
L A 56 - Seleksi II
Beberapa hari ini Leo dapat bertahan melewati ujian dan sama sekali tidak merasakan gangguan yang berarti. Dengan kemampuan Leo tentu saja ia dapat melewati semua ini dengan mudah, namun yang Leo cari yakni penguasa hutan sihir belum menunjukkan dirinya sama sekali.
Hingga pada suatu hari Leo tidak sengaja dengan rombongan para peserta. Kebanyakan dari peserta melarikan diri dan menyerah, namun beberapa dari mereka bertahan menghadapi kerasnya bertahan hidup di hutan sihir.
Gerombolan singa bertanduk merah yang dapat mengeluarkan api itu membuat banyak peserta kewalahan. Seperti tidak ada habisnya, gerombolan singa bertanduk merah terus berdatangan hingga membuat Leo ikut bertindak saat melihat empat peserta bertahan disana, sedangkan yang lain terluka.
”Eva! Kau fokus saja menyembuhkan mereka! Sisanya serahkan pada kami!” ujar anak remaja yang tidak lain adalah Lopez.
”Lopez! Apa mereka semua kemari karena ingin melihat betapa tampannya diriku?” sahut anak remaja lainnya yang berdiri disamping Lopez.
”Berisik bodoh! Dela, sekarang bukan waktunya bercanda! Inilah mengapa aku malas membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu! Aku ingin hidup santai! Aku tidak ingin mati!” ucap Lopez dengan ekspresi begitu kesal.
Saat kedua remaja itu menghalau gerombolan singa bertanduk merah, Leo datang membantu. Namun Leo tidak menunjukkan kemampuannya melainkan membantu sebisa mungkin.
”Kau? Jadi kau rupanya bala bantuan yang kutunggu! Baiklah Peko, sekarang kau fokus menahan mereka dan aku akan melarikan diri!” ujar anak remaja bernama Kudela.
”Dela, sialan! Kubunuh kau!” teriak Lopez.
”Bukan Dela, namaku Kudela! Ingat itu Lopez-”
”Bodoh! Kenapa kau melarikan diri!”
Tiba-tiba tubuh Kudela diterjang gadis muda dan membuatnya terkapar.
”Maya! Tendangan yang bagus! Jika perlu kau injak kepalanya agar dia tidak bertingkah aneh!” ucap Lopez.
Lalu Lopez bersama dengan Leo menghalau gerombolan singa bertanduk merah. Keduanya terlihat kesusahan menahan serangan singa bertanduk merah, walaupun yang sebenarnya Leo bersikap pura-pura karena tidak ingin mereka mengetahui kemampuannya.
”Mereka tidak ada habisnya... Apa kau baik-baik saja, kawan?” tanya Lopez sambil mengibaskan pedangnya.
Leo mengangguk pelan, ”Aku baik-baik saja. Tetapi jika terus seperti ini maka kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sebaiknya kalian melarikan diri, aku akan menghadang mereka.”
”Kau...” Lopez menatap Leo lama dan menyarungkan pedangnya berniat melarikan diri.
Namun Eva yang melihat ini langsung menatap Leo sangat tajam.
”Kau hendak kemana Lopez?!”
”Tenagaku mau habis! Lagian dia meminta kita untuk melarikan diri. Jangan sia-siakan pengorbanannya.”
Ucapan Lopez membuat Eva menerjang badan Lopez dengan tendangan.
”Berhenti merengek! Bertarunglah seolah-olah kau akan mati jika kalah!” ujar Eva.
Kudela dan anak remaja perempuan bernama Maya membantu Leo yang menghalau gerombolan singa bertanduk merah sendirian.
”Lopez, seorang lelaki harus berjuang hingga titik darah penghabisan,” ucap Kudela.
Lopez membuang ludah dan mengerutkan keningnya.
”Aku tidak ingin mendengar itu darimu,” ujarnya.
Sementara itu Maya memanipulasi aura sihirnya dengan membentuk sepuluh pedang petir yang berterbangan diudara dan menyerang gerombolan singa bertanduk merah.
Kudela yang melihat pergerakan singa bertanduk merah sangat lincah langsung menyentuh tanah menggunakan kedua telapak tangannya. Lalu Kudela mengalirkan aura sihir ke dalam tanah hingga terbentuk dua golem tanah yang menyerang singa bertanduk merah.
Leo yang memperhatikan teknik Kudela memberikan saran.
”Apa kau bisa menghentikan pergerakan mereka menggunakan kekuatannmu? Jika bisa itu akan lebih mudah bagi kita untuk bekerjasama mengalahkan mereka.” Perkataan Leo membuat Kudela tersadar.
”Ini... Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Tentu saja aku bisa.”
Lopez yang mendengar ucapan Kudela menghela nafas.
”Kau menyia-nyiakan bakatmu.”
Kemudian dengan Kudela yang menghentikan pergerakan gerombolan singa bertanduk merah, Leo, Maya dan Lopez menyerang gerombolan singa bertanduk merah dengan serangan beruntun.
Namun seolah tidak ada habisnya gerombolan singa bertanduk merah masih banyak yang tersisa dan amukan mereka semakin parah.
”Sial! Mereka tidak ada habisnya!” umpat Lopez.
”Padahal tinggal dua hari lagi.” Lopez menambahkan.
”Kita harus bertahan, Lopez. Mereka benar-benar menghancurkan dua prajurit tanahku...” Kudela mengepalkan tangannya erat saat melihat dua golem yang ia buat hancur.
”Cih! Sepertinya sampai disini...” umpat Maya.
Sedangkan Leo memejamkan matanya saat merasakan hawa keberadaan seseorang mendekat. Matanya perlahan terbuka saat seseorang itu melompat di udara dan memainkan pedangnya dengan indah.
Daun-daun sakura berjatuhan saat sosok itu memainkan pedangnya dengan gemulai. Daun-daun sakura itu perlahan terbakar dan membakar tubuh gerombolan singa bertanduk merah.
Dengan gerakan yang lincah, sosok gadis itu membunuh gerombolan singa bertanduk merah hanya dalam hitungan detik.
Hal ini membuat Lopez, Kudela, Maya dan Eva berdecak kagum, namun lain halnya dengan Leo yang bersikap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
‘Gadis ini memiliki kemampuan yang lumayan...’ batin Leo saat melihat gadis itu selesai membunuh semua gerombolan singa bertanduk merah.