LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
RINDUKU



hari ini hari terakhir fahriza di jogja dia bilang kalau urusannya pagi tadi udah selesai. jadi dia mutusin untuk langsung pulang, sekarang juga sudah ada dipesawat


huh aku benar benar merindukan pria dingin itu. jangankan tiga hari satu hari setelah kepergiannya saja rasanya sudah bertahun tahun dia meninggalkan ku. makanya setiap pekerjaanya telah selesai dia selalu menghubungiku baik telfon biasa atau vidio call. tapi lebih banyak sih vidio call, aku benar benar tak bisa jauh darinya


hari ini aku akan masak makanan kesukaannya untuk menyambut kepulangannya, setelah pulang dari rumah sakit nanti aku akan mampir beli bahan bahannya. aku memang belum ambil cuti, nanti dekat lahiran aja baru cuti. lagian dirumah aku nggak ngapa ngapain kalau dirumah sakit setidaknya aku mengurangi kebosananku dari pada dirumah.


kemarin fahriza udah sempat menyuruhku untuk berhenti aja dia khawatir takut aku tidak bisa berhati hati maklum aku orangnya sering ceroboh, tapi ya menurutku dirumah nggak ada kerjaan semuanya udah diselesain sama ART, jadi lebih baik aku menyibukkan diriku sebelum nanti aku fokus dengan anakku. jadi aku tetap kekeuh dengan pendirianku dan seperti biasa fahriza hanya bisa mengalah


sekarang ini setiap pagi ibu yang nemenin aku kerumah sakit dianterin sama supirnya,


sesekali dia menemui dokter rika setelah itu baru pulang sorenya dijemput lagi sama ibu gitu seterusnya aktivitasku yang selalu diperhatiin sama ibu selama 3 hari ini. dia menggantikan peran fahriza,


drrtt.. drrrt..


tania..... wah udah lama banget dia nggak kontek aku


" chubbyyyy..... " teriakku pada tania disebrang sana


" haduh kebisaan treak treak, rumah siputku bisa rusak fi. mbok ya salam dulu " celotehnya kesal


" hahaha... assalammualaikum kakak ipar "


" waalaikumsalam, ih paan sih fi malu tau kalo kedengaran orang " suara malu nya keluar hahaha sepertinya sekarang wajahnya memerah kayak tomat


" yeeee belajar tauk, ntar kalo udah nikah sama kak lufian aku juga bakal panggil kamu kakak hahaha... " aku semakin menggoda wanita pemalu disebrang sana


" ya ejek aja terus "


" aduuuhh calon manten cepet merajok sangatlah " ( ngambek banget sih )


" biarin, eh gimana kabar ponakanku sehatka? " tukas tania menanyakan kabar bayiku


" alhamdulillah sehat, "


" kamu nggak sibuk " sambungku menanyakan schedule nya maklum dia lebih sibuk dari aku. ngajak ketemuan aja dia nggak bisa janji


" nggak, udah beberapa hari ini jadwalku nggak penuh. ehem aku mau ajak kamu jalan sore ini bisa nggak? " terdengar suaranya serak kayak orang panas dalam


" duh sore nanti fahriza pulang jadi kayaknya aku nggak bisa. maaf ya " aku benar benar merasa tidak enak hati dengan tania soalnya semenjak lulus kuliah kami jarang ketemu apalagi kalo aku butuh dia saat jam kosongnya dia selalu ada


" oh, nggak pa pa kok santai aja kita masih punya banyak waktu sebelum kamu lahiran " terdengar dia sedang minum disebrang sana


" kalo kamu nggak keberatan nanti sore kerumah aja ajak kak lufian kita makan malam bareng, mertuaku juga bakalan kerumah pasti seru kalo rame rame "


" iya insyaallah aku dateng "


" kalo gitu udah dulu ya, mau beres beres bentar lagi rebahan dikasur " ujarnya diiringi kekehan kecil


" nggak berubah ya jiwa rebahannya, aku juga mau pulang "


" hehehe.... assalammualaikum "


" waalaikumsalam "


setelah menutup telfon dari tania aku segera mengemasi tas ku, haaah nggak sabar pengen cepet cepet ketemu fahriza, sabar lufita cuma nunggu beberapa menit lagi kamu akan melepas rindu mu ini


" dokter fifi " panggil dokter nayra yang ntah dari mana dia seharian ini baru menampakkan batang hidungnya


" eh dokter nay, belum pulang? " balasku sambil mengemasi cargher juga earphone yang sudah beberapa hari ini menemaniku baik mendengarkan musik lewat player ponselku ataupun menemaniku berbicara dengan fahriza


" ini mau beres beres dulu setelah itu pulang. dokter fifi sendiri pulang sama siapa? " lanjutnya melewatiku untuk duduk dikursinya


" aku udah dijemput sama pak maman "


pak maman itu supir dirumah ibu. yang diboyong ibu kerumah untuk mengantar jemputku kerumah sakit


" oh, nay kira belum dijemput jadi mau nawarin jasa sopir sama dokter fifi " candanya mengutarakan niatnya untuk mengantarku pulang


" emm.. makasih banyak dokter nay untuk niat tawarannya kalo belum dijemput teh pengen banget jadiin dokter nay supir pribadi sore ini " balasku disambut tawa dari dokter nayra


" ya udah kalo gitu aku duluan ya " pamitku dibalas anggukan oleh dokter nayra,


didalam mobil sudah terlihat pak maman yang duduk dibelakang stir kemudi kasian dia dari tadi nungguin aku


" maaf ya pak maman lama nungguin fifi, " aku tak enak hati dengan lelaki paruh baya ini yang lama menungguku


" ah nggak pa pa non sudah menjadi tugas saya " ucapnya


" ibu nggak ikut pak? " tanyaku baru menyadari kalau ibu tak ikut menjemputku. biasanya dia juga ikut menjemputku dan pulangnya nggak langsung kerumah tapi mampir dulu kerumah makan ataupun restoran dia bilang aku harus banyak makan supaya nggak kekurangan gizi.


ibu.... ibu padahal kalo dirumah apa sih yang nggak aku makan, akhir akhir ini aja napsu makan ku berkurang.


" nggak non, lagi nggak badan katanya "


" loh ibu sakit pak? "


" saya nggak tau jelas sih non, kata ibu dia hanya nggak enak badan aja " jelasnya sambil menatap lurus jalan didepan kami


" a..., pak setelah ini belok kiri ya " ujarku pada maman aku berniat belanja dipasar aja udah lama nggak kepasar semenjak ada ART dirumah lagipula udah nggak jauh lagi


" loh non, bukannya itu jalan nuju kepasar ya? "


" iya "


" lah kok kita pesar non, saya nggak berani bawa non kepasar tanpa izin dari nyonya sinta " ucapnya ragu ragu


" sebentar aja pak lagian nggak jauh lagi kok, saya udah ijin sama ibu nih " ucapku sambil memeperlihatkan isi chat ku yang minta izin sama ibu pada pak maman


" ya udah kalo gitu. "


tak lama kami sampai di parkiran pasar tadinya aku menyuruh pak maman untuk menungguku dimobil saja tapi dia takut aku masuk pasar sendirian katanya nggak aman jadi dia juga ikut menemaniku kepasar sekalian membawakan belanjaanku


" kamu dimana? " to the poin dia mah, seharusnya setelah ngasi salam itu disayang dilembutin lah ini maen to the poin aja jadi takut aku


" dipasar " jawabku jujur


" kamu ngapain dipasar kan saya udah bilang jangan ketempat ramai kayak gitu dulu kalo saya nggak ada, " ujarnya disebrang sana terdengar kesal


" bentar doang jangan kesel dulu dong. emang kamu udah pulang? " kalo fahriza kayak gini cara meyakinkannya harus dengan kata Kata lembut dan halus biar bisa tenang


" udah. huh kamu tunggu disana saya jemput "


" yah nggak jadi dong kejutannya, tapi nggak pa pa deh pokoknya walau udah nggak jadi kejutan lagi kamu harus anggap ini kejutan ya " titahku memperingatkannya karena kejutan ku gagal. tapi aku nggak mau semuanya gagal walaupun udah ketauan


" iya, tunggu jangan kemana mana "


" iya iya aku tunggu "


setelah berbicara dengan fahriza aku menghampiri pak maman menyuruhnya untuk pulang duluan percuma juga dia menemaniku sama aja dia pulang sendiri.


awalnya sulit juga sih mujuk pak maman dia ngotot nggak mau pulang sebelum fahriza didepanku tapi setelah aku pujuk akhirnya dia mau juga. aku kasihan banget sama dia pasti kelelahan seharian ini hampir nggak ada istirahatnya. aku tau itu memang sudah jadi konsekuensinya tapi aku juga nggak tega liat orang setua pak maman nggak memiliki waktu istirahatnya.


belanjaan ku udah aku titipin sama pak maman sekarang giliran ku menunggu fahriza di depan jalan.


saat duduk dikursi sebuah toko kecil didepan jalan utama, mataku tak sengaja melihat seorang wanita tua renta yang membawa dua buah wadah tertutup ingin menyebrang dia sedikit takut takut melihat kendaraan yang ramai berlalu lalang didepannya.


mataku masih memperhatikan gerak geriknya, dimana anaknya? kenapa bisa membiarkan orang tuanya berjalan sendirian dikeramaian seperti ini. karena tidak tega akhirnya aku yang turun tangan membantunya, setiap orang yang melewatinya tak ingin membantunya. kalau dikatakan mereka tak melihatnya kurasa itu bukan sebuah alasan apalagi mereka punya dua mata, ungkapan lebih tepat untuk mereka adalah tidak memiliki rasa kepedulian haaahh... sudahlah percuma dibahas toh tak akan bisa merubah mereka


kuraih tangan kiri nenek ini dengan tangan kananku sedangkan tangan kiriku meraih box plastik kecil darinya kulihat didalamnya berisi jajanan aku membantunya mengurangi sedikit beban yang ia bawa. sepertinya dua box yang ia bawa ini adalah dagangannya


" tidak usah nak, biar nenek saja yang membawanya " ujarnya saat menyadari aku meraih box plastiknya itu dari genggamannya


" nggak pa pa nek, kasian nenek bawa dagangan ini. mari saya bantu nyebrang "ajakku padanya


" tapi kamu sedang hamil nak, nenek tidak mau merepotkanmu " lanjutnya sambil mendongak mencoba menatapku karena tubuhku yang lebih tinggi darinya


" nenek nggak ngerepotin kok, malah saya seneng bisa bantu nenek. ayo " aku mulai menuntunya menyebrang jalan melewati beberapa kendaraan yang melambatkan kecepatan berkendaranya karena kami. usia nenek yang sudah renta membuat jalannya sedikit lama


" makasih banyak nak, kamu mau nolong nenek. kalo nggak ada kamu mungkin nenek belum nyebrang karena nunggu kendaraan sedikit lengang. nenek jadi ngerepotin kamu " ucapnya seraya menyambut box yang berukuran lebih kecil dari yang dipegangnya itu dari tanganku


" sama sama nek, nenek nggak ngerepotin kok lagian itu udah jadi tugas kita sesama manusia bukan untuk saling tolong menolong "


" nenek mau kemana lagi setelah ini? " tanyaku melihatnya membenarkan posisi kotak ditangannya


" pulang nak.... soalnya cucu nenek lagi sakit "


" aaa... semoga cucu nenek cepat sembuh ya "


" oh iya nek ini " tukasku sambil memberinya uang ratusan dari dalam dompetku


" ini untuk apa? " tanyanya sambil memperhatikan wajahku dengan bingung karena melihat genggamannya yang kuselipkan lima lembar uang seratusan


" buat nenek semoga bermanfaat, maaf kalo saya cuma bisa ngasi segitu " tuturku sambil mengulas senyum


" tapi nak untuk apa? nenek tidak membutuhkan ini. kamu mau bantu nenek saja tadi nenek sudah sangat bersyukur. nenek tidak bisa menerima ini " balasnya seraya mengembalikan uangku


" saya ikhlas nek, ambil aja ini rejeki nenek dari Allah dengan perantara saya jangan ditolak "


" ya Allah makasih nak makasih banyak nenek nggak tau lagi gimana balas kebaikan kamu " tuturnya seraya menggenggam tanganku sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya raut wajah haru muncul diwajahnya


aku bersyukur dengan uangku aku bisa membantu mereka yang membutuhkan


" nenek doain aja semoga saya dan anak saya sehat. trus lahirannya lancar "


" amiiin nenek pasti doain yang terbaik buat kamu, semoga Allah membalas kebaikanmu "


" amiiin "


" kalau gitu nenek pulang dulu, cucu nenek sendirian dirumah "


" emangnya orang tuanya kemana nek " tanyaku penasaran kenapa cucunya yang lagi sakit bisa tinggal sendirian dirumah seharusnya orang tuanya ada dan menemaninya


" orang tuanya sudah tiada sebelum dia bisa mengingat wajah orang tuanya " mendengar kalimatnya seolah ada tamparan keras yang mendarat dihatiku


" kalo gitu nenek duluan ya " sambungnya mengusap lenganku


" iya nek hati hati "


" oh iya siapa namamu? "


" lufita nek "


" baiklah nenek duluan ya jaga dirimu, semoga lain waktu nanti kita bisa bertemu lagi " ujarnya sembari memberiku senyuman telihat keriput diwajahnya hadir menemani senyumannya


" amiin. "


" sekali lagi terima kasih banyak, nenek akan selalu doain nak lufita "


" makasih banyak nek hati hati "


dia hanya membalasku dengan senyuman lagi lalu memutar tubuhnya dan meninggalkanku. kasihan dia, seharusnya semasa tuanya ini dia nikmati dengan anak dan cucunya dirumah bukan mencari nafkah demi menghidupi cucunya yang yatim piatu. tapi inilah hidup kita tidak bisa mengaturnya sesuai kehendak kitak karena semua itu telah ditakdirkan yang maha kuasa pada setiap diri manusia. semoga orang orang seperti nenek ini bisa mendapatkan kebahagiannya walau tidak didunia namun diakhirat.


saat aku memutar badanku menghadap ke jalan sebrang, tatapanku terkuci pada sosok pria dengan tatapan tajam yang sedang memperhatikanku raut wajah khawatir juga kesal terukir diwajahnya. senyumku mengembang seketika, aku tidak bisa menahan rasa senangku melihatnya dihadapanku sekarang, tanpa menunggu lagi aku langsung bergerak mendekatinya aku ingin cepat sampai didepannya, aku ingin memeluknya, aku ingin melepaskan rinduku padanya sekarang


BRAAAAKKK..............


" LUFITAAAAA........... " teriak seseorang terdengar jelas ditelingaku tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya


aku merasakan tubuhku menghantap benda keras sedetik kemudian aku merasa melayang diudara dan sedetik kemudian lagi tubuhku seperti terhempas keras kebawah samar samar ku dengar banyak langkah kaki mendekatiku.


dan juga dengan samar namaku dipanggil oleh sebuah suara. suara itu, suara itu tak asing bagiku yah itu suara fahriza suamiku, lelaki yang selama ini kurindukan tapi kenapa aku tidak bisa menjawab panggilannya badanku juga tidak bisa digerakkan perlahan pandanganku pudar. makin lama makin pudar dan gelap.