Leo Avalon

Leo Avalon
L A 41 - Peran Yang Sadis



L A 41 - Peran Yang Sadis


Suara raungan menggema disana dan terlihat Earth begitu syok melihat satu demi satu orang yang dia kenal kehilangan akal sehat. Berbeda dengan Zeketaryan dan Mars yang hendak membunuh para penduduk, Earth langsung memberikan perintah pada mereka agar tidak membunuh penduduk.


“Jangan membunuh mereka! Ini perintah!” teriak Earth.


Mendengar itu Reptile tertawa mengejek, “Hei, hei! Apa kau gila?! Mereka semua itu sudah bukan lagi manusia bodoh! Satu-satunya cara untuk mengembalikan mereka itu hanya dengan membunuh Tuan Chiesa dan aku rasa kalian tidak akan sanggup melakukannya!”


“Sial!” Mars menahan amukan para penduduk begitu juga dengan Zeketaryan.


Sedangkan Earth berusaha menyerang Reptile namun jarak mereka semakin menjauh dan Earth disibukkan oleh amukan para penduduk yang kehilangan akal sehat. Perubahan menjadi Malaikat kebanyakan dari mereka tidak sempurna dan berakhir cacat, namun kekuatan yang mereka miliki sangat dahsyat.


“Earth! Jika kita tidak serius kita akan mati!” ujar Mars mengingatkan.


“Aku mengerti!” Earth menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.


Sementara itu Leo sudah menciptakan sebuah pedang dari aura sihir dan menatap beberapa penduduk yang mengarah padanya.


“Paman...” Leo melihat pemilik kedai makan terbang menuju kearahnya dan terlihat perubahannya sebagai sosok Malaikat membuatnya kehilangan akal sehat.


Reptile yang melihat itu tersenyum lebar, “Sepertinya ada beberapa orang yang beruntung! Beberapa jam lagi mereka akan sadar dan dapat dikendalikan dengan mudah sebagai bawahan!”


Mendengar itu Leo menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu saat beberapa penduduk menyerangnya, Leo melompat keatas dan langsung melepaskan kemampuan Phoenix nya.


‘Apa benar kalian telah kehilangan akal sehat?’ Leo membatin dan memperhatikan orang-orang yang menyerangnya.


“Leo! Jangan bunuh mereka!” Saat Leo hendak mengayunkan pedangnya, tiba-tiba Earth berteriak.


Leo menahan ayunan tebasan pedangnya dan berakibat fatal karena pemilik kedai makan melepaskan serangan telak pada perutnya. Perut Leo berlubang dan jika bukan karena kemampuan Phoenix, sudah dipastikan Leo mati ditempat.


Leo terkepung dan meringis kesakitan, “Sial! Aku lengah!”


“Earth, maafkan aku. Aku tidak bisa mengikuti perintahmu.” Tiba-tiba Leo mengatakan itu kepada Earth.


Beberapa saat kemudian Earth, Zeketaryan, Mars dan Nggere melihat bagaimana Leo membantai semua penduduk yang berubah menjadi Malaikat tanpa ada yang tersisa.


Anak remaja itu benar-benar melakukan tindakan sadis yang membuat mereka yang melihatnya bergidik ngeri. Namun di tengah guyuran hujan darah dari setiap orang yang dia bunuh, Leo menunjukkan sorot mata yang dingin dan menggelap.


Melihat ini Earth merasakan tubuhnya mendadak lemas. Pria itu merasa gagal sebagai seorang pemimpin karena membiarkan Leo mengambil peran sebagai pembunuh keji.


Bahkan Mars menggigit bibir bawahnya karena menyadari tindakan bodohnya yang terlalu mengkhawatirkan perasaan Earth.


“Leo, sisanya serahkan padaku!” Mars langsung bergerak menyerang Reptile yang terlihat menikmati pertunjukan itu.


“Yang benar saja bocah itu membunuh semuanya? Sepertinya bocah itu lebih berguna dibandingkan kalian semua! Tuan Chiesa akan senang mendengar ini!” Reptile tertawa cekikikan sebelum menyambut pukulan Mars.


“Tenanglah sedikit! Aku mengetahui informasi penting dari kalian! Rumor mengatakan kalian memiliki kemampuan yang setara dengan Raja Iblis Agung bukan? Rumor itu tidak sepenuhnya benar karena hanya ada satu atau dua orang saja yang benar-benar mendekati sosok Raja Iblis Agung, sisanya hanyalah pecundang seperti Raja Soul itu dan dirimu!” Reptile menahan setiap serangan Mars dan langsung mengeluarkan ular putih menggunakan sihir pemanggilan.


Mars tersenyum, “Jangan menilai seseorang dari sampulnya keparat!”


Saat Reptile tersenyum meremehkan, tiba-tiba tubuh Mars terbakar api hingga seluruh badannya terbakar dan pergerakan Mars juga semakin cepat.


Dengan mudah Mars menciptakan badai api atau gelombang api hanya menggunakan ayunan tangannya.


“Sepertinya hanya ada satu beban di Galaxy. Aku tarik ucapanku.” Reptile mengatakan itu untuk mengejek Earth.


“Berhenti mengoceh atau kau akan mati!” ujar Mars.


“Cobalah untuk membunuhku! Itupun jika kau mampu melakukannya!” Reptile membalas.


Setelah itu Mars melepaskan segenap kemampuannya dan menyerang Reptile. Pertukaran serangan pun terjadi di udara dimana Reptile terbang sambil terus melakukan sihir pemanggilan sedangkan Mars mencoba mempersingkat jarak dengan membunuh ular yang dipanggil Reptile.