
L A 30 - Perubahan Charlotte
Mendengar hal tersebut Leo hanya tersenyum. Lalu Leo mengingatkan kepada Mercurius, Venus dan Saturn jika sekarang mereka memiliki En sebagai rekannya.
“Apa kalian melupakan kadal hitam ini?” ucap Leo.
En melebarkan matanya, “Kadal... Hitam?”
Sementara itu Venus dan Mercurius menghela nafas karena tidak menyangka akan menemukan banyak kejadian menarik semenjak pertemuannya dengan Leo.
“Hei, Leo, kau terlalu kasar kepada peliharaanmu. Memang dia mengecil tetapi hewan ini tetaplah seekor Naga!” ujar Saturn mengingatkan.
Leo melirik En yang berada di pundaknya karena memang sekarang En seukuran dengan seekor elang.
“Apa kau marah saat aku memanggilmu kadal hitam?” tanya Leo.
“Tuan Avalon! Tentu saja aku sangat marah karena aku ini adalah penguasa langit yang jauh diatas ketiga hewan bodoh itu!” En mengeluarkan api merah dari hidungnya setelah berkata demikian.
“Tetapi untuk Tuan Avalon itu adalah pengecualian.” En menegaskan.
“Lihat, Saturn, dia begitu mematuhiku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kemudian Leo mengajak ketiganya bergegas menuju tempat keberadaan Charlotte.
Kondisi Ibukota Floral yang porak-poranda ini memancing berbagai publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya keluarga bangsawan yang tersisa hanyalah keluarga Rochefort. Sementara itu tanpa Leo, Mercurius, Venus dan Saturn ketahui, ada beberapa orang yang datang menuju Ibukota Floral setelah melakukan pembantaian terhadap penduduk desa.
Saat ini Charlotte berhadapan dengan sekitar seribu pasukan sihir dari Kota Rocheforst yang beraliansi dengan Guild Rocheforst. Disana ada beberapa orang kuat yang Charlotte kenal namun dia tidak menemukan keberadaan Clara dan Lyon.
“Kemana dua orang itu?! Bukankah kalian berjanji akan menjadi prajurit terkuatku suatu hari nanti?!” Charlotte memegang pedangnya lebih erat sebelum mengalirkan aura sihir berjumlah besar.
Seolah menerima perasaan Charlotte yang bergejolak, Pedang Blue Rose memancarkan cahaya berwarna biru muda sebelum membekukan daratan dihadapan Charlotte beserta seribu pasukan sihir yang membeku.
“Tuan Putri! Apa kau melupakan keberadaan kami?! Kepala keluarga Rochefort sudah mati dan sekarang aku yang menguasai semuanya termasuk tahta kerajaan!” ujar pria berambut biru yang bernama Horacio Rochefort.
Charlotte tersenyum kecil, “Aku sama sekali tidak mengenalmu. Lihat kekacauan yang telah kalian buat dan mengorbankan banyak penduduk. Aku akan menebus semuanya.”
Charlotte kemudian mengayunkan pedangnya seketika sekitar lima ratus lebih pasukan sihir mati ditangannya. Charlotte dengan tatapan yang sedih bercampur dingin itu menatap pasukan sihir yang tersisa.
Mereka yang tersisa memiliki kemampuan dair cairan sihir Crazy dan dapat bertahan dari dinginnya es yang membekukan tubuh mereka. Charlotte kembali menggunakan kemampuannya yang lain, kali ini permainan pedangnya menajam dan membekukan siapa saja yang berada di jangkauannya.
Saat Charlotte hendak mengincar Horacio, dari arah belakang. Kilatan petir terlihat bersama dengan kobaran api, Charlotte sangat mengenal aura sihir ini.
“Lyon... Clara...” Mata Charlotte melebar.
“Tuan Putri Lotte! Maafkan kami!” teriak Lyon.
Mendengar itu Charlotte menggelengkan kepalanya, “Si bodoh itu!”
Hingga akhirnya sebuah kabut memenuhi area pertempuran dan Charlotte mengetahui aura sihir ini adalah milik Nereid. Bantuan Nereid membuat Charlotte dapat membunuh lebih banyak pasukan sihir dengan cepat bahkan sebelum Leo dan yang lainnya datang.
Charlotte hanya menyisakan Horacio yang sudah kalah telak melawan dirinya.
“Horacio, kau akan kubunuh!” Charlotte hendak membunuh Horacio namun tiba-tiba tangannya dihentikan oleh Leo yang baru saja datang.
“Hentikan Charlotte. Dia masih berguna dan belum saatnya bagi dia mati.” Leo berkata kepada Charlotte sebelum dia mengatakan sesuatu hal kepada gadis itu.
Mata Charlotte melebar dan langsung menatap Leo dingin.
“Apa maksudmu Leo?!” Charlotte menarik kerah baju Leo dan mencengkeramnya.
“Tenang, tenang, Tuan Putri Floral. Dilihat dari situasi saat ini Kerajaan Floral akan kehilangan sosok penguasa dan negeri ini butuh orang yang mampu membuat penduduknya bersatu. Dan orang itu adalah dirimu.” Saturn menjelaskan dan memang itu adalah tujuan awal Galaxy.
Charlotte melepas cengkeraman pada kerah baju Leo dan menatap anak remaja itu dingin.
“Leo, kenapa kau selalu melakukan hal sesuka hatimu? Setidaknya bicarakan dulu denganku.” Tatapan mata Charlotte memancarkan sejuta kekecewaan.
Leo terlihat tidak peduli dari luar namun yang sebenarnya dia begitu kepada Charlotte dan berharap gadis itu dapat menemukan dirinya.
“Lalu apa yang akan kita lakukan kepada orang ini?” tanya Charlotte kepada Leo.
“Dia akan kubuat mengakui semua perbuatannya dan membongkar semua kebusukan Marcus Floral sebelum kita eksekusi didepan publik.” Leo mendekati Horacio dan menatapnya begitu dingin.
Tangan Leo menjambak Horacio dan menggunakan Teknik Sihir Ilusi kepada Horacio.
“Ilusi Kematian...” Leo berkata pelan lalu membisikkan sesuatu kepada Horacio.
“Jangan mati sebelum waktunya. Jadilah tumbal yang berharga untuk Ratu Floral dimasa depan...” Mendengar itu Horacio hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian Leo menatao Clara dan Lyon yang terlihat menjaga jarak.
“Lalu mereka berdua kita apakan?” Leo menatap Charlotte dan menanyakan hal ini.
Charlotte menatap Clara dan Lyon secara bergantian sebelum dia berjalan mendekati keduanya.
“Tuan Putri!” Nereid berusaha mencegah namun Charlotte mengangkat tangannya untuk berhenti.
“Tenang saja, Nereid. Jika mereka berniat melakukan sesuatu, aku akan membunuh mereka.” Charlotte berkata nada yang dingin.
“Bukankah ada hal yang harus kita bicarakan Lyon, Clara?”
Charlotte mengizinkan kedua orang tersebut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka memilih membunuh Jadon dan membubarkan Neptune.