
L A 63 - Rhiannon
Ruang pertemuan tidak dihadiri oleh Leo dan hanya Jinan yang mewakili kelas satu. Lechia menggelengkan kepalanya karena Leo malah menyerahkan semuanya kepada Jinan dan pergi.
”Dia orang yang aneh. Kau terlihat akrab dengannya, Jinan,” ucap Lechia.
”Akrab? Aku sama sekali tidak akrab dengan siapapun kecuali Kakak Lechia dan Adik Lea.” Jinan menjawab.
”Tetapi aku baru pertama kali melihatmu bicara panjang lebar dengan orang asing.”
Jinan tidak dapat mengelak karena ia sendiri juga bingung seolah-olah telah mengenal Leo dalam waktu yang lama.
Kemudian pertemuan itu dimulai untuk membahas masalah yang menimpa kelas satu akademi. Beberapa murid yang menduduki kursi Sepuluh Elite Carta menganggap kejadian tersebut adalah perkelahian biasa.
Jinan tidak protes banyak namun ia mengatakan bahwa akan membuat orang yang menghalangi rencana teman-teman sekelasnya akan menyesal.
”Hahaha! Dia cukup berani mengatakan itu! Adik dari Lechia memang pemberani!” ucap pemuda yang menduduki kursi kedua dari Sepuluh Elite Carta bernama Glossy Paper.
”Rhiannon, apa kau yang mencari masalah dengan kelas mereka?” tanya Lea dengan tatapan tajam.
Pemuda bernama Rhiannon mendecakkan lidahnya.
”Aku hanya memberi peringatan kepada mereka, itu saja.”
”Bukankah sebagai kakak kelas dan Sepuluh Elite Carta tindakannmu ini keterlaluan? Aku tidak membutuhkan orang sepertimu dikelas.”
”Tetapi Ketua Lea... Aku melakukan semua ini demi dirimu...”
Melihat Lea dan Rhiannon bersitegang segera Lechia menutup pertemuan.
”Baiklah, kita akhiri pertemuan ini. Kita berada disini dengan tujuan yang berbeda-beda namun kita berada ditempat yang sama. Jadi jangan melakukan tindakan permusuhan yang berlebihan.” Lechia mengingatkan.
Setelah bubar Rhiannon terlihat kesal. Rhiannon melakukan semua ini karena ingin mendapatkan kepercayaan Lea dan perhatiannya. Pemuda itu sudah jatuh hati pada keanggunan dan kecantikan Lea yang umurnya bisa dibilang sangat muda.
”Rhiannon, apa kau memiliki waktu luang setelah pulang?”
Saat Rhiannon hendak kembali ke kelas, Maximilian datang dan mengajak Rhiannon untuk pergi ke ruangannya.
”Bagaimana menurutmu tentang Lea? Dia sangat berbakat bukan?” ujar Maximilian sambil memperlihatkan penelitian sihirnya.
Rhiannon kagum dengan penelitian Maximilian sambil sesekali bertanya. Hingga akhirnya Maximilian memperlihatkan sebuah pil yang mengandung aura sihir begitu pekat.
”Maximilian-Sensei... Ini apa?”
”Itu adalah pil yang biasa aku minum. Aku belum memberinya nama, namun pil ini dapat membuat tubuhmu menjadi kuat begitu juga dengan aura sihirmu.”
Maximilian menatap Rhiannon yang tertarik dengan pil tersebut. Pria itu tersenyum dan menjelaskan jika Rhiannon mengonsumsinya selama enam bulan maka saat Turnamen Musim Dingin, sudah dipastikan Rhiannon dapat bersaing di tiga besar akademi.
Mendengar itu Rhiannon tertarik dan mengambil beberapa pil. Maximilian memberinya secara cuma-cuma dan meminta Rhiannon untuk rajin memberikan laporan kepadanya.
”Kau tidak boleh memberitahu orang lain tentang ini, Rhiannon. Kau bisa memberikan ini kepada temanmu namun hanya orang-orang yang kau percayai.”
”Aku mengerti, Maximilian-Sensei. Terimakasih.”
”Kau sangat berbakat. Jadilah kuat dan gapailan kursi pertama Sepuluh Elite Carta, Rhiannon.”
Mendengar itu Rhiannon semakin besar kepala dan membuat Maximilian dengan mudah memanipulasi pemuda tersebut.
Setelah kepergian Rhiannon, Maximilian menggunakan telepati dan menghubungi seseorang.
’Tiga hari lagi buatlah kekacauan. Kita harus mengalihkan perhatian orang-orang disini sebelum aku menculik keturunan Avalon dan mengambil mata Shinigami.’
Sementara itu didalam kelas satu terlihat Leo sedang duduk menyendiri. Leo merasa bahagia karena mengetahui Lea baik-baik saja. Namun Leo belum mengetahui alasan mengapa Hera membubarkan Galaxy ataupun bahayanya kelompok bernama Tartaros.