
L A 65 - Lea Avalon vs Karen Bladeheim
Leo menghilangkan hawa keberadaannya dan menemukan dua murid yang sudah memiliki gulungan hitam dan putih melihat Lea bertarung melawan Karen.
”Tidak aku sangka akan bertarung melawan anggota Sepuluh Elite Carta. Jangan menahan diri, Senior.” Karen tanpa rasa takut menarik pedangnya dan mengarahkannya kepada Lea.
”Senior? Kau sedang bercanda. Kau lebih tua dariku. Semua ini hanya formalitas semata. Majulah Kakak Karen, aku akan menghadapimu.” Lea tersenyum dan tidak bergeming dari tempatnya.
Karen dengan gerakan yang gemulai memainkan pedangnya. Saat daun-daun sakura berjatuhan disekitarnya, terlihat Lea menjadi waspada dan seketika serpihan es tercipta karena daun sakura tersebut terbakar dengan sendirinya.
Seolah-olah membentuk lintasan permainan pedang Karen, daun sakura itu menciptakan jalan yang dapat membuat Karen mempersingkat jaraknya dengan Lea.
Permainan pedang Karen berhasil membuat Lea melepaskan hawa dingin yang membekukan sekitarnya.
”Aku tidak bisa mendekat jika seperti ini.” Karen mengibaskan pedangnya dan menatap Lea serius.
”Kakak Karen, kau memiliki permainan pedang yang unik. Keturunan murni Keluarga Bladeheim sangat berbakat. Aku tidak ingin melukaimu jadi menyerahlah.” Lea memberikan peringatan kepada Karen sambil melepaskan hawa dingin yang lebih mencekam.
”Kau... Kau terlihat seperti sangat mengenal diriku.” Karen pun menjaga jarak dan waspada.
Lea tersenyum tipis melihatnya, ”Bukan hanya Kakak Karen saja tetapi Kakak Jennie juga menjadi orang yang kuperhatikan. Dan Ketua Kelasmu itu... Dia terlihat seperti Kakakku...”
”Apa yang kau bicarakan?”
Mata Karen melebar saat hendak bergerak namun tiba-tiba tubuhnya terikat akar pepohonan. Terlebih Lea sudah berada didekatnya dan memegang gulungannya yang berwarna putih.
”Aku menang.” Lea tersenyum lembut kepada Karen sebelum mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon dimana Leo bersembunyi.
”Lille, Cia, kalian pergilah duluan. Aku ada urusan,” ujar Lea kepada dua gadis yang merupakan teman sekelasnya.
”Tetapi Lea, kau tidak boleh-”
”Sudahlah, Cia. Lea ingin menyendiri, kita biarkan saja dia menyendiri.”
Saat gadis bernama Cia hendak memprotes tindakan Lea, gadis lainnya bernama Lille langsung menarik tangan Cia. Sementara Lea bergerak menuju lokasinya Leo, Karen terlepas dari cengkeraman akar pepohonan.
”Dia benar-benar kuat... Padahal dia lebih muda dariku...” Karen mengeluh karena telah dikalahkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Jennie akan mengejeknya.
”Tetapi apa maksud perkataannya barusan?” Karen melihat Lea yang sudah menjauh darinya dan penasaran dengan maksud perkataan Lea.
”Kakak... Kau Kakakku bukan?”
”Hah?”
Leo memberontak saat melihat Lea mendekat. Awalnya Leo ingin mengawasi Lea dari jauh, namun ia tidak menyangka Lea masih mengingat dirinya hingga sekarang. Terlebih ia harus menunjukkan kemampuannya kepada Lea.
Lea menjaga jarak saat melihat akar-akar pepohonan yang melilit tubuh Leo membeku dan hancur. Terlihat Leo menatap Lea penuh kerinduan, namun Leo tidak mendekat melainkan menjaga jarak sama seperti yang dilakukan Lea.
’Lea... Syukurlah kau sekarang hidup bahagia. Di dunia ini, aku akan memastikan kau tidak perlu lagi menderita.’ Leo membatin penuh perasaan bersalah dikehidupan lamanya.
”Aku bukan Kakakmu... Aku-”
Leo tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya dan Lea sudah memeluk dirinya.
”Kakak... Kau tidak pandai berbohong kepadaku. Aku bisa mengetahui jika kau adalah Kakakku.”
”Hentikan...”
Lea tersenyum bahagia dan meneteskan air matanya karena akhirnya dapat bertemu dengan Leo. Disisi lain Leo tidak menyangka jika Lea juga mencari dirinya, namun Leo tidak dapat mengekspresikan perasaannya bahkan setelah bertemu Lea.
Ekspresinya terlihat kebingungan namun air matanya menetes dengan sendirinya. Leo menyadari bahwa hatinya benar-benar sudah hancur dan mati. Bahkan disaat inipun ia masih merasakan kehampaan yang sangat didalam hatinya.
”Lea... Apa kau makan dengan teratur? Kau tidak begadang kan?” Leo berusaha tersenyum dan mengelus rambut Lea.
”Kakak, maaf karena aku sudah membebanimu dan membuatmu menderita.” Lea menyeka air mata Leo dan menatap remaja tersebut dalam.
”Aku selalu bermimpi melihatmu menangis sendirian dan aku tidak dapat berbuat apapun. Dikehidupan ini, aku berjanji akan membuatmu bahagia Kak.” Lea memeluk Leo lebih erat setelah mengatakan itu.
Ada perasaan lega dihari Leo karena mengetahui Lea tumbuh dengan baik dan semua ini berkat Celine Sylv yang merawat Lea seperti anaknya sendiri.
”Lea, maaf karena aku tidak bisa menjagamu. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kakak yang baik. Maaf karena aku telah membuatmu menderita.”
”Tidak, Kak. Justru Lea yang telah membuat Kak Leo menderita.”
Saat momen kakak beradik itu berlangsung haru, sepasang mata yang mengintip menahan tawa karena melihat sosok Leo yang seperti ini.
”Dia juga bisa berekspresi seperti ini. Tidak sia-sia aku datang untuk bertemu dengan Kepala Sekolah dan yang lain.” Sosok pemilik sepasang mata itu adalah Charlotte Floral yang mengunjungi Akademi Sihir Carta untuk bertemu Hera dan Celine Sylv.