
aku tak mengerjapkan mata sedetikpun ketika ujung pistol itu berada tepat dikeningku. hingga aku bisa melihat dengan jelas wajah kesakitan pria paruh baya itu saat sebuah timah panas menyenggol kulit lengannya hingga membuat pistol yang sedang dia tujukan untukku terjatuh dari tangannya
" haahh.... drama kalian lama banget sih, gerah tau nggak ngumpet dikardus itu. untung aku nggak kehabisan nafas " ucap seorang pria dewasa yang sedang berjalan kearahku seraya beberapa kali menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
" KALIAN..... BAGAIMANA KALIAN BISA ADA DISINI??? " geram pria paruh baya yang hampir saja melayangkan peluru panas untuk menembus kepalaku tadi
aku tersenyum miring menjawab pertanyaan om vicky, untung vara cepat memberitahuku hingga aku selangkah lebih maju dari mereka. mereka sengaja menjebakku untuk datang kekantor ditengah malam seperti ini agar bisa menggiringku ke gudang usang yang berada sedikit jauh dari kota untuk melenyapkanku.
setelah mengetahui siasat licik ayahnya, dengan cepat vara memberitahuku hingga aku membuat strategi agar ardi beserta ayah datang lebih dulu untuk bersembunyi disini agar mudah menangkap basah mereka. dan yah, mereka bersembunyi dibalik beberapa barang besar yang sudah usang yang berada di dalam sana bahkan ardi sampai rela menutupi dirinya dengan kardu bekas itu. sedangkan pihak berwajib pergi bersamaku kesini tentunya tanpa diketahui oleh om vicky. ardilah yang membantuku membuat persembunyian mereka sulit dideteksi.
saat dirumah tadi seseorang menelfonku dengan memberitahukan bahwa pelakunya mau menyerahkan diri dengan bersyarat. aku sudah mengetahui siasat ini yang akan mereka gunakan untuk memancingku agar datang kekantor ditengah malam seperti ini.
dan yah usahaku tidaka sia-sia.
" BRENGSEK KAU FAHRIZA " teriak pria paruh baya yang sudah berdiri di pojok sana sedang diringkus pihak berwajib.
" syuuut, feri jangan habiskan tenagamu hanya untuk memekik ditengah malam seperti ini " ujar ayah sambil membuka gembok yang mengunci rantai yang melilit dikaki dan tanganku.
" bagus sekali feri kau melakukan penggelapan uang lalu melontarkan kesalahanmu pada orang lain. " ujar pak syarif salah satu pemegang saham diperusahaan. dia sengaja diboyong ayah untuk menyaksikan pengakuan pelaku malam ini.
" pengecut kalian semua, kalian bersekongkol. " bentaknya tajam sorot matanya menyala seakan api dapat menyala dalam sekejap disana.
" hahaha.... pasti anak tidak tau diuntung itu mendukung rencanamu " gertak om vicky yang lengannya sedang diborgol rahangnya mengeras menatap ku tajam.
" saya tidak menyangkan orang terhormat seperti anda nekat berbuat sejauh ini tuan vicky " ujar ayah datar.
aku tersenyum melihat pria paruh baya yang sudah bersedia membesarkanku ini, sekarang dengan sigapnya dia berdiri disampingku membelaku untuk melawan mereka yang sedang berusaha menyingkirkanku
puk
aku menoleh kearah seseorang yang baru saja menepuk bahuku. pria yang usianya hampir beda tipis denganku ini menepuk nepuk pelan pundakku. " good job " ujarnya seraya tersenyum
" gimana persiapan aku disini keren nggak? bahkan para pengawalnya aja nggak mampu mengendus keberadaan kami disini " pujinya pada diri sendiri.
aku terkekeh kecil mendengar penuturannya
" hengh, aku tidak akan berbuat seperti ini jika saja ***** itu tidak merusak kejiwaan putraku " geramnya dengan mata yang masih menatap lekat ke arahku.
" bukan putra saya yang membuat putra anda mengalami gangguan jiwa, melainkan ambisinya sendiri yang menyerang balik dirinya. " sanggah ayah tak terima dengan tudingan yang di lontarkan om vicky padaku.
setelah mendengar perkataan ayah pria itu terkekeh kecil kemudian tertawa keras bahkan sampai terbahak bahak
" kemarin anaknya, kayaknya sekarang bapaknya juga akan ditampung di RSJ " gumam ardi namun masih bisa didengar oleh telingaku.
" kamu fikir, aku bakalan lepasin kesalahan kamu gitu aja walau aku sudah boyong ke jeruji besi? " tanya om vicky sinis padaku setelah menyudahi tawanya.
" aku tidak sebaik itu tuan direktur, tidak masalah jika hari ini kau belum menemui ajalmu, tapi bisa kupastikan kau akan menghadiri pemakaman istrimu sendiri besok. " ucapanya diiringi dengan kekehan kecil
rahangku mengeras mendengar ucapannya, dengan cepat aku menyambar kunci mobil ditangan ardi. dengan langkah yang terseok seok aku berlari menuju mobil.
aku sudah tak peduli dengan nyeri pada perut dan dadaku, aku sudah tak peduli dengan bau anyir darah yang keluar dari mulutku tadi. nafasku memburu mengingat aku tidak memberikan pengawalan apapun pada lufita saat ini. ck kenapa aku sampai seceroboh ini, ku fikir dengan mengumpan diriku saja dia segera mengehentikan aksinya.
perkiraanku salah besar bahkan dengan aku yang suka rela menyerahkan diriku, mereka menjadikan istriku mangsa kedua jika aku lepas.
ketika aku menghidupkan mesin mobil, seseorang masuk kedalam mobil yang kunaiki ini juga. dia memilih duduk disampingku dengan deraian air mata yang sudah melai mereda.
" kamu, bagaimana kamu bisa ada disini. cepat turun " sarkasku pada wanita yang duduk disampingku ini
" aku nggak akan turun, aku bakalan ikut kemanapun kau pergi " bantahnya menatapaku tajam
terserahlah dia mau turun atau tidak yang pasti aku harus secepatnya sampai kerumah. dengan perasaan was-was aku memacu mobil ini tanpa perduli keselamatan.
ya Allah semoga semuanya belum terlambat. arrghhh bagaimana kau bisa sebodoh ini fahriza
" honey.... "
" harus berapa kali saya tegaskan berhenti memanggil saya dengan sebutan itu. " tegasku pada wanita yang baru saja memanggilku dengan panggilan yang tak pantas dia berikan untukku
" jangan pernah merendahkan istri saya vara, seberapa keras pun usahamu merebut saya darinnya saya tidak akan pernah berpaling. " ujarku tajam tanpa memandangnya. fokusku saat ini benar benar terbagi, sampai saat ini aku tidak mengetahui kabar istriku. mau menelfon aku sudah tidak tau lagi keberadaan ponselku saat ini
" tidak bisakah kau melihat cintaku untukmu fahriza, tidak bisakah kau membalas perasaanku padamu setelah usahaku membantumu selama ini. " lirihnya dengan isakan kecil
" aku bahkan rela melawan daddy demi dirimu, butakah kau akan perjuanganku membantu membongkar kedok deddy dan pelaku yang menjebakmu itu ha? " geramnya
sebesit rasa bersalah menghampiriku atas pemanfaatan yang kulakukan padanya. tidak seharusnya aku menerima tawarannya waktu itu. menyesal pun tidak akan membalikkan keadaan saat ini. sekarang aku hanya bisa memberikan pengertian padanya
" maaf vara, saya tidak bisa. maafkan saya karena membuatmu menaruh harapan, bukankah dari awal waktu itu sudah saya katakan bahwa saya tidak akan pernah bisa merusak kepercayaan istri saya. "
" kamu pria brengsek fahriza, kamu egois kamu hanya tau memanfaatkan ku. BASTARD " pekiknya melayangkan pukulan pada lenganku. sebisa mungkin aku tidak melawan karena lengan ku harus tetap berada di stir kemudi. demi keselamatan kami
" temui ayah bayi itu minta pertanggung jawabanya. bayi itu juga butuh orang tua laki-laki. kamu juga harus memiliki pendamping untuk merawat bayimu. "
" nggak. aku nggak mau nemuin pria itu, aku nggak mau dia yang mendampingku. yang aku inginkan cuma kamu fahriza, cuma kamu. aku cuma mau kamu yang jadi ayahnya. "
" jangan bodoh kamu vara, saya nggak mungkin mempertanggung jawabkan yang bukan merupakan kesalahan saya. " sinisku sekilas melirik manik abu abu itu.
" sampai kapan pun aku cuma menginginkan kamu yang jadi pendampingku. aku tidak akan membiarkan usahaku yang menjauhkan lufita dan keluarganya darimu sia-sia. aku tidak perduli di cap gila, aku bakal lakuin apapun untuk ngedapetin kamu. "
" jangan menyakiti diri kamu sendiri vara, karena sampai kapanpun usaha kamu tidak akan berhasil. "
" hengh, kita buktikan saja. aku harap dia segera mati saat ini " desisinya membuatku kembali melemparkan tatapan tajam padanya.
" kamu tau semua itu? " bentakku membuat dia tertawa sinis
" haaah, aku sengaja menyembunyikan strategi kedua daddy untuk melenyapkan wanita lumpuh itu dari kamu sayang " lirihnya manja membuatku ingin melemparnya keluar dari dalam mobil ini, jika aku tidak mengingat istriku lebih membutuhkan pertolonganku dari pada meladeni wanita berbisa ini.
" picik. saya nggak akan pernah maafin kamu jika sesuatu terjadi pada istri saya "
" terserah, yang penting wanitu itu lenyap dari dunia ini. dan aku akan milikin kamu seutuhnya "
" jangan pernah bermimpi vara. kamu tau cinta saya terikat kuat dengan lufita dan tidak akan bisa dilepas begitu saja walau pun saya tiada. "
" satu lagi jangan terlalu banyak berhayal karena itu akan membuatmu bisa menyusul kakamu " aku mengakhiri percakapanku dengan vara dengan kata-kata menyakitkan aku sudah tidak perduli dengan sakit hatinya.
biarkan ini menjadi dosa ku karena menyakiti hati seorang perempuan dengan kata-kata. lidahku akan berubah menjadi pisau ketika ada yang mencoba menyakiti orang yang paling berpengaruh dalam hidupku.
" *****........ " teriaknya
" ********........ "
" tidak tau terima kasih kau brengsek "
nafasnya terdengar memburu menahan amarah
" baiklah jika aku tidak bisa memilikimu, maka siapapun juga tidak bisa memilikimu. "
" aku mati maka kau juga harus mati "
dia mencoba mengambil alih stir dengan menyerobotkan tangannya disisi ruang stir yang kosong, " APA YANG KAMU LAKUKAN VARA " aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku melihat gelagatnya berebut mengambil alih stir menyebabkan mobil yang kami naiki oleng kekiri, dan kekanan.
" kau yang memilih jalan ini sayang, maka aku setuju denganmu. let's die together honey "
" VARA...... " mata ku membulat ketika sebuah mobil berada didepan kami
dengan sentakan kasar aku membanting stir kekanan hingga membuat mobil kami melaju bebas tanpa arah dan berhenti karena bagian depan kap mobil membentur keras batang kokoh sebuah pohon dengan diiringi suara dentuman keras
tes tes tes
dapat kurasakan keningku basah oleh darah yang mengucur menyusuri lekuk wajahku. asap mengepul dari depan hingga ikut masuk ke ruang mobil walau aku tidak bisa melihat dengan jelas karena pandanganku mulai kabur. aku mencoba membuka kembali mataku untuk melihat kondisi vara yang tidak kalah parah dariku.
perlahan aku menutup mataku diiringi bayangan lufita yang tersenyum " aku sayang kamu bang za " kata terakhir yang dapat kutangkap dari bayangan lufita sebelum aku mataku tertutup rapat.
jika goresan pena takdir masih memberiku kesempatan, aku ingin memelukmu saat ini. semoga kamu baik baik saja fi