LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
DUKA



pagi pagi begini aku udah duduk didepan meja rias, ntah kenapa aku ingin memoleskan bedak dan lipstik yang sudah lama aku lupakan. aku terus menatap diriku dicermin dengan senyum yang terukir dibibirku tanpa kusadari ternyata fahriza masuk ke kamar.


 


" saya mau kekantor bentar, ada berkas yang mau saya ambil" ujarnya membuyarkan lamunanku.


 


"kenapa nggak suruh asisten kamu aja?" tanyaku.


"dia lagi sakit" balasnya pelan


aku juga tidak tau kenapa hari ini fahriza meminta izin padaku untuk keluar, biasanya kemanapun dia pergi dia nggak pernah memberitahuku. setelah mengambil ponselnya diatas meja samping kasur, fahriza langsung keluar. tapi tak lama dia kembali lagi mendekati ku dan CUP


 


fahriza mengecup keningku lalu pergi meninggalkan aku dengan jantung yang mulai berkontraksi. aku nggak tau kenapa akhir akhir ini dia sering melakukan hal hal yang romantis padaku.


fahriza yang aku kenal adalah manusia kutub yang selalu dingin, bahkan untuk menatap diriku saja dapat dihitung setiap harinya. tapi kini dia benar benar berubah menjadi sosok yang hangat dan perhatian.


dari pada terus memikirkan hal itu bisa bisa aku kena aku sesak nafas sendiri, lebih baik aku kedapur sekarang. dan besok aku akan kembali pada aktivitas rutinku


"masak apa ya buat makan siang nanti" gumamku sambil memilih sayuran yang ada di dalam kulkas


oh iya mama udah jalan on the way kesini belum ya, buru buru aku mengambil ponsel yang berada didalam saku baju ku


"ma, berangkat kesininya jam berapa?" tanyaku pada mama melalui wa.


tuiinggg...


tak lama ponsel ku berdering tanda pesan wa masuk hemh cepet juga mama balasnya.


 


" *iya nak, ini udah mau jalan*" balas mama


 


setelah membaca pesan dari mama aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. arloji ku menunjukkan pukul 9.56 yah lumayan lah buat masak.


 


dengan cepat aku memutar otakku memikirkan makanan yang akan aku pilih untuk menu makan siang kami. akhirnya pilihan ku jatuh pada sup sayur, gulai pedas ikan, semur tahu, dan perkedel udang dengan jagung.


kalau kalian berfikir aku manja seratus persen kalian benar aku memang manja dengan papa sama mama tapi walau pun aku anak yang manja aku tak lupa kalau aku seorang wanita yang harus bisa masak. jadi waktu dulu kalau aku pulang kuliahnya awal aku yang selalu masak, dibantu sama bik surti dan mama yang memotong sayur dan yang lain nah urusan masukin bumbu dan lainnya aku yang tangani.


 


hemh nggak semua perempuan suka masak sih, tapi bagiku kalau kita perempuan bisa masak itu merupakan nilai plus depan mertua nanti. dan itung itung ngehemat biaya lah dari pada ntar udah nikah makan diluar mulu, kan sayang tuh duit mending dibeliin bahan masakan nah kalau kelebihan simpen dikulkas.


oh iya hari ini kan mertuaku juga mau kesini jadi harus masak banyak nih tapi mereka kesini jam berapa ya, takut kalau ntar mereka datang makanan belom siap.


 


dengan sigap aku langsung memasukakn bumbu dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan bahan bahan yang lainnya.


 


••••••••••


 


huh...... hampir satu jam bergelut di dapur super duper capek. dan sekarang aku lagi menggu sup matang sekitar 7 menit lagi lah.


fahriza yang sudah kembali sekitar 20 menit yang lalu kini duduk dimeja makan sambil terus mengetikan sesuatu di laptopnya entah apa yang ia kerjakan. sesekali aku mencuri pandang padanya yang terus fokus dengan pekerjaan nya itu. dan lebih parahnya dia beberapa kali memergoki ku yang menatapnya.


aku nggak tau apa yang terjadi denganku akhir akhir ini,aku suka sekali memandangi wajah fahriza yang tampan itu.


 


iya iya sekarang aku akui kalau dia memang sangat tampan. terserah kalian sekarang mau bilang aku apa, tapi yang pasti aku nggak mau jatuh cinta sama dia. cinta dan sayang ku cuma untuk bang ija.


setelah selesai masak aku juga membersihkan perabot yang kotor tadi, tak lama aku mencuci piring tiba tiba ponsel ku berdering.


 


dengan posisi tangan yang masih dipenuhi oleh busa pembersih piring, aku kesulitan mengambil ponsel yang berada di saku bajuku.


 


"tolong ambilin ponselku dong tanganku licin nih" pinta ku pada fahriza, dia kemudian berdiri dan mengikuti perintahku setelah dia mengangkat telpon dia langsung meletakkan ponsel ditelinga ku dengan masih dipegang olehnya. aku bukannya nggak bisa nangkat sendiri tapi nanggung banget.


" hallo assalammualaikum" sapa ku pada si penelpon.


" waalaikumsalam, Dok bisa tolong kerumah sakit sekarang,ada pasien kecelakaan?"


" loh bukannya hari ini tugasnya dokter nayra?" tanya ku pada perawat rumah sakit yang menelponku.


 


"iya dok, tapi tadi pagi dokter nayra baru minta cuti, dia harus pulang ke surabaya"


 


"baiklah, saya kerumah sakit sekarang. suruh dokter yang ada disana untuk menanganinya lebih dulu saya akan segera tiba dan terus hubungi saya jika terjadi keadaan darurat."


"baik dok"


setelah menutup telpon dari perawat rumah sakit tadi, aku langsung menghentikan kegiatan ku dan meraih ponselku dari tangan fahriza.


" bisa antar saya kerumah sakit bentar, soalnya kalau pakai motor tiba disana agak lama keadaan pasien sedang darurat" tanyaku pada fahriza yang dibalasnya dengan anggukan kepala. dengan sedikit berlari aku menuju garasi entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. aku takut sesuatu terjadi dengan pasien itu.


setelah sekian lama di jalan akhirnya kami sampai dirumah sakit. dari tadi suster lia terus menelfonku karena keadaan kedua pasiennya tambah buruk, setelah memberikan beberapa instruksi pada suster lia yang menelfonku aku makin tidak tenang perasaan ku benar benar gelisah, aku terus memikirkan pasienku.


 


dengan berlari aku masuk kerumah sakit dan menuju IGD di lorong ku lihat dokter dimas juga berjalan kearah yang sama, pasien nya pasti parah banget karena ku lihat dokter dan suster silih berganti masuk ke sana saat aku sudah masuk ke IGD.


pekikku tertahan kurasa jantungku berhenti berdetak, tubuhkuu tiba tiba kaku. rasanya aku tak sanggup berjalan meliat kedua pasien itu.


pasien yang ada di hadapanku sekarang adalah dua orang yang aku sayangi, yang merawatku dari aku lahir. mataku rasanya tak sanggup lagi membendendung air yang ingin tumpah ini.


dengan tegar aku berlari kearah mama dan papa aku harus yakin mereka pasti baik baik saja" cepat bawa mereka keruang operasi" perintahku dengan para suster disana.


ketika kedua brankar akan didorong tiba tiba saja tubuh mama bergetar diikuti cairan merah keluar dari mulutnya.


dengan cepat aku mendekatinya dan memeriksa mama, sekarang aku benar benar panik dan takut. tidak aku tidak boleh menyerah aku memberikan CPR¹ pada mama


namun Allah berkehendak lain. mama tiada setelah tubuhnya mengalami kontraksi tadi.


 


tubuhku rasanya ingin ambruk seketika namun salah satu suster menahan tubuhku.


 


papa sudah dibawa lebih dulu keruang operasi setelah mendapat perintah dariku, dokter dimas yang menanganinya.


 


"tolong bersihkan darah pada wajah mama" ujarku pada suster sekaligus membuat mereka kaget.


"maksud dokter, mereka...."


 


tanpa menunggu lanjutan pertanyaan suster disana aku berlari menuju ruang operasi.


disana terlihat dokter dimas sedang melakukan tindakan operasi pada papa tapi tak lama garis bedside monitor menjadi lurus.


dengan cepat aku mengambil lead defibrilator dan menempelkannya pada papa.


aku tak mau kehilangan papa, aku tak mau hari ini aku kehilangan dua orang tersayangku. aku nggak mau hari ini aku kehilangan semangat hidupku.


 


dengan panik bercampur takut aku masih menempelkan lead pada dada papa dan hasilnya nihil papa sudah tidak bergerak lagi tubuhnya benar benar kaku.


 


kali ini kurasakan kaki ku tak mampu lagi menopang. hari ini adalah hari terburukku, hari ini sang pencipta benar benar membuatku juga ikut tiada. air mataku pecah disana, saat tubuhku ingin ambruk dengan cepat dokter dimas menahanku.


"ya Allah kenapa kau lakukan ini padaku."


CPR(cardio pulmonary resuscitation) adalah teknik kompresi dada dan pemberiam nafas buatan.