihir pada tangan kanannya lalu menatap Leo tajam.
“Kau...” Pria itu terkejut karena ternyata orang yang dia rasakan hawa keberadaannya adalah seorang bocah, “Rupanya kau seorang bocah. Lalu kemampuanmu itu... Kau siapa?”
Pria itu tidak melanjutkan aksinya dan menatap Leo waspada. Leo tidak menjawab melainkan diam karena dia merasa tidak perlu untuk menjawab pertanyaan pria tersebut.
“Sepertinya kau tidak beruntung. Siapapun orang yang melihat kejadian ini harus dibunuh agar tidak membuat masalah dikemudian hari.” Setelah berkata demikian pria itu menyerang Leo.
Leo yang sudah dalam wujud setengah Phoenix juga menggunakan teknik sihir pengerasan tubuh milik Xeon. Namun saat menangkis pukulan pria itu, Leo merasakan tulang tangan kanannya mengalami keretakan bahkan kecepatan pergerakan pria tersebut tidak mampu Leo imbangi.
Mata Leo melebar saat menyadari pertarungan ini tidak menguntungkan untuk dirinya. Leo menyadari semua ini karena dia tidak dapat menyalin teknik yang digunakan pria tersebut dan itu sudah membuktikan jika pria itu memiliki kemampuan jauh diatas dirinya.
“Namaku Mercurius Flamesky, bocah! Setidaknya kau mengingat nama orang yang akan membunuhmu!” Pria itu memperkenalkan dirinya ditengah pertarungan sambil menghujami tubuh Leo dengan pukulan.
Leo mengeluarkan aura sihir yang jauh lebih besar dari sebelumnya dan itu membuat pria yang dipanggil Mercurius itu tersenyum.
“Mercurius! Hentikan tindakan gilamu ini!” Wanita yang mengendarai elang api itu menegur keras Mercurius.
“Bocah ini sepertinya bukan orang yang terlibat dengan pasukan sihir Kerajaan Floral!” Wanita itu berpendapat.
Mercurius berhenti menyerang dan berkata, “Aku mengerti, Albedo. Tergantung jawabannya aku tidak membunuhnya.”
Wanita itu mendekati Leo dan menanyakan identitas Leo. Hal ini membuat Leo memiliki dua pilihan, memberitahu identitasnya yang sebenarnya atau menunjukkan dirinya sebagai dalang yang mengendalikan Neptune.
“Bocah, namaku adalah Venus Albedo. Aku datang baik-baik untuk bertanya. Aku sarankan kau menjawab dengan jujur jika tidak aku akan membunuhmu.” Dengan suara lembutnya yang justru terdengar menakutkan, wanita yang dipanggil Venus itu berkata.
Leo mengeluarkan topeng iblis pemberian Charlotte dan memakainya.
“Kalian bisa memanggilku Ghost ataupun Neptune. Aku adalah orang dibalik kehancuran Shardptera dan aku memiliki nama asli Leo. Hanya Leo.”
Seketika Mercurius dan Venus terdiam. Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Mercurius tersenyum dan mengusap rambut Leo.
“Oke, mulai sekarang aku akan memanggilmu Neptune,” ucap Mercurius.
“Mercurius... Kau...” Venus menatap Mercurius tajam. Wanita berambut putih ini merasakan firasat yang tidak enak.
“Jadi Leo mulai sekarang kau adalah anggota Galaxy. Bukan, maksudku kau mempunyai dua pilihan. Bergabung dengan Galaxy atau mati disini.” Usapan Mercurius di kepala Leo berhenti.
“Haaah?!” Venus tidak percaya dengan ucapan Mercurius.
“Jadi bagaimana Neptune?” tanya Mercurius.
Seketika Leo merasakan tubuhnya sangat berat saat usapan tangan Mercurius berhenti.