LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
PERASAAN APA INI?



"hufftt capek juga setengah hari keliling keliling rumah sakit sebesar ini" ujarku pada dokter Rika yang duduk disampingku.


" hehe... nanti bakalan lebih capek dari ini lagi dok" balasnya seraya memberikan sebotol air mineral padaku. dokter Rika adalah kepala rumah sakit disini dari pagi tadi saat aku menemuinya dia langsung mengajakku untuk mensurvei langsung satu persatu ruangan disini yah katanya sih buat pengenalan dulu.


aku juga heran ku pikir hari ini aku bakalan langsung nanganin pasien dirumah sakit ini eh ternyata malah diajak pengenalan dulu. ah gak pa pa lah dari pada aku tiduran nggak jelas dirumah


tak berapa lama duduk disampingku ponsel dokter Rika berdering dia memberi isyarat pada ku untuk mengangkat telfonnya aku hanya mengangguk mempersilahkan wanita yang berumur sekitar 40 tahunan itu mengangkat telfonnya.


setelah selesai mengangkat telfon dokter rika kembali duduk disampingku.


" dok" panggil ku pada dokter rika


" iya" jawabnya menoleh kearahku


" saya boleh tanya sesuatu gak"


" boleh gak ya?" goda dokter rika memicingkan matanya padaku untuk sesaat bersamanya saja aku bisa mengenali sifatnya, bahwa dokter rika pasti orang yang humble dan humoris.


"boleh dong" tawarku memelas padanya sambil mengerucutkan bibirku sikap yang biasa aku lakukan pada papa kalau lagi pengen sesuatu darinya.


" hahaha kamu lucu ya kalo lagi memelas kayak gini pipi tirus mu itu jadi kayak kelihatan chubby" tuturnya sambil tertawa melihat tingkahku


" ya udah mau tanya apa" sambung dokter rika


" kalau boleh saya tau emang tadi malam jam berapa fahriza ngelamarin saya kerja disini?" tanyaku penasaran.


" tadi malam? kayak kamu salah deh fi," ujar dokter rika membuatku bingung.


" maksud dokter?"


" fahriza ngelamarin kamu kerja itu dari seminggu yang lalu," jelas dokter rika membuatku makin bingung


" hah masa sih dok, dokter salah liat daftar kali mungkin aja lufita yang lain" ujarku tidak mempercayai dokter rika


"saya nggak mungkin salah lufita, orang yang nerima surat lamaran kerja kamu saya sendiri kok"


" loh kok bisa dok, perasaan fahriza nggak ngasi tau saya apapun tentang pekerjaan saya, bahkan saya baru bilang sama dia kalau saya pengen kerja itu baru tadi malam"


dokter rika hanya tersenyum menatapku. sedangkan aku masih tidak mengerti tentang penjelasan dokter rika, bagaimana mungkin surat lamaran kerjaku sudah diterima dari seminggu yang lalu sedangkan aku baru membicarakannya dengan fahriza itu tadi malam.


••••••••••


hawa panas sudah tidak lagi terasa sekarang, karena senja mulai menepati janjinya untuk kembali. saat ini aku sedang mengendarai queen ku menuju kantornya fahriza, untung saja teknologi sudah canggih jadi dengan mudah aku mencari kantor fahriza menggunakan google maps. kalian jangan fikir macam macam dulu aku menemui fahriza untuk meminta kejelasan kenapa dia tidak memberitahuku bahwa dia sudah mendaftarkan kerja ku dari seminggu yang lalu. aku benar benar tidak sabar menunggu jawaban darinya, setelah mendengar penuturan dari dokter rika tadi siang aku benar benar gelisah memikirkan ini.


Saat motorku sudah terparkir sempurna di parkiran motor kantornya fahriza, buru buru aku berjalan untuk masuk kesana, awalnya agak canggung sih karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku di kantornya, kalian tau kantornya fahriza gede banget asli aku nggak boong aku saja sampe beberapa kali menelan ludah karena liat gedungnya tinggi kayak gitu. kalo terjun bebas dari lantai paling atas kayaknya bakalan didatangin malaikat maut deh.


baru saja aku akan masuk menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruangan fahriza tiba tiba pundakku ditepuk spontan aku menolah dan aku hampir saja terjengkang kebelakang akibat orang yang berada sekita 4 cm dari hadapan ku ini.


dan lebih parahnya kalian tau, karena aku ingin jatoh terlentang tadi kini fahriza memegang pundakku dari depan dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menahan pinggangku jadi kalau dideskripsikan ia hampir saja memelukku seperti kemaren bedanya kali ini aku juga mengalungkan lengan ku dileher fahriza


karena sadar diperhatikan beberapa karyawannyan disana dia buru buru menarikku untuk berdiri.


" ada apa?" tanyanya padaku


" ha, ah itu em anu" jawabku gugup " aargghh kenapa aku jadi gugup gini sih" umpat batinku


dia memperhatikan ku dengan bingung, sambil mengernyitkan dahinya.


" aku mau tanya soal pekerjaanku yang kamu lamarkan malam tadi" ucapku akhirnya keluar juga kalimat itu


" kamu kesini pake apa?" bukannya menjawab pertanyaanku di malah balik bertanya padaku sepertinya ini adalah salah satu kebiasaan lain fahriza.


" pake queen" jawabku datar ia memandangku dengan tatapan bingung


" ah maksudku motor." ralatku


"baiklah kita pulang pake motor kamu" ujarnya lalu pergi mencari seseorang


" what the heck? huh aku benar benar tidak mengerti dengan manusia kutub itu bukannya menjawab pertanyaanku dia malah membuat pernyataan yang membuatku kesal sendiri.


tak lama dia kembali dan menggandeng tanganku keluar dari kantor. wait wait wait... ada apa ini kenapa tiba tiba aku jadi gugup gini saat ia memegang tanganku.


Glek


aku menelah ludah. apakah aku benar benar menikahi manusia kutub yang punya seribu kekuatan atau jangan jangan dia yang berubah jadi manusia kutub karena aku selalu memanggilnya dengan sebutan itu


"kamu mau pulang apa jadi tukang parkir" sebuah suara membuyarkan lamunanku


yah suara siapa lagi kalau bukan suara manusia kutub itu.


tanpa disuruh lagi aku langsung naik diboncengan belakang my queen, rok yang panjang dan lebar ini membuatku agak kesulitan menempatkan diri belum lagi jilbabku yang berterbangan terkena angin motor, " ah ternyata susah juga menjadi seorang wanita muslimah" gumamku dalam hati.


setelah sekita 15 menit di motor fahriza memasuki pekarangan sebuah masjid dan memarkikan motorku.


" sholat dulu" ujarnya padaku. aku hanya mengangguk tanpa menatapnya. dia berjalan dulu di depanku menuju tempat wudhu.


selesai wudhu aku mengenakan mukena yang sudah disediakan oleh pengurus masjid. jadi buat yang berpergian jauh lalu lupa membawa mukena tidak perlu khwatir disini sudah disediakan.


setelah selesai sholat aku pun keluar dan kembali mengenakan sepatuku kulihat di sampingku fahriza juga melakukan hal yang sama.


tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 entah sudah berapa lama kami berkendara di jalan. cacing di perutku juga sudah mulai berdemo, sebenarnya aku ingin bilang pada fahriza kalau akun lapar tapi kuurungkan gengsi dong masa iya seorang lufita meminta pada manusia kutub.


bukannya langsung pulang kerumah fahriza malah membelokkan sepeda motorku ke sebuah rumah makan yang tidak begitu besar tapi ramai oleh pengunjung.


setelah turun dari motor dia menuntunku masuk dan memilih meja pojok samping yang terlihat sepi dari yang depan. seorang pelayan menghampiri kami menanyakan menu makan malam yang akan kami pilih. dengan serempak aku dan fahriza menyebutkan mie ayam sebagai menu makan malam kami. pelayan itu hanya tersenyum melihat kekompakan kami. sedangkan aku jadi kikuk gara gara itu aku tidak tau jika pilihan ku akan sama dengan fahriza.


"minumnya?" tanya pelanyan itu


"air putih aja" jawabku dan fahriza lagi lagi serempak.


" ouch romantis banget sih" ujar pelayan itu lalu pergi meninggalkan kami dalam keadaan canggung satu sama lain.


" ehm.... ak....." ucap membuka pembicaraan diantara kami tapi belum selesai kalimat ku fahriza sudah memotongnya


" sebenarnya saya emang udah lama masukin kamu kerja, saya juga udah beberapa kali ingin membicarakan hal ini dengan mu" tuturnya lembut.


" tapi ya setiap saya pulang kerja kamu udah tidur duluan dan setelah sholat subuh kamu juga lanjutin tidurmu, jadi saya nggak punya kesempatan buat bicarain hal ini sama kamu" jelasny padaku


"trus kenapa malam kemarin nggak ngasi tau aku, malahan kamu langsung ninggalin aku gitu aja dimeja makan" tanyaku kesal


" hemh, saya nggak ninggalin kamu saya pergi ke ruang kerja saya untuk ngambil kunci motor kamu, eh setelah saya balik lagi kemeja makan kamu udah nggak ada dan setelah saya cek ke kamar ternyata kamu sudah tidur"


" loh emangnya sejak kapan motorku sudah ada di garasi?"


" setelah maghrib asistenku yang bawain kerumah saat kamu lagi sibuk didapur"


sebenarnya aku ingin menanyakan satu hal lagi tapi pelayan yang membawa pesanan kami datang dan meletakkan mie ayam kami diatas meja.


tanpa menunggu ku melanjutkan pertanyaan fahriza langsung menyantap mie ayam didepannya dengan antusias sepertinya dia juga lapar kelihatan dari cara makannya tapi walaupun begitu tidak mengurangi ketampanannya


eh kok aku bahas bahas sampe kesana sih.


" boleh aku tanya satu hal?" tanyaku pada fahriza


dia hanya diam. tanpa menunggu reaksi dari nya lagi aku kembali bertanya


" apa kamu seorang para normal?" tanyaku yang membuatnya berhenti mengunyah glek aku menelan ludah ku " duh kayaknya dia marah deh mati aku" umpat batinku


"em, ma maksudku kamu tau gitu apa yang aku inginkan" ralat ku


kalian tau apa yang terjadi bukannya menjawab atau pun marah padaku dia malah tertawa kecil sambil menatapku, kemudian menggelengkan kepalanya. dari situ aku baru menyadari kalau fahriza memiliki ginsul di gigi bagian atas sebelah kanan, untuk pertama kalinya aku melihat manusia kutub ini tertawa didepanku, "ah manis nya " puji batinku padanya


loh kok tiba tiba jantungku kayak lari marathon ya. duh, kalo kayak gini sih aku bisa serangan jantung mendadak setiap kali liat dia tertawa dan tersenyum padaku. tanpa ku sadari ternyata fahriza menatapku pandangan kami bertemu dengan jarak yang lumayan dekat.


duh jantungku kok makin tambah kenceng ni mompanya. kalo kayak gini bisa bisa aku kembali kerumah sakit sebagai seorang pasien bukan seorang dokter.


buru buru aku mengalihkan pandangan ku menatap mie ayam yang mulai dingin segera ku santap dengan perasaan yang gugup " duh kok jadi canggung gini sih" ujar batinku kesal


💕sengaja aku kebut malam ini ngetiknya karena nggak sabar liat lufita jatuh cinta sama fahriza. menurut readers gimana nih cocok nggak sih💕💕💕